Foto: Ilustrasi Seoul Tower di Korea Selatan (Virgina Maulita Putri/detikcom)
Minggu, 10 Maret 2024Dengan langkah kaki gontai Silvia Magdalena berjalan keluar dari kantor Korea Visa Application Center (KVAC) yang terletak di Lotte Mall, Jakarta Selatan. Setelah hampir dua minggu Silvia menunggu, proses pengajuan visa liburan ke Korea Selatan miliknya ditolak mentah-mentah. Rencana perempuan berusia 28 tahun ini untuk melihat langsung RM, Jin, Jimin serta member boyband Bangtan Boys alias BTS gagal total.
“Visa aku ditolak karena katanya aku nggak bisa memberikan kejelasan tentang tujuan keberangkatan aku ke sana,” ucap Silvia menceritakan pengalamannya mengajukan visa secara mandiri tahun 2019 silam.
Dari informasi yang Silvia kumpulkan di internet dan sosial media, banyak orang mengeluhkan perihal proses pengajuan visa Korsel yang sulit. Bahkan ada yang menyamakan kesulitan pengajuan visa Korsel dan Amerika. Dibanding negara Asia lainnya, negara ginseng ini memang memiliki persyaratan yang lebih ketat dan rumit. Hallyu atau Korean Wave menjadi penyebab negara itu mengalami kenaikan jumlah wisatawan dalam beberapa dekade ini. Kebijakan persyaratan visa dibuat untuk menghindari orang asing masuk secara illegal.
“Banyak orang Indonesia yang jadi fans fanatiknya Korea. Tapi kalau kita mau berkunjung ke sana, visa kita tetep aja diribetin urusannya,” keluh Silvia.
Bagi Silvia yang tidak terbiasa dengan birokrasi administrasi, proses pengajuan visa secara mandiri memang menyulitkan dirinya. Silvia sudah melengkapi semua persyaratan demi mendapatkan visa. Silvia juga sudah memberikan bukti pembelian tiket pesawat dan hotel. Namun, pada saat itu, Silvia yang berniat menonton konser BTS belum mendapatkan tiket nonton.
-fbgkys.png)
Ilustrasi paspor Indonesia
Foto: Ari Saputra/detikcom
Tadinya, Silvia berencana ikut serta dalam konser BTS yang bertajuk ‘Love Yourself The Final’ pada 26-29 Oktober 2019 di Kota Seoul. Karena Silvia merupakan salah satu pemegang member ARMY Membership, ia berhak mengikuti raffle atau undian untuk mendapatkan slot pembelian tiket konser jelang akhir tahun ini. Sayangnya, tiket konser baru berhasil ia dapatkan dua hari pasca pengajuan visa.
“Aku buru-buru ngajuin visa karena takut prosesnya lama. Pas tahu kalau aku ditolak aku kecewa banget. Kalau aku mau ngajuin lagi katanya harus tunggu 3 bulan lagi. Sedangkan konsernya itu udah tinggal dua bulan lagi,” ungkap perempuan yang bekerja sebagai personal assistant di sebuah perusahaan swasta ini. “Untung tiket pesawat sama hotel bisa di-refund, jadi aku nggak nyesek-nyesek amat.”
Wulan, manajer di agen pengurusan visa bernama Jasavisaid di bawah naungan PT Global Prakarti Group juga mengungkap kesulitannya dalam mengurus visa berlibur ke Korea Selatan. Ketimbang Korea Selatan, Wulan dan timnya merasa lebih mudah memproses Visa Waiver Jepang.
“Komposisinya itu kalau Visa Waiver Jepang dari pengalaman kita malah 100 persen diterima,” ucapnya. PT Global Prakarti Group juga menyediakan layanan Travel Agency Bernama Traveling Luar Negeri dan Traveling Turki.

Ilustrasi visa schengen
Foto: Ari Saputra/detikcom
Klien yang menggunakan jasa agen pembuatan visa memiliki beragam alasan. Mulai dari mereka yang baru pertama kali liburan ke luar negeri dan orang-orang yang tidak memiliki waktu untuk menyiapkan persyaratan visa secara mandiri.
“Dokumen yang perlu disiapkan cukup banyak. Mulai dari rekening koran dan surat sponsor. Buat mereka yang malas dengan urusan dokumen birokrasi, bisa percayakan ke kami. Kita sudah punya banyak pengalaman menyiapkan dokumen untuk keperluan visa. Jadi lebih efesien dan cepat selesai,” ucap Wulan. Usaha yang bergerak di bidang perjalanan wisata dan pengurusan visa sudah berdiri sejak tahun 2017.
Untuk setiap pembuatan visa melalui agen timnya, Jasavisaid mengenakan tambahan biaya layanan jasa. Ongkos yang dikenakan tergantung negara tujuan dan tingkat kesulitan. “Untuk visa Schengen dan Korsel kita terrapin fee di Rp 300-500 ribu. Sedangkan visa Australia walaupun pengajuan secara online tapi karena dokumennya banyak, kita ambil margin sekitar 40 persen untuk fee-nya.”
Menyambut libur hari raya Idul Fitri, permintaan pengajuan visa mengalami peningkatan tajam. Jika pada hari biasa Wulan dan timnya hanya membuat 50 hingga 100 visa, saat ini ia sudah melayani 200 pembuatan visa ke berbagai negara di dunia. “Sebisa mungkin jangan apply dadakan. Tidak menutup kemungkinan proses pengerjaannya lebih lama dari pada biasanya,” katanya.
Jelang libur panjang, teror telepon dari klien yang menanyakan kabar visanya sudah jadi makanan sehari-hari. “Kalau sudah mepet biasanya akan kita sampaikan bahwa ini ada risk tidak keluar tepat waktu visanya. Kalau tamunya bersedia, ya, tidak masalah.”
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho