Foto: Ilustrasi pencoblosan di TPS (Ahmad Syauqi/detikJateng)
Sabtu, 17 Februari 2024Jelang diselenggarakan pemungutan suara Pemilihan Umum 2024 pada 14 Februari lalu, hujan deras kompak mengguyur sejumlah wilayah di Jakarta. Suara hantaman hujan, diiringi petir yang menyambar membuat Alya Nuraini semakin tidak bisa tidur. Perempuan berusia 17 tahun ini gelisah menyambut pemilu perdana yang akan ia jalani. Sebuah video di TikTok berjudul ‘Sosialisasi Tata Cara Memilih di TPS’ ia perhatikan dengan seksama.
“Sejujurnya aku nggak gitu ngerti politik dan nggak gitu ngikutin. Tapi yang aku takutin itu gimana alurnya? Terus nyoblosnya gimana? Mana aku kalau mikir suka lama, takut dilihatin orang-orang,” ucap perempuan yang saat ini tengah duduk di bangku 3 SMA salah satu sekolah swasta di Jakarta Barat.
Meski rasa khawatir menggelayut di pikiran Alya, ia tak ingin golput di pemilu pertama. Pukul 07.00 WIB, ibunya membangunkan Alya untuk segera berbenah. Penggemar BTS, boy group asal Korea Selatan ini tampak bersemangat untuk menggunakan hak pilihnya. Agar tampak rapi, ia sengaja mengenakan setelah kemeja dan celana jeans. Ia juga merapikan dan mengikat rambutnya. Alya berangkat menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) ditemani ayah, ibu dan kakak laki-lakinya.
Rumah Alya dan TPS terdaftar yang berada di Kelurahan Semanan, Jakarta Barat, ini hanya berjarak 300 meter. Sebuah lapangan bola dialihfungsikan menjadi TPS. Walaupun semalam hujan deras, beruntung TPS tempat Alya memilih tidak kebanjiran. Saat Alya tiba, sekerumunan warga sudah berkumpul di depan TPS. Alya dan keluarganya terlebih dahulu melakukan pendaftaran dengan memberikan KTP serta Formulir C6. Setelah itu ia diminta menunggu giliran bersama para tetangganya.

Ilustrasi surat suara
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
“Karena biasanya aku jarang ngumpul sama tetangga, jadinya aku dilihatin mereka. Rasanya canggung banget. Apalagi pas ketemu tetangga yang akrab sama mama. ‘Ini anak bontotnya ya bu? Kok baru kelihatan sekarang?” ucap Alya sembari menirukan ucapan tetangganya.
Dari pengeras suara, ia mendengar namanya dipanggil. Di antara ayah, ibu dan Kakaknya, rupanya nama Alya yang paling pertama dipanggil. Alya segera mengambil surat suara dan melangkah ke bilik suara. Alya berencana memberikan suaranya untuk salah satu pasangan capres-cawapres pilihannya.
Dari luar ia mungkin kelihatan biasa-biasa saja, tapi hatinya berdegup kencang. Alya semakin panik ketika membuka kertas suara yang berjumlah lima.
“Lho, kok yang harus aku coblos banyak banget? Aku cuma tahu mau pilih presiden yang mana, tapi yang lain aku nggak tahu,” ucap Alya polos. Akhirnya ia terpaksa memilih dengan asal saja. “Aku pantengin satu-satu. Terus kalau ada fotonya aku pilih yang wajahnya meyakinkan dan namanya keren, atau paling nggak yang gelarnya banyak.”
Kertas suara yang lebarnya menyaingi kertas koran itu pun merepotkan Alya. Meski sudah menonton tutorial nyoblos semalam sebelumnya, ia masih kesulitan melipat kertas suara. Alya semakin tergesa-gesa karena pemilih di bilik kiri dan kanan sudah lebih dahulu menunaikan tugasnya. Setelah memasukan kertas ke kotak suara, Alya sempat lupa untuk mencelupkan jarinya ke dalam tinta sebagai tanda pemilih sudah memberikan suaranya.
“Karena itu saking gugupnya aku sampai lupa harus celupin jari aku. Terus aku baru tahu kalau nyoblos nggak dikasih snack di kotak kayak di hajatan itu, ya,” canda Alya.

Ilustrasi penghitungan suara
Foto: ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA
Jauh hari sebelum Pemilu 2024 diselenggarakan, Muhammad Fikri sudah berjanji akan menggunakan hak suara pertamanya dengan bijaksana. Sebelum menentukan pilihan, mahasiswa semester empat di salah satu universitas di Tangerang ini melakukan riset tentang latar belakang para calon presiden dan wakil presiden. Tak sekalipun Andreas melewatkan debat capres-cawapres yang disiarkan di televisi nasional.
“Pertama kali nyoblos langsung dihadapin sama pilihan yang berat. Apalagi kali ini paslonnya ada tiga,” tutur mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini.
Menurutnya, tidak ada paslon yang sempurna, semua memiliki celah masing-masing. Namun di antara semua paslon, ada satu paslon yang gagasannya paling cocok dengan Fikri. Di hari pencoblosan, Fikri tidak sanggup menyembunyikan perasaan antusiasnya. “Sumpah tangan gue gemeteran pas mau nyoblos. Ini pengalaman pemilu pertama yang bikin gue semangat berjuang,” ungkap laki-laki berusia 20 tahun ini.
Begitu proses perhitungan cepat alias quick count dimulai, Fikri hanya bisa melihat timeline media sosialnya dengan tatapan nanar. Fikri tidak menyangka jagoannya kalah. “Kalau gue stage of grief-nya sampai sekarang masih di denial, masa, sih, kalah, masa sih cuma satu putaran?" keluh Fikri. Namun, apapun hasilnya, ia tak menyesal sudah menyumbangkan suaranya di Pemilu 2024 kali ini.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho