INTERMESO

Kenangan Abadi Gaji Pertama

Meskipun jumlahnya tidak seberapa, kenangan akan gaji pertama akan selalu memiliki tempat istimewa di hati.

Ilustrasi : Istockphoto

Minggu, 14 Januari 2024

“Ini upah bulanan kamu,” ujar seorang wanita kepada Dimas Anggara sambil memberikan sebuah amplop berwarna putih berisi uang. Dimas menyambut tangan wanita itu dengan riang. Sudah sebulan Dimas bekerja sebagai kasir di sebuah warung angkringan. Pekerjaan ini sengaja ia lakukan sembari mengisi waktu liburan sekolah.

Dengan sangat hati-hati Dimas membuka bungkusan kertas itu. Begitu melihat pecahan uang seratus ribu di dalamnya, Dimas begitu takjub. Seumur-umur belum pernah ia memegang uang sebanyak itu. “Gaji pertama saya waktu itu Rp 1,2 juta. Begitu sampai rumah saya langsung hitung uangnya sambil ngerasa terharu banget. Akhirnya bisa rasain punya uang sebanyak ini hasil keringat sendiri,” ucap Dimas menceritakan pengalaman kerja pertamanya di tahun 2017, saat masih SMA.

Foto Ilustrasi: Istockphoto

Begitu memegang uang di tangan, Dimas seolah berada di atas awan. Semua keinginan yang dari dulu Dimas tahan-tahan rasanya ingin segera diwujudkan. Tiba-tiba ia teringat dengan sebuah restoran ramen yang ia lewati setiap kali pulang pergi bekerja. Aroma kuah makanan khas Jepang itu selalu menggoda Dimas, namun saat itu ia belum punya uang.

Hal pertama yang Dimas lakukan setelah mendapatkan gaji pertamanya adalah membeli semangkuk ramen seharga Rp 45 ribu. Mahal sekali untuk ukuran kantongnya pada waktu itu. Namun, laki-laki yang kini berdomisli di Bandung itu masih ingat betul kenikmatan yang ia rasakan begitu menyeruput kuah kaldu ayam yang sudah digodok selama berjam-jam.

“Walaupun sekarang udah sering makan ramen, menurut saya itu ramen paling enak yang pernah saya makan, apalagi belinya pakai duit hasil dari gaji pertama,” kata Dimas.

Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih, tadinya Dimas ingin memberikan gaji pertama kepada kedua orang tuanya. Tapi uang hasil jerih payahnya melayani pembeli di angkringan ditolak mereka. Mungkin orang tua Dimas tidak sampai hati menerima penghasilan perdana milik anaknya.

Tak berhenti sampai di situ, Dimas akhirnya memutuskan mengadakan perayaan syukur dengan mengajak orang tua dan adik perempuannya makan bersama di sebuah restoran sunda di dekat rumahnya. Kebetulan saat itu sedang dalam bulan puasa. Dimas masih ingat betul senyum sumringah keluarganya saat mereka tengah makan bersama.

“Senang banget rasanya, nggak bisa diungkapin pakai kata-kata. Rasa capek kerja langsung terbayarkan. Apapun yang mereka mau saya bilang pesan aja,” cerita Dimas yang kini bekerja sebagai spesialis sosial media di sebuah perusahaan swasta.

Tidak peduli berapa banyak penghasilan yang diterima Clarissa Atmadja saat ini, momen penerimaan gaji pertama selalu menjadi kenangan istimewa baginya. Bagi perempuan berusia 25 tahun ini, gaji pertama menjadi tonggak sejarah yang menandai awal perjalanan professionalnya. Ia merasa kebahagiaan yang ia rasakan kala itu juga harus dibagikan kepada orang lain di sekitarnya.

Foto Ilustrasi : Istockphoto

Gaji pertama sewaktu menjadi asisten dosen di tahun 2017 sebesar Rp 1,5 juta. Sebagian uangnya ia berikan kepada ibunya untuk digunakan makan malam bersama. Selain itu, Clarissa sudah pernah bernazar akan menyumbangkan gaji pertama kepada orang yang membutuhkan.

“Walaupun uangnya nggak seberapa, saya sudah janji, gaji pertama separuhnya saya sumbangkan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan,” katanya.

Clarissa tidak menyumbangkan gajinya dalam bentuk uang. Ia gunakan penghasilan pertamanya itu untuk membeli barang sembako seperti beras, minyak, gula, telur dan makanan instant. Barang belanjaannya ini ia bagi ke dalam beberapa kantong plastik.  Lalu Clarissa mulai turun ke jalan dan membagikan ‘bingkisan’ kepada anak-anak di jalan, tukang sampah, pengemis di pinggir rel kereta api dekat rumahnya.

“Impian saya buat berbagi berkat ke orang lain tercapai,” ucap Clarissa. Tradisi baik itu tak berhenti hanya di gaji pertama saja, Clarissa berkomitmen menyisihkan gaji-gaji seterusnya untuk disumbangkan. “Penginnya kerja nggak buat diri sendiri aja tapi pengin juga memberi berkat buat lebih banyak lagi orang.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE