INTERMESO

Mudik Pakai Mobil Listrik? Siapa takut

Sebanyak 4.000 unit mobil listrik akan dipakai untuk mudik 2024. Perjalanan mudik ini bukan hanya untuk luar kota tapi juga perjalanan lokal.

Foto : Dok Pribadi Aditya Wahyu Permana

Jumat, 5 April 2024

Mobil listrik Hyundai berwarna Midnight Black Pearl milik Aditya Wahyu Permana melesat di Tol Layang MBZ menuju ke arah Jawa Tengah. Keberadaan mobil listrik bertenaga baterai dengan desain futuristik ini sukses mencuri perhatian pengendara lain. Tak hanya penampilannya yang ciamik, teknologi yang tertanam di dalamnya pun begitu mumpuni dan canggih. Tak heran jika Aditya langsung jatuh cinta pada mobil pabrikan asal Korea Selatan ini.

“Ada mobil dengan harga lebih terjangkau tapi teknologinya seperti mobil mewah Eropa yang harganya di atas Rp 1 Miliar. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Itulah salah satu alasan mengapa akhirnya saya beli mobil ini,” ucap pria berusia 44 tahun ini kepada detikX.

Seperti ketika Aditya melintas di Tol MBZ maupun Tol Trans Jawa pada perjalanan mudik menuju Kota Surabaya tahun 2023 lalu, mobil listriknya dapat menangani permasalahan kontur jalan layang yang bergelombang dengan baik. Mobil tidak memantul keras. Di posisi penumpang, guncangan pun terasa minim. Sepanjang perjalanan, sistem peredaman kabin bisa meminimalisir suara-suara kendaraan dari luar.

Semenjak mengandangi kendaraan listrik, pria yang bekerja sebagai eksekutif muda di sebuah perusahaan penyedia asuransi jiwa ini semakin sering melakukan perjalanan jarak jauh. Momen liburan selalu ia manfaatkan untuk membawa keluarga membelah jalur Tol Trans Jawa hingga menyebrang ke Pulau Bali. Kegiatan pulang kampung di hari Idul Fitri menjadi salah satu kesempatan untuk menunggangi mobil yang rancangannya terinspirasi Hyundai Pony Concept tahun 1974 ini.

SPKLU di sebuah rest area
Foto : Dok Pribadi Aditya Wahyu Permana

Saya pengguna mobil listrik sejak tahun 2022. Di tahun 2024 ini sudah hampir 2 tahun. Dari mobil masih baru sampai sekarang sudah 52 ribu Km. Kalau dari kilometernya sudah kelihatan saya termasuk yang aktif. Teman-teman saya di kantor 52 ribu Km itu butuh 4 tahun.”

“Saya pengguna mobil listrik sejak tahun 2022. Di tahun 2024 ini sudah hampir 2 tahun. Dari mobil masih baru sampai sekarang sudah 52 ribu Km. Kalau dari kilometernya sudah kelihatan saya termasuk yang aktif. Teman-teman saya di kantor 52 ribu Km itu butuh 4 tahun,” ungkapnya.

“Saya membayangkan kalau pakai mobil bensin, butuh waktu 1 hari untuk recovery karena lelah banget. Semenjak pakai mobil listrik nggak lelah. Dipakainya nyaman,” kata pria yang tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan, ini.

Infrastruktur stasiun pengisian daya listrik yang belum memadai kerap menjadikan alasan pengguna mobil listrik tak berani memacu kendaraannya menempuh perjalanan panjang. Pada kesempatan mudik tahun lalu, Aditya tidak begitu terkendala dengan aktivitas mengecas baterai. Daya jelajah mobilnya yang bervarian long range ini mencapai 451 hingga 481 Km. Di atas kertas, daya jelajah itu cukup untuk menggeber Jakarta-Semarang hanya dengan sekali ngecas. Namun, pada perjalanan mudik tahun lalu menuju Surabaya, Aditya berhenti untuk mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sebanyak tiga kali.

“Nggak mungkin kita nyetir 400 km itu nonstop. Anjuran pemerintah tiap 2-3 jam istirahat. Saya pakai acuan waktu instead of Km. kalau emang waktunya istirahat , itulah waktunya kita charger. Di planning makan siang atau makan malam pastikan tersedia tempat charge. Ketika kita makan, mobilnya juga makan,” tutur Aditya. Ia menempuh perjalanan mudik Jakarta-Surabaya selama 10 jam. Kurang lebih sama dengan mobil konvensional pada umumnya.

Aditya menempuh perjalanan mudik tanpa khawatir mengalami range anxiety. Tahun lalu, SPKLU fast charging maupun ultra fast charging dengan arus Direct Charging atau DC sudah tersedia di berbagai titik rest area. Pengisian ia lakukan dalam kondisi daya baterai tersisa 20% hingga 40%. Kondisi ini berbeda dengan perjalanan serupa di tahun 2022.

“Kalau dulu minusnya nggak banyak infrastrukturnya. Dulu kita yang ‘dikerjain’ sama mobil listrik. Mobil yang nge-drive kita untuk nge-charge di mana. Di Semarang kita sampai harus keluar tol buat ngecas. Kalau sekarang kita yang menentukan mau ngecas di mana dan makan apa karena sudah banyak pilihan,” katanya. Biaya yang dikeluarkan Aditya untuk mengisi daya listrik di perjalanan mudik ke Surabaya hingga kembali lagi ke Jakarta hanya memakan biaya sebesar Rp 500-600 ribu. Sementara dengan mobil bensin, ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 1,8-2 juta.

Di saat pengguna mobil listrik yang melintasi tol semakin banyak, antrean di SPKLU pun tidak dapat terelakan. “Makanya sekarang cenderungnya penuh SPKLU. Kalau musim liburan sudah mulai antre. Kalau lebaran malah lebih celaka, mau masuk rest area saja udah penuh, belum sampai ke mesin charger.”

Pemerintah memperkirakan, populasi mobil listrik saat ini yakni 23.238 unit. Sebanyak 18% dari populasi itu atau sekitar 4.000 unit akan dipakai untuk mudik 2024. Perjalanan mudik ini bukan hanya untuk luar kota tapi juga perjalanan lokal.

Aditya Wahyu Permana dan keluarga yang menggunakan mobil listrik saat mudik
Foto : Dok Pribadi

Sementara data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan murni kendaraan listrik pada 2023 mencapai 17.038 unit. Ini setara dengan 1,69 persen dari total penjualan mobil nasional 2023 yang sebanyak 1.005.802 unit.

Pengguna mobil listrik juga tak perlu khawatir sebab ada penambahan SPKLU. Saat ini ada sebanyak 1.299 SPKLU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, baik yang dikelola oleh PLN maupun mitra perusahaan. Terdiri dari 899 SPKLU berada di Pulau Jawa, 152 SPKLU di Sumatera, 55 SPKLU di Kalimantan, 64 SPKLU di Sulawesi, 87 SPKLU di Bali, 8 SPKLU di Maluku, 27 SPKLU di Nusa Tenggara, 7 SPKLU di Papua.

Dirut PT PLN, Edi Srimulyanti, dalam sebuah konferensi pers di Gedung Kemenko Marvest, Kamis, 4 April 2024, menerangkan, PLN juga telah menyediakan tiga unit SPKLU mobile. Hal ini disiapkan untuk mengantisipasi penumpukan antrean saat pengisian baterai. Selain itu akan disediakan petugas jaga 24 jam untuk membantu pengisian baterai.

"Kami sudah menyediakan tiga unit SPKLU mobile yang mana nanti untuk mengantisipasi kalau ada tumpukan antrean nanti bisa telepon hotline PLN sehingga kami bisa kirim yang mobile," tuturnya.

Pengemudi mobil listrik tidak hanya sekedar butuh intelegensi dalam memanfaatkan kecanggihan kendaraan baru ini. Tapi mereka juga harus memberi perhatian khusus ketika menggunakan fasilitas umum seperti alat pengisian daya listrik. Aditya kerap menemui pengguna mobil listrik yang menggunakan fasilitas itu secara tidak bertanggung jawab. Alhasil perjalanan pengemudi lain ikut terganggu.

“Misalnya sudah penuh, mobilnya nggak dipindahin. Atau suda tahu antrian panjang, malah nunggu sampai 100%. Padahal 80-90% aja udah cukup, Saya rata-rata cuma 90%. Kalau nunggu  100 % bisa 30 menit sendiri karena dayanya mengecil. Yang lebih parah, mobil bensin parkir di area charge mobil listrik,” ungkapnya. Pengendara mobil listrik memang diimbau untuk melakukan pengisian maksimum hingga 80-90%. Pada beberapa model mobil listrik, pengisian daya penuh hingga 100 persen malah bisa membuat baterai cepat rusak.

Aditya berharap para penggunannya tidak hanya tahu cara memperlakukan mobil listriknya saja. “Percuma bangun banyak SPKLU kalau tidak diimbangi dengan etika dalam penggunaan. Jadi tempat parkir doang, nanti pengguna lain nggak bisa menggunakan fasilitas yang sudah diinvestasikan mahal sama PLN kan,” tandasnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE