BNI menorehkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2023 ini. BNI terus memperkuat lini digital, dukungan terhadap ekonomi berkelanjutan, dan UMKM.
Kinerja Solid BNI untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia
Di tengah situasi yang menantang, kinerja jasa keuangan Indonesia tetap solid. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan RI, termasuk industri perbankan tetap stabil dan resilien di tengah kondisi perekonomian global saat ini.
Adapun salah satu yang berhasil membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi gejolak tantangan global, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Kinerja Solid BNI di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Sejak tahun 1946, BNI telah hadir sebagai bank sentral sekaligus komersial di Indonesia. Selama 77 tahun, BNI mampu mempertahankan kinerja solid untuk mendukung ekonomi berkelanjutan, meski di tengah ketidakpastian ekonomi sekalipun. Hal ini terlihat dari perolehan laba bersih konsolidasi yang mencapai Rp 15,8 triliun per Desember 2023, atau naik 15,1% secara tahunan, dengan total aset konsolidasi BNI mencapai Rp 1.009,3 triliun. Adapun pertumbuhan laba tersebut salah satunya didorong oleh penyaluran kredit BNI yang tumbuh 7,8% YoY menjadi Rp 671,4 triliun pada September 2023.
Sebagai dampak perbaikan kredit, kualitas aset BNI pun ikut terkerek naik. Hal ini bisa terlihat dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang terus menurun sebagai tanda peningkatan kualitas aset. Diketahui NPL tahun 2023 berada di level 2,3%. Atau membaik dibandingkan tahun lalu sebesar 2,8% dan tahun 2021 di angka 3,7%.
Rasio NPL Coverage per September 2023 tercatat 324,5%. Jumlah ini naik dari posisi sebelumnya, yaitu 278,3% di tahun 2022 serta 233,4% di tahun 2021.
Tak sampai di situ, BNI juga mencatatkan kenaikan Market Cap menjadi Rp 197 triliun dengan pertumbuhan rata-rata (CAGR 2020 s’d 2023) mencapai 71,8%. Adapun angka ini naik 1,7 kali lipat, serta menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020. Selanjutnya, perbaikan kinerja bank BNI hingga Desember 2023 juga terlihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tercatat mencapai Rp 748 triliun.
Capaian positif ini tentunya berdampak terhadap saham BBNI. Hingga penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada 29 Desember 2023, saham emiten bank pelat merah berkode BBNI itu ditutup pada harga Rp 5.375 per lembar atau naik 16,5% secara Year to Date (YTD), dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 200,5 triliun.
Pencapaian ini diiringi dengan penguatan nilai market cap hingga Rp 200,5 triliun, yang tercatat sebagai pencapaian terbesar dalam sejarah perseroan. Didukung oleh net foreign buy sebesar Rp 3,5 triliun atau setara dengan 1,75% dari total market cap.
Rasio ini menjadi yang terbaik di Bursa Efek Indonesia tahun 2023, dan BBNI menjadi Top-7 emiten dengan tingkat likuiditas perdagangan (turnover) terbesar, total trading value mencapai Rp63 triliun.
Tak hanya bergairah, saham emiten bank pelat merah ini juga kian atraktif. Terlebih setelah aksi pemecahan harga (stock split) beberapa waktu lalu. Adapun langkah tersebut bertujuan menarik minat investor terhadap saham perseroan, sekaligus memberikan dorongan positif pada perkembangan pasar modal di Tanah Air. Dengan rasio 1:2, maka kini kesempatan investor ritel untuk memiliki saham BBNI semakin besar.
Seluruh capaian ini tentunya tak lepas dari dukungan jaringan domestik yang luas dan tersebar di seluruh Indonesia. Adapun per September 2023, BNI telah memiliki 175.229 agen laku pandai (agen46), 13.390 ATM, 1.796 outlets, 26,857 karyawan dan layanan digital yang terpercaya. Kehadiran agen46 diharapkan mampu meningkatkan inklusi keuangan serta menjangkau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pelosok negeri.
Gerak Lincah BNI Perkuat Digitalisasi Layanan Perbankan
Teknologi yang terus berkembang harus dibarengi dengan digitalisasi. Karenanya inovasi teknologi di sektor perbankan bukan lagi menjadi kebutuhan, melainkan keharusan. BNI berupaya terus menggenjot transformasi digital layanan.
Upaya ini tak sebatas untuk memperluas jangkauan, lebih jauh untuk menjawab permintaan dan kebutuhan nasabah di era digital modern. Digitalisasi ini BNI wujudkan salah satunya melalui aplikasi BNI Mobile Banking.
BNI Mobile Banking menjadi One Stop Financial Solutions yang menyediakan beragam kemudahan. Adapun, BNI Mobile Banking membantu nasabah untuk bertransaksi langsung melalui smartphone. Hanya dengan jari, masyarakat bisa dengan mudah dan cepat melakukan transaksi pembayaran, investasi, hingga layanan beyond banking terutama dalam lifestyle. Tentunya tanpa melupakan aspek keamanan.
Sejak diluncurkan pada 2014 silam, aplikasi besutan bank pelat merah ini kian dipercaya. Hal ini terbukti dari jumlah penggunanya yang terus melesat. Berdasarkan data kuartal ketiga 2023 BNI, jumlah user BNI Mobile Banking menembus 15,6 juta atau tumbuh sekitar 20,9%. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan volume transaksi yang mampu mencapai Rp 874 triliun.
Di sisi lain, pengguna BNI Direct bertambah sekitar 24,9%, menjadi sekitar 152.600 dengan volume transaksi yang juga meningkat menjadi Rp 5.017 triliun.
Dukungan BNI untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Sejak tahun 2017, BNI disebut sebagai first mover (penggerak pertama) perusahaan yang mulai bisnis berkelanjutan dengan menerapkan Environmental, Social, Governance (ESG) friendly. Penerapan tersebut mulai BNI jalankan dengan mencoba membantu Indonesia dengan menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan.
Tidak hanya itu, BNI juga turut serta berperan untuk menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang. BNI juga mengambil langkah aksi untuk menangani iklim.
Hal tersebut sejalan dengan konsep ESG yang kehadirannya memang menjadi strategi bisnis perusahaan untuk mengintegrasi risiko, melihat peluang ESG dalam bisnis operasional, dan juga manajemen human capital bank.
Diketahui, pada penerapan ESG ada 3 pilar yang dibawa untuk menjadi landasan, yaitu Planet, People, dan Profit. Karena itu, penerapan ESG diharapkan mampu menciptakan keuntungan kompetitif yang secara potensial bisa membantu menarik social responsible, investasi baik funding ataupun share ownership, atau potensi bisnis lainnya.
Tujuan adanya ESG adalah untuk mengukur dampak non finansial dari perusahaan dan menjadikan perusahaan yang bukan hanya menghasilkan profit tetapi juga menjadi perusahaan yang ramah terhadap pembangunan, sosial dan juga lingkungan.
Hal itu karena cara kerja ESG adalah untuk menentukan perusahaan dalam merespons perubahan iklim dan penyesuaian pada lingkungan, memperlakukan pegawainya, mengatur supply chain, dan tata kelola perusahaan.
Oleh karena itu, dalam periode 2019-2023 BNI melaksanakan roadmap ESG tahap II melalui penetapan kategori kegiatan usaha berkelanjutan (KKUB) berbasis sektor kelapa sawit dan energi terbarukan pada program segmen business banking.
Selain itu juga melalui pengkajian dan implementasi finansial yang berkesinambungan pada energi terbarukan dan pengelolaan sumber daya hutan, implementasi keuangan yang berkesinambungan dan pengelolaan sumber daya hutan.
Belum berakhir, ESG tahap II juga meliputi pengkajian dan implementasi keuangan yang berkesinambungan pada industri manufaktur, makanan dan minuman. Hal itu dilakukan BNI guna mencapai tujuan pembangunan melalui lima pilar, yaitu BNI untuk Indonesia, BNI untuk Nasabah, BNI untuk Lingkungan Hidup, BNI untuk Masyarakat, dan BNI untuk Pegawai.
Agar memastikan ESG berjalan sesuai dengan roadmap, BNI pun memiliki sub komite ESG yaitu ESG Management Department. Itu adalah 1 unit setingkat departemen yang bertugas sebagai koordinator pelaksanaan ES dan berwenang untuk menetapkan kebijakan ESG, serta mengawasi pelaksanaan ESG di BNI.
Mengadopsi Framework TCFD (Task Force Climate Financial Disclosures) – membantu dalam penerapan ESG, BNI berharap bisa menyediakan informasi keuangan terkait perubahan iklim yang di dalamnya juga mencakup tata Kelola, risk management, target & metric, serta strategi.
Untuk menuangkan target dan strategi jangka panjang, BNI pun saat ini memiliki framework dan roadmap ESG tersendiri sebagai panduan dalam penyusunan strategi dan inisiatif ESG.
Ekonomi Hijau dan Optimalkan Dukungan ke Lini Sektor
BNI berkomitmen untuk selalu berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan dan pencapaian keseimbangan ekonomi hijau (green economy) yang hingga saat ini ramai digaungkan. Apalagi saat ini agenda global juga menaruh perhatian terhadap isu climate change atau perubahan iklim yang terus disuarakan.
Karena itu, BNI menerapkan ekonomi hijau salah satunya adalah dengan memiliki target net zero emission operasional yang mencakup emisi scope 1, 2, dan 3 perjalanan dinas di tahun 2028. Hal ini sejalan dengan peran Indonesia yang juga menjadi salah satu negara berkomitmen menjaga kenaikan suhu bumi melalui target net zero emission di tahun 2060 dan tertuang dalam Paris Agreement.
Untuk menjalani ekonomi hijau, BNI juga memiliki strategi tersendiri dengan menyiapkan Climate Risk Stress Test. Itu adalah pengukur dampak dari perubahan kredit kepada kesehatan kredit debitur dalam jangka panjang.
Pada bulan September 2023, BNI juga telah memperkuat pembiayaan green loan yang mencapai Rp60,6 triliun. Nilai tersebut setara dengan 9,1% dari total portofolio kredit BNI. BNI juga memberikan pembiayaan Sustainability Linked Loan (SLL) mencapai Rp. 4,7 triliun.
Adapun pembiayaan ke sektor energi terbarukan tercatat Rp 10,17 triliun, pembiayaan ke sektor efisiensi energi Rp 14,74 triliun, dan pembiayaan pengelolaan SDA hayati & lahan berkelanjutan Rp 24,27 triliun.
BNI juga menjadi bank pertama di Indonesia yang menerbitkan Green Bond dengan nominasi Rp 5 triliun yang disalurkan ke 5 sektor yaitu, renewable energy, sustainable transportation, green building, waste to energy and waste management, dan sustainable natural resources and land use.
Selain itu, dalam usaha melakukan reduksi emisi pembiayaan ekonomi hijau, BNI juga melakukan strategi melalui portfolio management, terutama sektor dengan emisi tinggi, serta melakukan peningkatan ekspansi kredit pada green loan.
Strategi lain yang BNI terapkan dalam ekonomi hijau adalah mendorong debitur untuk mulai memiliki transition map dan melakukan reduksi emisi usahanya. Melalui strategi ini diharapkan dapat memberikan dampak yang cukup tinggi dalam penurunan emisi pembiayaan.
Diketahui BNI juga disebut sebagai pioner dalam mempromosikan kendaraan listrik. Hal itu karena BNI mendukung pemerintah dalam percepatan ekosistem kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
Oleh karena itu, BNI menjadi bank pertama di Indonesia yang menggunakan skema kerja sama Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Partnership Investor Own Investor Operate (IO2) dari PLN.
BNI pun memberikan penawaran pembiayaan kendaraan listrik dengan suku bunga khusus dan persyaratan cukup ringan lewat program BNI Fleksi.
Komitmen Proaktif dalam Bursa Karbon
BNI menyadari saat ini bursa karbon merupakan salah satu perangkat yang dibutuhkan untuk perdagangan karbon. Sebelum Indonesia, negara-negara tetangga sudah lebih dulu menyadari pentingnya hal ini sehingga sudah memiliki bursa karbon.
Menanggapi hal tersebut, BNI ikut menjadi pembeli pertama dalam perdagangan perdana bursa karbon. Diketahui, BNI melalui anak usahanya PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) telah memborong sebesar 40.000 unit karbon Indonesia Technology Based Solution (IDTBS), yang dijual oleh Pertamina. Aksi pembelian ini sebagai bentuk dukungan dalam upaya pemerintah menurunkan emisi.
Di sisi lain, perseroan pun turut memperkuat usaha-usaha penghematan energi, dengan melakukan pemadaman listrik saat jam istirahat, memiliki renewable energy pada salah satu gedung kantor pusat BNI (Plaza BNI), menggunakan lampu hemat energi serta mengatur suhu dan penggunaan AC di kantor BNI. Hal tersebut sudah tertuang dalam Net Zero Emission Roadmap BNI tahun 2080.
Strategi lain yang diterapkan BNI dalam bursa kabron adalah melalui upaya nature based solutions berupa penanaman pohon ataupun konservasi hutan. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan karbon untuk menyerap emisi atau kerap disebut juga sebagai offset emisi BNI.
Offset emisi dari carbon credit melalui carbon trading, merupakan merupakan salah satu opsi yang bisa ditempuh oleh BNI. Namun, opsi ini akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kebutuhan offset maupun harga carbon credit di bursa karbon.
Untuk mereduksi emisi karbon, BNI turut mengembangakan hutan organik di Megamendung, Jawa Barat. Hutan seluas 30 hektar ini disebut memiliki varian jenis pohon dari berbagai wilayah Indonesia dan juga menjadi tempat untuk beberapa fauna.
Kehadiran hutan organik ini juga bukan hanya berguna untuk menekan karbon, tetapi juga memberikan dampak yang baik untuk masyarakat yaitu, menahan longsor saat musim hujan dan juga bisa menjadi sumber air saat musim kemarau tiba.
Semangat BNI Memajukan UMKM
BNI berupaya untuk selalu proaktif dalam mendukung program pemerintah dengan terus ikut mengembangkan UMKM. Kini di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi, UMKM memang merupakan tulang punggung perekonomian. Karenanya, BNI terus berupaya untuk memajukannya.
Berdasarkan data BNI Per September 2023, BNI telah menyalurkan Rp 118,3 triliun ke lebih dari 1,61 juta pelaku UMKM di Indonesia.
Dalam pengembangan UMKM kami harap dapat menciptakan unggulan-unggulan (champions) baru yang ke depannya dapat berperan lebih aktif dalam peningkatan mutu produk/jasa, penciptaan lapangan kera, dan pengembagang SDM.
BNI juga melaksanakan program pemberdayaan UMKM melalui Jejak Kopi Khatulistiwa, BUMI, Kampung Perikanan, dan Millenial Smart Farming.
Jejak Kopi adalah program penyaluran KUR dan pembinaan petani hutan sosial kopi. Sedangkan BUMI adalah program yang mentransformasi bisnis UMKM menjadi bisnis ramah lingkungan.
Kampung Perikananan adalah program pembinaan digital dan penyaluran KUR kepada petambak dan nelayan. Dan Millenial Smart Farming adalah program pemberdayaan dan ekosistem digital finance pertanian.
Tak hanya itu, BNI secara resmi telah mengakuisisi PT Bank Mayora pada 18 Mei 2022 untuk kemudian ditransformasi menjadi bank digital yang fokus pada segmen UMKM bernama hibank. Sebagai Digital-First SME Bank, hibank membantu UMKM untuk mengalokasikan dana agar dapat digunakan secara efisien dalam jangka panjang. Hibank juga membantu pengelolaan sumber dana UMKM di pasar uang atau dengan menerbitkan surat utang untuk memenuhi kegiatan operasional bank termasuk penyaluran kredit. Tercatat pada periode tahun 2021-2022, perseroan telah menyetor peningkatan modal ke hibank hingga Rp 1,87 triliun.
Optimalkan Jaringan Internasional untuk UMKM Go Global
BNI turut mendorong UMKM lokal go global melalui jaringan kantor cabang luar negeri (KCLN). Upaya ini diawali dengan membangun KCLN di Singapura pada 14 Oktober 1955.
Terletak di jantung kawasan pusat bisnis Singapura, BNI Singapura menjadi cabang bank luar negeri pertama yang dimiliki bank Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, BNI terus melebarkan sayap hingga ke negara-negara lainnya. Hingga saat ini, BNI telah memiliki delapan kantor cabang di luar negeri, antara lain BNI Singapura, BNI Hong Kong, BNI Tokyo, BNI Osaka, BNI Seoul, BNI New York, BNI London, dan BNI Amsterdam.
Melalui jaringan internasionalnya, BNI turut menghadirkan fasilitas pembiayaan atau kredit untuk membantu para UMKM membangun bisnisnya di pasar internasional serta turut menghubungkan bisnis di regional Indonesia ke seluruh dunia.
Secara konsisten, BNI juga memberikan dukungan kepada para diaspora Indonesia yang ada di luar negeri. BNI secara aktif melakukan eksplorasi kebutuhan serta melakukan pendampingan dan penyediaan fasilitas bagi para diaspora agar mampu berdaya saing di luar negeri melalui BNI Xpora.




