Foto: Suasana di pasar takjil Bendungan Hilir, Jakarta Pusat (Ari Saputra/detikcom)
Minggu, 24 Maret 2024Konon katanya, pukul 15.00 merupakan waktu kritis berpuasa. Rasa lemas dan lapar pun turut menggelayuti Ayu Khamal. Perempuan berusia 27 tahun ini sudah tidak lagi konsen dengan setumpuk kerjaannya. Seketika Ayu teringat dengan pedagang es akuarium yang tidak jadi ia beli kemarin. Pedagang itu berjualan di Pasar Takjil Bendungan Hilir alias Benhil, Jakarta Pusat. Kebetulan kantor Ayu hanya berjarak sejauh 1 km dari pusat takjil legendaris itu.
Es akuarium belakangan viral karena menyajikan berbagai macam es dengan wadah kaca menyerupai akuarium ikan. Berbagai varian es mereka jual, mulai dari es rasa buah, kopyor, taro hingga cappuccino cincau. Warna warni minuman dingin ini sungguh dapat menggoyahkan iman. Penjual tinggal menciduk minuman dari dalam akuarium sesuai pesanan pembeli.
“Karena jenisnya banyak, tiap hari aku coba-coba rasa yang beda. Tapi kemarin aku lagi ngidam banget sama es kopyornya. Gara-gara telat sedikit saja sudah habis kopyornya,” ucap Ayu kepada detikX beberapa waktu lalu. Satu porsi es yang dibungkus plastik dijual dengan harga Rp 6 ribu saja. Harga murah dan porsi melimpah membuat es akuarium menjadi primadona di masa puasa. Dengan harga semurah itu, tentu saja tidak menggunakan kelapa kopyor sungguhan. “Bikinnya pakai agar-agar tapi katanya rasanya mirip sama kopyor beneran. Makanya aku penasaran.”

Pasar Takjil di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
Foto: Ari Saputra/detikcom
Di Pasar Benhil, bukan cuma es akuarium saja yang laris. Hampir setiap tenda penjaja kudapan berbuka puasa laris diserbu pembeli. Mendekati jam berbuka puasa, area ini selalu menjadi biang keladi penyebab macet. Di minggu kedua puasa, Pasar Benhil semakin ramai dikunjungi. Tren berburu takjil di sosial media turut menjadikan Pasar Benhil sebagai tempat tujuan para content creator membuat konten sekaligus berburu takjil.
“Enaknya di sini semua serba ada. Mau yang berat ada, jajanan pasar lengkap, es juga banyak. Saking banyaknya pilihan, kadang sampai bingung, hari ini mau buka puasa pakai apa, ya,” kata Ayu.
Kali ini, Ayu tidak ingin lagi ketinggalan. Pukul 16.00, Ayu dan teman kantornya segera pergi ke lokasi. Sebelumnya, Ayu sudah membuat strategi, lapak mana yang terlebih dahulu harus ia kunjungi. “Akhirnya dapet juga ini es kopyor sama beli kue lopis, bakwan dan lemper. Murah ini lemper satunya cuma Rp 2.500 aja,” tutur Ayu. Ia pulang dengan hati senang sambil menggengam beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.
Ketimbang hiruk pikuk Pasar Benhil, Muhammad Rozi Aditya memilih untuk melipir ke tempat yang lebih lenggang. Sebagai anak kos yang sudah tiga tahun merantau di Jakarta, Rozi mengincar tempat-tempat yang menyediakan takjil gratis. Masjid di dekat kosannya menjadi salah satu tempat berburu takjil gratis.

Ramainya pasar takjil Bendungan Hilir menjelang buka puasa
Foto: Ari Saputra/detikcom
Di masjid yang berada di tengah pemukiman daerah Jakarta Barat ini, Rozi tidak perlu berebut jatah berbuka puasa karena semua jemaah pasti kebagian. Menjelang adzan maghrib, pengurus masjid mulai membagikan kotak makanan kepada masing-masing jemaah. Menu hari itu adalah nasi uduk lengkap dengan telur dadar, bakwan dan kerupuk.
“Kemarin ada ayam goreng sama nasi, terus pernah kebagian mie goreng sama capcay. Menunya enak-enak dan yang paling penting gratis,” tutur mahasiswa semester empat, jurusan ekonomi di salah satu universitas swasta di Jakarta Barat. Selama bulan puasa, total sudah empat kali Rozi numpang berbuka puasa di sana. “Habis buka puasa bisa langsung ikut jemaah salat magrib jadi praktis.”
Bagi anak kos sekaligus anak rantau, takjil gratis ini menjadi salah satu cara jitu dalam mengirit jatah bulanan. Uang yang seharusnya digunakan untuk berbuka puasa ia alihkan untuk membeli makanan sahur. Selama dua minggu berpuasa, Rozi konsisten mengandalkan takjil gratis sebagai menu berbuka puasa. “Sesekali aja keluar uang buat beli takjil yang saya kepengin, kayak kolak sama bubur sumsum,” ungkap Rozi.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho