Foto: ilustrasi gym (Getty Images/AzmanL)
Minggu, 07 Desember 2023Dari luar, rumah yang terletak di Kelurahan Kalipancur, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu nampak seperti hunian pada umumnya. Namun alangkah terkejutnya saat Dimas Aji Pangestu menengok ke dalam. Sekelompok pria bertubuh kekar tengah asik bermain dengan peralatan angkat berat yang sudah nampak usang dan berkarat. Meski panas sinar matahari begitu melekat dan aroma keringat saling beradu, mereka tetap memompa otot dengan semangat.
Ketimbang rumah, tempat ini lebih mirip bengkel kebugaran. Para pengguna akun sosial media TikTok ramai-ramai menjuluki tempat semacam ini dengan julukan 'gym Majapahit.' Entah dari mana sebutan ini berasal, diksi Majapahit dipilih karena penampakan tempat fitness yang sudah kuno.
“Nggak ada plang di depan rumahnya. Modelnya kayak bengkel (kebugaran). Jadi alatnya berserakan di lantai. Dan nggak pakai kipas angin juga. Tahu sendiri panasnya Semarang gimana,” kata Dimas menjelaskan rumah yang dialihfungsikan sebagai tempat gym itu. Sudah tiga bulan laki-laki berusia 25 tahun ini rutin berolahraga di sana. Sesekali ia bertemu dengan pemilik gym yang merupakan seorang atlet bodybuilder.
Sejak satu tahun lalu, Dimas termotivasi untuk memiliki tubuh atletis. Jenis olahraga weight traning atau olahraga angkat beban pun menjadi pilihan laki-laki asal Tegal, Jawa Tengah, ini. Ia banyak mencari referensi ilmu dari tontonan di media sosial, salah satunya konten YouTube milik binaragawan Ade Rai.“Awalnya home workout dulu kayak push up, sit up, pull up, lama-lama bosan juga olahraga di rumah. Pertama kali coba gym pas lagi main ke Jawa Timur,” kata Dimas.
Selama setahun itu Dimas menjajal berbagai pusat fitness modern yang dilengkapi dengan alat angkat beban yang canggih, berbagai macam kelas studio serta pendingin ruangan. “Kita nyebutnya Mega Gym ya itu per bulan biaya membershipnya ada yang sampai Rp 3,5 juta,” ucap Dimas menjelaskan tarif yang harus dikeluarkan untuk berolahraga di tempat fitness modern. Perbedaan harga yang sangat signifikan Dimas rasakan saat pindah ke tempat gym tanpa plang, Dimas hanya perlu membayar Rp 3 ribu per kedatangan.

Judul Foto
Foto : Credit By
Atmosfir berbeda Dimas rasakan ketika berolahraga di 'gym Majapahit' ini. Di sana tidak ada anggota gym yang datang hanya untuk bergaya di depan kaca lalu dipamerkan di Instagram. Tujuan mereka hanya untuk tampak bugar sembari membesarkan otot. Mereka tidak peduli dengan penampilan. Tidak ada yang menggenakan sepatu. Sendal jepit menjadi andalan mereka ketika mengangkat barbell.
“Aku pertama nyobain olahraga di sana pakai baju olahraga sama pakai sepatu. Pas sampai sana, kok, pada pakai sendal semua. Akhirnya sepatunya aku copot, aku jadi risih, malu sendiri. Sekarang malah kebiasaan terus pakai sendal, malah kadang latihan sambil nyeker,” ungkapnya kepada detikX melalui sambungan telepon.
Tempat 'gym Majapahit' tidak menyediakan fasilitas seperti loker atau kamar mandi. Pemiliknya hanya menyediakan serangkaian alat berat kuno yang jumlahnya tak seberapa. Pengguna gym harus pintar memanfaatkan alat berat untuk melatih kekuatan otot di berbagai posisi tubuh. “Kalau gym modern memang lebih proper dan lebih bersih alatnya. Kalau di 'gym Majapahit' ini safety-nya kurang, kadang ada olinya. Alat-alatnya habis kena keringat yang lain nggak dibersihin,” ujar Dimas yang kini bekerja sebagai pegawai pabrik briket.
Meski di tengah keterbatasan, Dimas dan pengguna 'gym Majapahit' bisa memanfaatkan fasilitas seala kadarnya demi meningkatkan masa otot. Bagi mereka, tak peduli alatnya usang atau tidak, konsistensi dan disiplin menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai target. Yang terpenting Dimas bisa menunaikan rutinitas berolahraga enam kali dalam seminggu dengan durasi hingga 1,5 jam.
“Kalau buat aku utamakan fungsi bukan gengsi. Di gym model Majapahit aku bisa menjadi apa adanya dan terbiasa improvisasi. Orang-orangnya juga friendly, nggak pelit ilmu. Tapi ada juga beberapa yang fokus sama latihannya sendiri,” kata Dimas.
***
Sebagai pecinta olahraga angkat beban, Aditya Gufron Ramadhan merasa mencari pusat kebugaran yang cocok sama sulitnya seperti mencari jodoh. Setelah empat tahun rutin berolahraga weight training, selama itu pula Aditya rutin gonta-ganti tempat fitness. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tempat gym yang cocok dengannya. Letaknya pun tak jauh dari rumahnya yang berada di Jakarta Barat. Aditya ikut menjuluki tempat fitness-nya itu sebagai 'gym Majapahit'.
“Menurut aku 'gym Majapahit' itu artinya lebih ke nggak terlalu advance dari segi fasilitas dan tempat latihannya. Gym menengah ke bawah refer-nya ke 'gym Majapahit,” tutur laki-laki berusia 28 tahun itu.

Judul Foto
Foto : Credit By
Menurut Aditya, olahraga dengan intensitas berat itu perlu motivasi tinggi. Meski sederhana, di 'gym Majapahit,' Aditya justru baru bisa bertemu dengan gym buddies yang bisa menjadi penyemangat dan trainer tambahan. Ia bertemu dengan orang-orang yang sefrekuensi dalam dunia fitness. Sembari berolahraga, Adit bisa menjalin relasi dengan orang-orang baru.
“Di 'gym Majapahit' terbuka untuk kemungkinan seperti itu. Sedangkan kalau di Mega Gym aku ngerasanya lebih cocok buat orang yang mau latihan sendiri, kesannya di sana lebih individualis. Sedangkan aku maunya sambil ngobrol dan ketemu teman baru,” kata laki-laki yang bekerja di Allo Bank ini.
Seusai berolahraga, terkadang Aditya tidak langsung pulang. Bersama gym buddies-nya, mereka nongkrong di warung kopi yang letaknya tak jauh dari tempat fitness. “Dari segi lifestyle juga beda. Di Mega Gym kalau selesai latihan nongkrong-nya mesti di mall atau restoran. Kalau di sini ngopi di warung juga nggak masalah.”
Di Mega Gym, anggotanya diwajibkan membayar sejumlah uang untuk membership berdurasi enam bulan hingga satu tahun. Masalahnya, ada banyak orang yang ujung-ujungnya cuma buang uang untuk gym membership tanpa pernah serius menggunakan fasilitasnya. Padahal harga berlangganan gym harganya juga tidak murah. Sedangkan di 'gym Majapahit', Aditya tidak diharuskan membayar membership. Jika ingin, anggotanya bahkan bisa hanya membayar uang setiap kali datang.
“Di gym aku sekarang lebih fleksibel. Bisa per visit, per bulan, ada yang 3-6 bulan langsung. Dari mereka nggak pernah maksa harus bayar langsung 6 bulan,” imbuh Aditya. Ia dikenakan biaya sebesar Rp 30 ribu per kunjungan.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nuroho