Ilustrasi perundungan (Foto: Getty Images/MoMorad)
Minggu, 25 Februari 2024Sudah hampir satu pekan Rachel, bukan nama sebenarnya, mengunci diri di dalam kamar. Rachel mengeluh tidak enak badan. Ibunya percaya saja dan lantas mengizinkan anak perempuan berusia 13 tahun itu untuk absen dari sekolah. Namun, kian lama, Ibu Rachel bertambah cemas. Terlalu lama Rachel meninggalkan sekolah, ia khawatir anaknya itu akan tertinggal pelajaran. Apalagi Rachel belum lama duduk di bangku SMP.
Masih lekat betul di ingatan Rachel ketika suatu pagi sang ibu memaksa dirinya berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan, Rachel hanya bisa merajuk dan menangis. Sayangnya, semua usaha Rachel untuk menghentikan ibunya sia-sia. Mata Rachel begitu sembab saat melihat ibunya berbalik dan pergi meninggalkannya.
“Waktu itu saya mati-matian nggak mau masuk sekolah. Saya takut ketemu teman-teman di kelas. Saya takut di-bully lagi sama mereka,” ucap Rachel dengan nada lirih. Ibu Rachel menitipkan anak semata wayangnya ke sekolah tanpa menyadari hal itu. “Saya nggak berani cerita soalnya saya nggak mau ngebebanin ibu.”
Di lingkungan sekolah, sebetulnya Rachel dikenal sebagai anak periang dan cerdas. Buku catatan miliknya kerap dijadikan acuan bagi anak-anak lain untuk belajar. Karena itu Rachel banyak disenangi oleh teman-teman sekelas. Tak sulit bagi Rachel untuk bergaul dengan teman baru.
Tapi dalam sekejab situasi itu berbalik arah. Kejadiannya bermula di sebuah ujian pelajaran Matematika. Rachel menolak memberikan contekan kepada teman sebangkunya yang merupakan seorang pentolan di antara siswi lainnya di kelas.
“Setiap kali ada ujian, tempat duduk kita selalu diacak. Kebetulan hari itu saya duduknya sama dia. Waktu saya nggak ngasih contekan dia marah banget sama saya,” kata perempuan asal Bandung ini.

Ilustrasi korban bullying
Foto : Getty Images/iStockphoto/gan chaonan
Sejak saat itu penderitaan Rachel di sekolah dimulai. Awalnya teman ujiannya itu berusaha mengucilkan Rachel. Entah bagaiman caranya, ia menghasut teman-teman di kelas untuk menjauhinya. Sekian lama, tidak ada satu orang pun yang berani menjadi teman Rachel. Tak puas sampai di situ, perundungan mulai dilancarkan secara verbal. Mulai dari fisik sampai kondisi Rachel yang yatim piatu, semua dijadikan bahan olok-olokan.
“Mereka sengaja nyari nama orang tua saya buat dijadiin bahan bercanda. Jujur saya sakit hati banget, tapi saya nggak berani melawan mereka, jadi saya cuma bisa diam saja diperlakukan kayak begitu,” ungkap Rachel.
Semakin hari kelakuan para bocah perundung itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya lewat kata, mereka bahkan berani melukai fisik. Saat jam pelajaran sekolah, Rachel pernah hampir pingsan saat anak perempuan itu melempar bola basket ke arahnya. Kacamata Rachel tidak terselamatkan. Ketika kembali ke kelas, bekal nasi goreng yang dibuatkan ibunya dengan sepenuh hati ditumpahkan oleh seseorang di kelasnya.
Anak remaja itu berpikir situasi akan kembali normal saat ia melaporkan kejadian ini kepada guru BK. Para pelaku perundungan ini ternyata hanya diminta menghadap untuk menerima teguran. Tindakan mereka tidak dianggap sebagai perundungan atau bullying melainkan hanya kenakalan anak-anak yang sudah biasa.
Kali ini, Rachel benar-benar merasa sendiri. Ia tidak memiliki tempat bersandar. Hari demi hari ia jalani bagaikan berjalan di dalam neraka. Tubuhnya yang mungil tidak mampu menahan tekanan mental yang luar biasa.
“Sebenarnya saya sempat ada niatan mau bunuh diri karena saya udah nggak kuat lagi. Setiap hari kerjaan saya cuma bisa sembunyi dan nangis di kamar mandi,” tutur Rachel sedih. Tapi niat itu selalu ia tahan karena tak tega melihat perjuangan sang ibu untuk menyekolahkannya di salah satu sekolah swasta di Bandung.
Perundungan itu memberikan dampak luar biasa bagi kehidupan Rachel. Meski kejadian itu sudah lama berlalu, Rachel masih belum bisa melupakannya. Beranjak dewasa, Rachel berubah menjadi gadis pemurung. Ia mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Akibatnya Rachel sulit menjalin hubungan dengan teman baru.
“Saya jadi punya trust issue dalam berteman, saya masih trauma. Jujur sampai sekarang saya masih susah membuka diri buat orang lain,” kata Rachel yang kini berusia 23 tahun.
Rachel hanya bisa meratapi musibah yang sudah lama berlalu. Ia hanya bisa menyesali teman yang ia anggap sahabat, ternyata malah menusuknya dari belakang. Ketika Rachel teramat membutuhkan bantuan, tidak ada satu pun temannya yang menolong. “Pesan saya buat kalian semua yang melihat teman lagi di-bully, jangan diam saja. Kalau kalian diam, sama saja kalian itulah pelakunya,” tuturnya.
Lembaga Pendidikan yang dipercaya para orang tua sebagai wadah untuk mendidik dan membimbing anak malah menjadi tempat terciptanya trauma. Dari tahun ke tahun, kasus bullying di satuan pendidikan, seperti yang dialami Rachel tidak pernah surut. Dari data yang dihimpun oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus bullying di lingkungan sekolah tercatat terjadi 226 kasus bullying pada tahun 2022. Lalu di tahun 2021 ada 53 kasus, dan tahun 2020 sebanyak 119 kasus. Sementara tahun 2021 menjadi tahun di mana sekolah memulai pembelajaran secara daring.

Ilustrasi para siswi di sekolah
Foto: iStock
Jenis bullying yang sering dialami korban adalah bullying fisik (55,5%), bullying verbal (29,3%), dan bullying psikologis (15,2%). Untuk tingkat jenjang pendidikan, siswa SD menjadi korban bullying terbanyak (26%), diikuti siswa SMP (25%), dan siswa SMA (18,75%).
Perundungan merupakan pintu masuk bagi berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi hingga aksi bunuh diri. Di tahun 2018, mantan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pernah mengungkapkan, sebanyak 40 persen anak-anak di Indonesia meninggal karena bunuh diri setelah menjadi korban perundungan.
Di awal tahun 2023, misalnya, publik dikejutkan dengan tewasnya seorang siswa SD berusia 11 tahun asal Banyuwangi, Jawa Timur. Ia menghabisi nyawanya dengan gantung diri karena diduga kerap mengalami perundungan dari teman-temannya. Siswa berinisial MR ini diduga mendapatkan perundungan di sekolah dan tempatnya mengaji karena tak memiliki ayah.
Pemerhati anak dan Pendidikan sekaligus Mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyari menyebut ketidakpekaan guru kelas dan lingkungan sekolah MR bisa menjadi faktor utama anak itu mengakhiri hidupnya.
"Kalau menyimak penjelasan pihak sekolah yang membantah ada pem-bully-an, padahal pihak keluarga menyatakan kalau anak korban kerap curhat pada ibunya karena di-bully, bahkan seringkali enggan berangkat ke sekolah. Maka hal itu menunjukkan bahwa guru kelas dan lingkungan sekolah anak korban tidak memiliki kepekaan terhadap anak didiknya," paparnya.
Kasus perundungan yang berujung pada hilangnya nyawa seorang anak adalah sebuah pembelajaran mahal. "Ketika anak mengadukan kekerasan atau pem-bully-an yang diterimanya, maka keluarga harus mendukungnya dan menanyakan anak apa yang dia butuhkan, peluk anak, dan katakan bahwa dia tidak sendirian," pungkasnya.
Penulis: Melisa
Editor: Irwan Nugroho