Foto: Presiden Sukarno berpeci hitam saat menerima hadiah sebilah keris dari Raja Gowa ketika berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan, 28 Juli 1950 (ANRI)
Jumat, 12 April 2024Suatu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1950-an, Presiden Sukarno bertemu dengan Roeslan Abdulgani, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Sukarno menyampaikan kepada Cak Roes, sapaan akrab Roeslan Abdulgani, bahwa dirinya membutuhkan uang untuk kebutuhan sangat penting.
“Cak, kamu telepon Anang Tayib, bilang kalau saya tidak punya uang,” kata Bung Karno kepada Cak Roes dalam pertemuan tersebut.
Anang Tayib adalah keponakan Roeslan Abdulgani yang menjadi pengusaha peci terkenal di Gresik, Jawa Timur. Sukarno mengenal Anang karena selalu menggunakan peci merek ‘Kuda Mas’ buatan perusahaan milik Anang.
Saat itu, Roeslan meminta sebuah peci yang pernah dipakai Sukarno untuk dilelang Anang agar bisa mendapatkan uang dengan cepat. “Laku berapa Cak?” tanya Sukarno. “Sudahlah, serahkan saja soal itu ke saya. Sing penting rak beres tho? (yang penting kan beres),” jawab Cak Roes singkat.
Tak lama kemudian, Roeslan menyampaikan pesan Bung Karno yang tengah membutuhkan uang kepada Anang, seraya menyerahkan sebuah peci milik orang nomor satu di Republik Indonesia tersebut. Anang menyanggupi permintaan Bung Karno dan pamannya itu dan segera melelang peci itu.
Para pengusaha di Gresik dan Surabaya ternyata antusias untuk mengikuti lelang peci milik Bung Karno. Yang lebih mengejutkan Roeslan, ternyata keponakannya itu melelang 3 buah peci, bukan 1 peci Sukarno yang telah diserahkan kepada Anang.

Presiden Sukarno dengan peci hitamnya
Foto: IPPHOS/ANRI
“Saudara-saudara, sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai oleh Bung Karno. Tetapi saya sudah tidak tahu lagi mana yang asli. Yang penting, ikhlas atau tidak?” ucap Anang kepada para pengusaha di Jawa Timur tersebut. Mereka lantas menjawa serempak, “Ikhlaaaaas…..”. Lantas Anang pun mengucapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah."
Singkat cerita dari lelang peci itu terjual dengan nilai Rp 10 juta. Tentu saja nilai uang sejumlah itu di masa itu cukup besar. “Aslinya kan satu?” tanya Roeslan kepada Anang.
“Iya, yang dua itu rencananya akan saya kirimkan ke Bung Karno,” jawab Anang.
“Tapi kok elek-elek kabeh (jelek semuanya), Nang?” tanya Roeslan lagi.
Saya nanti kalau meninggal, makam saya harus seperti makam Sunan Ampel."
“Memang saya bikin supaya kelihatan jelek. Peci itu saya ludahi, saya kasih air, saya kasih minyak, pokoknya agar peci-peci itu sudah pernah dipakai Bung Karno,” jelas Anang.
“Kurang ajar kamu, Nang! Kamu kan membohongi orang banyak namanya,” tegas sang paman.
"Kalau tidak begitu, mana mungkin dapat uang banyak,” ucap Anang terkekeh-kekeh.
Beberapa hari kemudian, uang sebanyak Rp 10 juta itu dibawa Roeslan kepada Sukarno. Tentu saja Sukarno terkejut dengan uang yang banyak sekali jumlahnya, padahal dia menyerahkan satu peci yang bekas dipakainya lama sekali.
“Cak, kok banyak sekali dapatnya?” tanya Sukarno.
“Itu semua muslihatnya Anang, Bung,” jawab Roeslan.
“Tipu muslihat bagaimana, Cak?” tanya Sukarno penasaran. Lalu Roeslan secara singkat menceritakan semua yang dilakukan keponakannya itu dari awal hingga akhir.
“Kurang ajar, Anang! Kalau begitu, yang berdosa itu saya atau Anang, Cak?” ucap Sukarno dengan nada tinggi seraya balik bertanya lagi kepada Roeslan.
“Ya Anang,” jawab Roeslan. “Kalau begitu biarin aja,” ucap Sukarno yang tertawa.
Roeslan penasaran dan bertanya kepada Sukarno, uang sebesar itu digunakan untuk keperluan apa. Roeslan pun terhenyak ketika mendengar jawaban Sukarno. Ternyata sang proklamator dan Presiden RI pertama itu tengah ‘bokek’ alias tak punya uang untuk membayar zakat fitrahnya.
Sukarno pun meminta Roeslan untuk membawa uang untuk langsung dibagikan kepada orang miskin di makam Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur. Roeslan sempat bertanya dan usul kenapa uang Rp 10 juta itu tak diserahkan ke pengurus masjid saja.
“Ojo Cak! Soale pengurus masjid akeh sing korupsi (Jangan! Soalnya banyak pengurus masjid yang korupsi,” kata Sukarno.
Ketika Roeslan bertanya kenapa zakat fitrah Sukarno dibagikan kepada orang miskin di makam Sunan Giri, tidak ditempat lainnya. Sukarno menjelaskan bahwa Sunan Giri merupakan seorang ulama besar yang dikenal sangat nasionalis. Sukarno pun sempat mengatakan begitu kurang sreg dengan bentuk makam Sunan Giri yang dinilainya megah, tidak seperti makam Sunan Ampel yang sederhana.
“Saya nanti kalau meninggal, makam saya harus seperti makam Sunan Ampel,” ucap Sukarno.

Roeslan Abdulgani
Foto: Kemendikbud
Setelah itu Roeslan pun berangkat menuju makam Sunan Gresik untuk melaksanakan amanah dari Sukarno memberikan uang kepada orang-orang miskin yang ada di sana. “Saudara-saudara, ini zakat fitrahnya Bung Karno,” kata Roeslan yang langsung mendapat ucapan terima kasih dari mereka yang menerima uang zakat tersebut.
Kisah itu diceritakan kembali oleh Roeslan Abdulgani kepada Kadjat Adra’i, wartawan senior yang dikenal dekat dengan keluarga Sukarno. Cerita tertulis di dalam bukunya berjudul ‘Suka Duka Fatmawati Sukarno’ terbitan Yayasan Bung Karno pada 2008.
Sukarno sudah mulai memakai peci hitam (songkok) sejak di Bandung pada 1921, ketika memulai pendidikan dan ikut pergerakan di kota Bandung, Jawa Barat. Baginya, peci merupakan simbol kedekatannya dengan rakyat. Sukarno sering menyindir para kaum terpelajar yang secara halus sering merendahkan rakyat jelata.
“Orang-orang ini bodoh (kaum terpelajar--red) dan perlu belajar bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin rakyat banyak, jika tidak menjatuhkan diri dengan mereka. Sekalipun tidak seorang juga yang melakukan ini di antara kaum terpelajar, aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata,” kata Sukarno.
Hal itu dikatakan Sukarno dalam bukunya ‘‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’. Buku otobiografinya yang merupakan hasil wawancara panjang bersama jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams, pada 1961.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho