Foto: Pekerja yang sudah terlihat lanjut usia di Bandara Changi (Changi Airport)
Minggu, 17 Maret 2024Begitu mendarat di Bandar Udara Internasional Changi, Singapura, wisatawan Indonesia yang baru pertama kali berkunjung ke sana akan menemukan pemandangan tak biasa. Di sana warga Singapura yang berusia lanjut masih aktif bekerja. Sebagian di antara mereka terlihat mengenakan seragam petugas kebersihan. Tidak hanya di bandara, para manula ini juga bekerja sebagai pramusaji di restoran, petugas informasi di stasiun, hingga menjadi petugas keamanan.
Ini menjadi pemandangan tidak lazim bagi pelancong dari Indonesia karena kebanyakan para orang tua seusia mereka sudah tidak lagi bekerja dan tinggal menikmati masa pensiun. Mereka bekerja bukan karena tidak punya uang lalu terpaksa mencari kerja di usia lanjut. Banyak di antara mereka yang bekerja karena mengisi waktu luang dan ingin menyalurkan bakat sembari bersosialisasi dengan teman kerja. Selagi masih sehat dan bisa mencari tambahan uang pensiun, kenapa tidak? Mereka dibayar, diperlakukan secara layak dan punya pilihan untuk berhenti kapan saja.
Fenomena ini bisa terjadi berkat dukungan yang diberikan pemerintah Singapura dengan membuat aturan untuk mendukung lansia tetap produktif. Pemerintah Singapura juga baru saja menaikkan usia pensiun menjadi 63 tahun dan usia bekerja kembali menjadi 68 tahun pada Juli 2022. Pada 2030, rencananya pemerintah akan menaikkan kembali usia pensiun menjadi 65 tahun dan usia bekerja kembali menjadi 70 tahun.
Syarat untuk karyawan yang mendapat hak dipekerjakan kembali adalah warga negara Singapura dan penduduk tetap yang memiliki prestasi kerja memuaskan, serta secara medis sehat. Selain itu bagi karyawan yang baru direkrut oleh perusahaan terbaru setelah berusia 55 tahun juga harus bekerja pada perusahaan barunya minimal selama dua tahun sebelum mencapai usia pensiun agar memenuhi syarat.

Manula di Singapura bekerja di sebuah restoran di Bandara Changi
Foto: Muhammad Idris/detikcom
Langkah tersebut merupakan bagian dari rekomendasi yang dibuat oleh Kelompok Kerja Tripartit untuk Pekerja Lanjut Usia yang dibentuk pada Mei 2018, untuk memperkuat dukungan bagi pekerja lanjut usia. Menurut statistik resmi, pada Juni 2023, warga berusia 65 tahun keatas di negara ini jumlahnya mencapai hampir 20 persen.
“Lebih dari sembilan dari 10 pekerja senior yang memenuhi syarat dan ingin terus bekerja ditawari pekerjaan kembali pada tahun 2023. Untuk memastikan bahwa kenaikan berikutnya dapat dilaksanakan dengan lancar, saya mendorong pengusaha untuk memulai perencanaan sejak dini,” kata Gan Siow Huang, Menteri Negara Tenaga Kerja Singapura, seperti dikutip Channel News Asia.
***
Warga Australia tidak memiliki aturan resmi kapan mereka harus berhenti bekerja. Di usianya yang ke-70, Angele Setyana, seorang wanita asal Indonesia yang menetap di Melbourne, masih bekerja di bagian quality control di Australia Post.
"Di tempat kerja saya ini saya sudah bekerja selama 13 tahun dan sebelumnya dalam jenis pekerjaan yang hampir sama di sebuah perusahaan percetakan saya bekerja selama 10 tahun," kata Angele, dikutip dari ABC Australia. "Pekerjaan saya banyak berhubungan dengan produksi barang-barang pos seperti perangko, koin jadi. Saya bekerja di bagian untuk mengawasi produksi barang-barang tersebut mengecek apakah ada kesalahan atau tidak dalam produksi dan juga pengiriman.”
Ia tiba di Australia sembari mengikuti suaminya Oska Setyana yang bekerja di Radio Australia. Angele meninggalkan karirnya sebagai guru sekolah taman kanak-kanak di Indonesia. Setibanya di negara kangguru itu, Angele tidak langsung bekerja karena harus mengurusi anak yang masih kecil. Ia baru mulai bekerja lagi setelah usianya menginjak 45 tahun. Kini, setelah dikaruniai empat orang anak dan dua cucu, ia mengaku masih menikmati pekerjaannya dan belum memutuskan kapan akan betul-betul berhenti bekerja.

Ilustrasi suasana Kota Melbourne
Foto: Tamara Alessia/d'TRaveller
"Sampai saat ini masih senang kerja. Ya, dinikmati dulu. Di tempat saya bekerja ada teman yang sudah berusia 73 tahun," ujarnya yang pertama kali tiba di Australia pada tahun 1983. Angele belum memikirkan secara matang kapan dirinya akan berhenti bekerja. “Asal badan sehat dan suasana kerja juga cukup menyenangkan, teman bisa diajak bekerja sama.”
Walau masih bekerja 'full time' di usianya saat ini, Angele mengaku keluarga masih menjadi perhatian utamanya. :Beruntung bos di kantor saya cukup mengerti dan selalu memberikan izin bila ada keperluan untuk keluarga," katanya.
Di Indonesia, berdasarkan data Trading Economics, usia pensiun tergolong paling muda di antara negara G20 lainnya. Italia merupakan negara dengan usia pensiun tertua di negara G20, yaitu baik perempuan dan laki-laki 68 tahun. Posisinya diikuti oleh Belanda, Australia, Amerika Serikat, Spanyol, dan Inggris yang memiliki usia pensiun rerata di atas 66 tahun. Di atas Indonesia, ada Turki, Korea Selatan, Arab Saudi, India, dan Tiongkok yang memiliki rerata usia pensiun di rentang usia 55-60 tahun.
Sementara di Indonesia, ketentuan terkait usia pensiun diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2015 Pasal 15 ayat 1-3. Dengan merujuk aturan tersebut, maka batas usia pensiun di Indonesia adalah 58 tahun dengan batas maksimum usia pensiun yaitu 65 tahun.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho