INTERMESO

Jangan Sombong dengan Jarak Tempuh Mobil Listrik

"Tahun lalu kita sudah berkali-kali touring ke Bali dan Jatim. Kita lihat hampir semua rest area sedang dalam pemasangan SPKLU."

Foto: Dok Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi)

Minggu, 07 April 2024

Setiap tahun, penjualan mobil listrik di Indonesia terus mengalami peningkatan. Mobil ramah lingkungan ini pun mulai banyak berseliweran di jalanan. Para pengguna mobil listrik tentu tak ingin melewatkan kesempatan mudik untuk memanfaatkan segala kecanggihan kendaraannya dalam perjalanan jarak jauh.

Populasi mobil listrik di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai angka 23.238 unit. Pemerintah menyatakan, sekitar 18% dari populasi itu, atau 4.000 unit, bakal digunakan untuk mudik 2024. Arwani Hidayat, Ketua Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi), optimis, pengguna mobil listrik, terutama untuk perjalanan luar kota, akan semakin bertambah dalam momen liburan Idul Fitri.

“Tahun lalu yang punya mobil listrik tidak sebanyak tahun ini. Selain itu masih banyak keraguan pemilik mobil listrik untuk ke luar kota. Tapi tahun ini sudah banyak keberanian dari pengguna mobil listrik. Karena makin banyak SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) dan jaraknya dekat-dekat,” kata kepala komunitas mobil listrik pertama di Indonesia ini.

Klub mobil listrik yang resmi dideklarasikan pada 23 Mei 2021 di Flavour Bliss, Alam Sutera, Tangerang, ini merangkul beragam pemilik kendaraan mobil listrik tanpa memandang merk. Mobil Hyundai Ioniq hingga Wuling Air Ev ada di sini. Mereka rutin menggelar kegiatan touring ke berbagai daerah di Jawa hingga Bali. Bagi anggota Koleksi yang kerap ke luar kandang, mudik dengan mobil listrik sudah tidak perlu khawatir lagi.

Sejak membeli mobil listrik, Arwani sendiri sering kali menguji Hyundai Kona EV keluaran 2021 miliknya di beberapa medan berat. Termasuk ketika menempuh perjalanan mudik dari Jakarta menuju Wonosobo tahun lalu. Pria berusia 50 tahun ini berhasil memacu kendaraannya melewati salah satu tanjakan ekstrem di Pulau Jawa, yaitu tanjakan Krakalan yang berada di jalur Bawang menuju Dieng.

Arwani Hidayat, Ketua Komunitas Mobil Elektrik Indonesia
Foto: Dok Pribadi

“Tanjakan itu hampir 40 Km nanjak terus. Sampai ada pos relawan yang jaga khusus untuk membantu kendaraan yang kesulitan nanjak. Mobil listrik sangat enteng lewat jalan itu,” ucap Arwani yang sudah dua kali road trip dari Jakarta ke Bali. Ia sengaja memilih jalur itu untuk memotong waktu tempuh. “Lewat situ dari Jakarta, Batang, Krakalan ke Wonosobo, efektif memotong waktu 3 jam dari pada lewat Pejagan, Purwokerto, Probolinggo baru ke Wonosobo.”

Demi menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang semakin baik pada mudik tahun ini, Koleksi berperan aktif sebagai mitra pemerintah dalam proses perbaikan dan pemutakhiran regulasi serta kebijakan terkait kendaraan listrik. Koleksi bersinergi dengan pemerintah dan PLN dalam menentukan titik SPKLU baru untuk memperlancar pengisian daya di jalur mudik. Saat ini sudah disiapkan 1.299 SPKLU di 897 tempat. Sebanyak 175 di antaranya merupakan SPKLU baru.

“Jelang lebaran kami diminta memberi masukan di mana titik poin pemasangan SPKLU. Sekitar 90% SPKLU yang sudah terpasang kita beri usulannya. Tahun lalu kita sudah berkali-kali touring ke Bali dan Jatim, kita lihat hampir semua rest area sedang dalam pemasangan SPKLU. H-7 mudik sudah bisa operate,” kata pria yang bekerja di Badan Legislasi DPR RI ini.

VP Pengendalian Operasi Sistem Ketenagalistrikan PLN Nurdin Pabi dalam konferensi pers di Kantor BPH Migas, Jakarta, Rabu, 3 April 2024, mengatakan, SPKLU yang disediakan umumnya berjarak sekitar 23 kilometer satu sama lain. Jarak itu dinilai cukup karena rata-rata jarak tempuh kendaraan listrik mencapai 300-350 kilometer. Jenis SPKLU yang tersedia mulai dari ultra fast chargermedium charger, hingga slow charger. Sementara untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak, PLN juga telah menyediakan lima unit SPKLU keliling di jalur mudik Jawa Tengah dan Jawa Barat.

“SPKLU baru itu dominan di jalan tol, untuk antisiapasi pelaksanaan mudik ini jangan sampai masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik was-was karena habis energi di tengah jalan," ungkap Nurdin.

Selain itu, Koleksi juga menjalin diskusi dengan PT Jasa Marga sebagai pemegang otoritas jalan tol di Indonesia terkait mitigasi kecelakaan yang melibatkan kendaraan listrik dan pemantauan penggunaan SPKLU. Pemanfaatan teknologi mutakhir mobil listrik harus diiringi dengan kedisiplinan penggunannya dalam memanfaatkan fasilitas umum.

“Pengguna mobil listrik nyawanya ada di charging. Jangan sampai kita tidak boleh masuk rest area dengan alasan penuh. Padahal di sana ada slot charging tapi dipakai mobil lain untuk parkir. Kalau kita sampai mogok di jalan, kan, menggangu lalu lintas,” ucap Arwani yang tahun ini memilih rencana mudik dua minggu setelah hari lebaran.

Salah satu agenda touring Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi)
Foto: Dok Koleksi

Dalam hal konsumsi dan pemanfaatan energi listrik, setiap pengemudi pasti berbeda-beda. Fitur yang disematkan pada mobil listrik memang dapat membantu efesiensi energi. Namun, kembali lagi tergantung bagaimana cara pengemudi mengaturnya. Semakin intens kendaraannya digunakan, maka presentase baterai akan cepat turun. Arwani menyarankan pengguna baru mobil listrik yang hendak mudik untuk melakukan manajement trip. Posisi stasiun pengisian daya listrik dan jarak tempuh wajib diperhitungkan.

“kita sampaikan kepada kawan-kawan jangan sombong dengan jarak tempuh mobil Anda yang jauh. Nanti anda mencari charger di kilometer 400, tapi kalau di sana antri atau penuh bagaimana? Saran saya setiap 100 Km ada charger kosong langsung dipakai aja buat nambahin daya walaupun hanya 20 menit,” katanya. Hal ini dilakukan agar mobil siap dalam mengadapi situasi apapun, termasuk kemacetan yang tidak terduga di depan.

Keberadaan komunitas mobil listrik juga berperan dalam memberikan edukasi kepada pengguna yang masih awam dengan kehadiran teknologi baru ini. Para anggota Koleksi yang terdiri dari 200 member aktif ini tidak sungkan saling membantu ketika anggota lain atau sesama pengguna mobil listrik di jalan tengah kesulitan. Apalagi sejumlah mobil listrik sudah dibekali dengan fitur vehicle to load (V2L). Fitur ini bisa memberikan kemudahan bagi para pemiliknya untuk mendapatkan sumber listrik dari mobilnya dan digunakan untuk keperluan perangkat elektronik lainnya.

“Di jalan tol, jika ada mobil listrik yang bermasalah, kalau sudah di komunitas ada rasa solidaritas dan kesetiakawanan. Misalkan ada kawan posting di grup sedang kehabisan daya. Dengan fitur V2L ini kita bisa transfer daya paling tidak 10% supaya bisa jalan untuk cari tempat SPKLU. Kalau bukan anggota komunitas, misalkan ada yang perlu dibantu pasti juga saya bantu,” tuturnya.

Selanjutnya sama seperti mobil lain pada umumnya. Sebelum membulai perjalanan mudik, pengendara harus memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik. Sempatkan waktu untuk memeriksa mesin, sistem kelistrikan dan ban serta bagian-bagian lainnya supaya perjalanan lancar dan aman.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE