KA ARGO PARAHYANGAN
BANDUNG - GAMBIR PP

Argo Parahyangan sendiri terlahir dari sebuah “fusion” dari KA Parahyangan yang sudah lahir sejak 31 Juli 1971 dan KA Argo Gede yang lahir pada 31 Juli 1995.

Argo Parahyangan atau yang lebih akrab disapa Gopar merupakan hasil dari tampungan kekecewaan masyarakat atas penghentian perjalanan dari kedua pendahulunya yang sempat sepi akibat dari pengoperasian Tol Cipularang pada 2005. Dengan beroperasinya tol tersebut, perjalanan ke Bandung dari Jakarta dapat ditempuh lebih cepat menggunakan kendaraan roda empat.

Namun, setelah tol menjadi macet, banyak orang ingin kembali menggunakan layanan KA, baik Parahyangan maupun Argo Gede. Nahasnya, KA Parahyangan sudah dimatikan pada 27 April 2010 sebagai akibat ketidakterisian gerbong saat itu.

Sejak mulai beroperasi pada 26 April 2010 silam, KA Argo Parahyangan konsisten menjadi kereta yang memiliki rute perjalanan Jakarta (Stasiun Gambir) menuju Bandung (berlaku juga sebaliknya) dengan pemberhentian di stasiun-stasiun berikut:

  • Gambir
    Jakarta
  • Jatinegara
    Jakarta
  • Bekasi
    Jawa Barat
  • Cikarang
    Jawa Barat
  • Purwakarta
    Jawa Barat
  • Cimahi
    Jawa Barat
  • Bandung
    Jawa Barat

Harga Tiket

Argo Parahyangan (GMR - BD)

Ekonomi

Kelas

150.000

Harga

06:55

Berangkat

09:55

Tiba

21C

Kursi

Argo Parahyangan (BD - GMR)

Eksekutif

Kelas

350.000

Harga

14:55

Berangkat

17:55

Tiba

13B

Kursi

Argo Parahyangan (BD - GMR)

Luxury

Kelas

380.000

Harga

06:55

Berangkat

09:55

Tiba

1A

Kursi

1.400

Total Penumpang

4

Gerbong Ekonomi

4

Gerbong Eksekutif

175

Penumpang
/Gerbong

Kapasitas Kereta

Dalam sekali keberangkatan regulernya, KA Argo Parahyangan membawa empat gerbong kereta kelas ekonomi plus, empat gerbong kereta kelas eksekutif, satu gerbong kereta makan, dan satu gerbong pembangkit. Masing-masing gerbong dapat menampung kurang lebih 175 penumpang. Sehingga, dalam sekali perjalanan, Gopar dapat mengangkut 1.400 penumpang.

Fasilitas Gopar

Ekonomi

  • AC pada setiap gerbong
  • Toilet di setiap gerbong
  • 1 Audio-video yang ada per satu gerbong
  • Stop kontak di setiap kursi penumpang
  • Sandaran bangku yang bisa diatur ketegakkannya

Eksekutif

  • AC pada setiap gerbong
  • Toilet di setiap gerbong
  • 1 Audio-video yang ada per satu gerbong
  • Stop kontak di setiap kursi penumpang
  • Sandaran bangku yang bisa diatur ketegakkannya
  • Lampu baca
  • Meja lipat
  • Bantal dan selimut
  • Pijakan kaki pada setiap kursi penumpang

Luxury

  • AC pada setiap gerbong
  • Toilet di setiap gerbong
  • 1 Audio-video yang ada per satu gerbong
  • Stop kontak di setiap kursi penumpang
  • Sandaran bangku yang bisa diatur ketegakkannya
  • Lampu baca
  • Meja lipat
  • Bantal dan selimut
  • Pijakan kaki pada setiap kursi penumpang
  • Port USB
  • Kursi yang dapat diputar sampai 180 derajat
  • Makanan dan minuman free flow pada mini bar

Isu Suntik Mati

KA ARGO PARAHYANGAN
BANDUNG - GAMBIR PP

Kehadiran Gopar nyatanya tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Isu mengenai suntik mati setelah beroperasinya Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) "Whoosh" mulai menyebar di tengah masyarakat. Pro dan kontra pun tidak dapat dihindari. Banyak yang melihat, dari kacamata efisiensi, Gopar tidak diperlukan lagi setelah hadirnya kereta cepat. Sebaliknya, banyak pula yang meminta Gopar tak langsung disuntik mati, sebab banyak yang masih membutuhkan kehadirannya. Segmentasi penumpang antara Whoosh dengan Gopar juga berbeda. Terlebih tiket Whoosh yang terbilang cukup tinggi.

Whoosh

  • Mulai dari Rp. 200.000,00 (per Desember 2023)
  • 40-45 menit
  • 601 peunumpang
  • Lebih cepat untuk sampai ke stasiun akhir (Tegal Luar)
  • Perlu KA feeder ke pusat kota dan tarif mahal
1
2
3
4
5
Harga
Waktu
Penumpang
Kemudahan
Kendala

Gopar

  • Mulai dari Rp. 150.000,00
  • Kurang lebih 3 jam
  • 1400 penumpang
  • Stasiun pemberhentian akhir berada di tengah kota dan tarif ebih ekonomis
  • Memiliki jarak tempuh yang cukup lama
Keterangan
  1. Harga
  2. Waktu tempuh
  3. Penumpang
  4. Kemudahan
  5. Kendala

Kehadiran Kereta Cepat Indonesia-China menambah variasi moda transportasi tujuan Jakarta-Bandung dan sebaliknya. Di satu sisi, KA Argo Parahyangan sebagai moda transportasi yang lama masih tetap dipertahankan hingga kini. Terserah kepada masyarakat pengguna transportasi publik untuk memilih moda transportasi Jakarta-Bandung sesuai dengan budget, tujuan, dan kepentingan masing-masing.

Penulis
Abdurrobby Rahmadi (Magang)
Editor
Irwan Nugroho
HTML5
Dedi Arief Wibisono
Desain Grafis
Mindra Purnomo
***Komentar***
SHARE