Bumper Mobil Ekspedisi

Jawa Timur, provinsi yang disebut Bumi Majapahit ini menyimpan begitu banyak pesona keindahan alam. Destinasi wisata di wilayah ini tersebar dari dataran tinggi hingga pesisir paling selatan. Bentang alam Jawa Timur bagai untaian mutu manikam yang tak ada habisnya untuk terus dijelajahi. Keindahan alamanya menyimpan potensi sebagai magnet wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tim DetikXpedition kali ini melakukan ekspedisi wisata bertajuk 'Jelajah Eksotisme Jawa Timur.' Ekspedisi ini dilaksanakan pada 17-23 Desember 2023 lalu. Kali ini kami mengunjungi dua daerah wisata di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan daerah Malang Raya. Detikkers tertarik? Mari simak keseruan perjalanan kami menikmati pesona wisata alam di ujung timur pulau Jawa!

Hari Pertama

Tim DetikXpedition memulai perjalanan dari Jakarta ke Surabaya melalui jalur udara. Menempuh dua jam perjalanan, kami tiba di Bandara Juanda saat hari masih pagi. Di sana tim menyempatkan mampir ke kota Surabaya untuk mengisi perbekalan. Tak lupa tim juga sempat sarapan makanan khas Jawa Timur, yaitu soto.

Selepas mengisi perut dan perbekalan, tim langsung tancap gas ke Banyuwangi melalui jalur darat. Jalur yang ditempuh adalah tol lintas Jawa dan dilanjutkan menyusuri lajur pantai utara. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam perjalanan. Selama perjalanan kami juga melewati hutan Taman Nasional Baluran. Sepanjang jalan tersebut nampak monyet-monyet yang berkeliaran. Ada yang bergelantungan di pohon, dan beberapa sekadar nongkrong di tepian jalan.


Watu Dodol

Kab Banyuwangi - Jawa Timur

Mendekati Banyuwangi, tim detikXpedition mampir sejenak di salah satu landmark di kabupaten tersebut, yaitu Watu Dodol. Watu Dodol sejatinya adalah sebongkah batu setinggi 10 meter yang terletak di tengah jalan raya Situbondo-Banyuwangi. Lokasinya persis di tepian laut, tak jauh dari pelabuhan Ketapang. Menariknya, di sekitarnya dibangun patung penari gandrung raksasa yang agak menjorok ke laut. Saat kami tiba, langit tampak cerah. Dari Watu Dodol pulau Bali tampak terasa dekat di seberang. Sementara itu di kejauhan beberapa kapal terlihat hilir mudik memasuki pelabuhan.

BANYUWANGI

Memasuki kota Banyuwangi, tim detikXpedition langsung berburu makanan khas. Sebagai menu makan malam, rasanya Nasi Tempong menjadi pilihan paling tepat. Tempong sejatinya adalah ikan asin kering yang digoreng. Sajian Nasi Tempong khas Banyuwangi terdiri dari sayur daun singkong atau terkadang juga kangkung yang dikukus. Lalu yang menjadi lakon utama adalah ikan asin (sekumpulan ikan kecil yang ditata membulat lalu dikeringkan) dan sambal tomat segar (tanpa digoreng). Rasa gurih dan harum dari tempong dipadu padankan dengan rasa pedas nan segar, sembari ditemani aneka lauk seperti ayam, telur, tahu, tempe goreng, dan tak lupa ditemani sepiring nasi hangat.

Hari itu perjalanan kami akhiri dengan bergerak menuju barat kota Banyuwangi. Tim memutuskan akan beristirahat di sekitar lereng Kawah Ijen. Udara dingin dan segar dari pegunungan membantu kami istirahat lebih lelap untuk mengisi energi serta bersiap berpetualang keesokan harinya.

Tujuan pertama tim DetikXpedition di Banyuwangi adalah area wisata The Djawatan. Area wisata ini dulunya merupakan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) yang dikelola oleh Perhutani. Lalu pada Juni 2018 Djawatan resmi dibuka sebagai area wisata. Di area seluas 9 hektare ini terdapat sekitar 160 pohon trembesi yang berusia ratusan tahun. Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri. Para pengunjung dapat bersantai dan piknik di bawah rindangan pohon sembari menikmati beraneka kuliner. Harga tiket masuk area ini juga sangat terjangkau, hanya Rp7.500 per orang.

Selepas dari The Djawatan, tim DetikXpedition memenuhi undangan dari PT Bumi Suksesindo (BSI), pengelola Tambang Emas Tujuh Bukit , sebuah tambang terbuka di Banyuwangi, Jawa Timur. BSI menggali bijih mineral dan mengektraksi kandungan emas dan perak di pesisir selatan Banyuwangi.


Tambang Emas

Bukit Tujuh

Petugas Gold Copper

BSI mengoperasikan Tambang Emas Tujuh Bukit berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Operasi dan Produksi yang dimiliki sejak 2012 atas lahan seluas 4.998 hektare di area hutan produksi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, dengan hanya 992 hektare dari 4.998 hektare yang digunakan BSI untuk operasi tambang. Dibangun pada 2014, Tambang Emas Tujuh Bukit mulai menambang bijih pertamanya pada 2016 dan menghasilkan emas pertamanya pada 2017

Oleh BSI, kami dibawa berkeliling melihat seluk-beluk proses penambangan. Selain itu kami juga diajak untuk melihat area bekas tambang yang sedang dipulihkan, menjadi hutan kembali. Setelahnya menggunakan kendaraan khusus, tim DetikXpedition dibawa ke puncak tertinggi dari area pertambangan. Dari sana hampir seluruh wilayah tambang dapat terlihat. Hamparan samudera Hindia serta indahnya pantai di sekitar tambang juga dapat terlihat dengan jelas. Pantai-pantai itu menjadi tujuan kami berikutnya.

Tambang Emas Bukit Tujuh bertetangga dengan beberapa objek wisata unggulan di Banyuwangi. Salah satunya adalah pantai Pulau Merah. Kepada kami, pihak tambang mengaku selalu berusaha menjadi tetangga yang baik bagi lingkungan dan destinasi wisata di wilayah tersebut. Selama ini Tambang Emas Bukit Tujuh mengklaim turut mendukung perkembangan wisata-wisata tersebut dengan pembangunan dan perbaikan akses jalan, penyediaan sanitasi, hingga tenaga kebersihan. Upaya itu dilakukan agara wisata dapat terus lestari, berkembang, dan memiliki dampak ekonomis bagi warga sekitar.

Pantai Pulau Merah

Turun dari area tambang, memakan waktu sekitar 30 menit, kami tiba di pantai Pulau Merah. Untuk menikmati keindahan pantai ini, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp10.000.

Nama Pulau Merah diambil dari pulau kecil yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Pulau itu memiliki tanah, berbatuan, dan pasir yang berwarna kemerahan. Pantai Pulau Merah dikelola secara mandiri oleh warga sekitar. Total panjang garis pantainya sepanjang 4 kilometer, tetapi area wisata yang dikelola sekitar4,8 hektare. Rata-rata jumlah wisatawan di pantai ini tiap harinya sekitar 200 orang. Di hari libur jumlahnya dapat mencapai lebih dari 500 orang.

Salah satu daya tarik pantai ini adalah pemandangan matahari terbenam yang dapat disaksikan secara langsung di bulan-bulan tertentu. Karakteristik pantai ini landa dan luas dengan ombak yang menyentuh tepian tidak terlalu besar. Namun di beberapa titik, pantai ini memiliki ombak yang indah dan sesuai untuk dipakai berselancar. Jadi jangan heran bila banyak menjumpai warga lokal dan wisatawan luar negeri yang wira wiri menenteng papan selancar di sekitar pantai ini.

Selain pesona pantainya, pengunjung dapat menyewa perahu dan melihat keindahan beberapa pulau kecil di lepas pantai. Bila beruntung pengunjung akan dapat menjumpai kawanan lumba-lumba. Bila memiliki uang lebih, pengunjung dapat menyewa perahu dengan harga Rp1,2 juta ( kapasitas 6-8 orang) untuk melakukan kunjungan ke beberapa pantai di sekitarnya yang hanya bisa diakses melalui jalur laut, seperti pantai Teluk Ijo dan Wedi Ireng. Di sana disuguhkan pemandangan pantai yang masih belum banyak terjamah manusia, sehingga terasa seperti berlibur di pantai pribadi.


Hari Kedua
Hari Keempat
Hari Terakhir

MALANG

Selepas dari Banyuwangi, tim DetikXpedition langsung bertolak menuju Kota Malang. Jalur darat yang kami tempuh memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Di Malang kami berencana untuk beristirahat sejenak untuk bersiap menuju area Bromo malam harinya.



Waktu masih menunjukkan pukul 00.00 saat kamu mulai bersiap bertolak menuju Bromo. Kami harus bergegas, karena tak boleh ketinggalan pemandangan matahari terbit dari puncak-puncak bukit di sekitar Bromo. Perjalanan dari kota Malang menuju base camp di lereng Bromo memakan waktu lebih dari satu jam. Tiba di base camp, kami disambut oleh pemandu dan para warga lokal. Dari sana rombongan dijemput oleh dua unit mobil Jeep untuk menuju ke bukit Perahu(2700 mdpl). Sepanjang perjalanan suhu udara tercatat 9 derajat Celcius, dingin mulai terasa, sementara jalan berkelok-kelok dan dipenuhi kabut tebal. Saat sudah mendekati tujuan, mobil berhenti dan kami turun menepi ke salah satu warung milik warga. Disana terdapat deretan warung yang menyajikan aneka gorengan dan minuman hangat.

Untuk sampai di titik tujuan, kami harus sedikit berjalan kaki menyusuri punggung bukit. Saat tiba, tak lama berselang matahari mulai perlahan naik, dan terhampar di depan kami pemandangan yang tiada tara. Dari puncak bukit Perahu itu, area kaldera Bromo tampak sangat jelas. Dari kejauhan juga terlihat puncak Mahameru mengepulkan asapnya.

Turun dari bukit, tim DetikXpedition langsung menuju area kaldera Bromo. Ada beberapa titik wisata di sini. Tujuan pertama kami adalah bukit Teletabis yang kini telah menghijau walaupun sempat terbakar beberapa waktu lalu. Di area ini pengunjung dapat menaiki kuda untuk digunakan berkeliling dengan tarif Rp100.000 per 30 menit.

Sedikit bergeser, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan lautan pasir yang oleh warga sekitar disebut area Pasir Berbisik. Area ini sangat luas dan mendominasi kawasan kaldera Bromo. Sayangnya saat tiba di lokasi, sedang ada larangan untuk naik ke kawah Bromo.

Dari lautan pasir, tim bergeser sedikit ke area lereng gunung Batok yang terletak persis di sebelah kawah Bromo. Menurut warga, area ini menjadi salah satu lanskap tercantik di kawasan Bromo.

Semua paket perjalanan dan wisata tersebut dibandrol dengan biaya sebesar Rp1,8 hingga Rp2 jutaan rupiah (untuk sekitar 5 orang). Dalam paket perjalanan tersebut wisatawan akan ditemani secara langsung oleh guide dan kameramen profesional untuk mengabadikan setiap momen.

Setelah puas menjelajahi keindahan Bromo, tim kembali bertolak menuju Malang. Malam hari di kota apel ini kami habiskan dengan berburu kuliner. Ada berbagai macam kuliner yang dapat menjadi pilihan, diantaranya bakso, hingga ketan. Ketan di sini disajikan bersama aneka toping dan bisa dinikmati dengan berbagai pilihan minuman hangat.

Hari Ketiga

Kota Batu

Hari berikutnya tim DetikXpedition bertolak ke daerah Batu, tepat di bawah lereng Gunung Arjuno-Welirang. Sedari pagi tim telah sampai dan bersiap di sekitar agrowisata Kaki Langit, Puncakbrakseng, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Di sini kami menjajal wisata sepeda gunung. Jalur sepeda yang dilalui sepanjang beberapa kilometer melewati area perkebunan bunga, sayur, dan buah apel. Jika beruntung pengunjung dapat menyaksikan para petani dan membeli buah apel segar secara langsung. Uniknya di jalur wisata sepeda ini juga melewati mata air yang dipercaya menjadi salah satu sumber air dari kali Brantas, sungai terpanjang kedua di pulau Jawa. Konon menurut warga, sejumlah pejabat dari Jakarta rela datang jauh- jauh hanya untuk sekadar mandi di sumber air tersebut. Paket wisata sepeda ini dibandrol dengan harga Rp350.000.

Sore harinya DetikXpedition berkesempatan untuk menjajal salah satu wisata ekstrem di Kota Batu, yaitu Paralayang. Lokasi paralayang ini terletak persis di gunung Banyak. Di sini untuk sekali terbang tandem bersama pemandu, wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp500.000 hingga Rp1 juta, tergantung paket yang dipilih.

Surabaya

Perjalanan DetikXpedition berikutnya adalah kota Surabaya. Kota Pahlawan ini memang hanya sedikit memiliki destinasi wisata alam. Namun sebagai gantinya para wisatawan dapat berburu aneka makanan khas dari seantero Jawa Timur. Maklum, sebagai kota utama, Surabaya menjadi melting pot bagi aneka makanan khas Jatim, mulai dari nasi babat, rawon, pecel, nasi bebek, hingga aneka olahan seafood.

Surabaya menjadi kota terakhir sekaligus penutup perjalanan jelajah DetikXpedition selama lebih dari satu minggu di Jawa Timur. Selama lebih dari satu minggu menyusuri Jawa Timur kami telah mengunjungi aneka ragam destinasi wisata. Perjalanan kami meliputi daerah pesisir hingga wilayah-wilayah terdingin di timur Jawa. Sampai jumpa di jelajah-jelajah lainnya! Jelajah Mutu Manikam di Ujung Timur Jawa

Tim Produksi

Penulis Naskah
Ahmad Thovan Sugandi
Host
Melisa Mailoa
Creative
Raisha Anazga
Campaign Coordinator
Intan Khairunisa
Videographer
Okta Marfianto
Putra Agung Mahawardana
Editor
Irwan Nugroho
HTML 5
Dedi Arief Wibisono
Desain Grafis
Mindra Purnomo
Zaki Alfarabi

Terima Kasih kepada:

***Komentar***
SHARE