INTERMESO

Kenali Pilihanmu Wahai Anak Muda!

“Kalau tidak punya pengetahuan tentang kenapa kita harus memilih, kita cuma akan jadi pemilih yang oportunis.”

Foto: Para calon presiden saat debat pertama, 12 Desember 2023 (Pradita Utama/detikcom) 

Minggu, 17 Desember 2023

Kelompok anak muda, baik itu generasi milenial maupun generasi Z, seharusnya menjadi faktor kunci penentu arah perubahan politik di pemilihan umum 2024 nanti. Sebanyak 56 persen dari total suara diperebutkan dari mereka. Namun, menjelang pesta demokrasi yang tinggal menghitung hari, para generasi penerus bangsa ini justru merasa belum paham betul siapa sosok para calon presiden dan wakil presiden seutuhnya.

Melihat atmosfir perpolitikan belakangan ini, Oktafia Kusuma, sebagai bagian dari kelompok anak muda ikut merasa khawatir. Ketimbang bertanding ide dan gagasan, media sosial sekarang malah dipenuhi gimik dari timses masing-masing calon pasangan pilpres untuk sekedar membentuk citra di hadapan publik. Sementara diskusi terkait rekam jejak dan gagasan yang diusung para paslon masih minim.

“Keresehannya adalah orang milih berdasarkan individu banget, nggak ada pertimbangan lain. Kalau lihat Prabowo sekarang dengan yang dulu, kan, beda. Personality nggak bisa di-track. Siapa yang yakin dia nggak akan berubah lagi?” ucap alumni Universitas Gajah Mada jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan ini sembari mengomentari salah satu kandidat capres.

Di tengah kegelisahannya, Okta melihat secercah harapan saat bertemu dengan Pelopor Pilihan17 atau PP17, sebuah yayasan nirlaba yang memiliki kesamaan cara pandang dengannya. PP17 sepakat bahwa informasi yang diterima para pemegang hak suara, khususnya anak muda, tidak boleh hanya kulit luarnya saja. Mereka mesti memiliki kesadaran dan pemahaman terhadap isu-isu politik yang nantinya akan berpengaruh terhadap kehidupan.

Demi mencapai tujuan ini, PP17 melakukan siasat pendekatan melalui cara-cara yang dirasa familiar dengan anak muda. Di tahun 2021, PP17 meluncurkan Kawula17, sebuah Aplikasi Saran Pemilihan atau Voting Advice Application (VAA). Laman Kawula17.id yang bisa diakses secara gratis menjadi alat untuk membantu pemilih yang masih galau dalam menemukan ideologi atau partai yang sesuai dengan preferensi.

Marchie (volunteer kawula17), Oktafia Kusuma, dan Dian Irawati
Foto: Dok Pribadi

“Kalau tidak punya pengetahuan tentang kenapa kita harus memilih, apa itu partai, bagaimana partai link gue ke DPR, kita cuma akan jadi pemilih yang oportunis. Kita akan milih hanya karena dapet diskon kalau ada tanda di kelingking,” ucap Dian Irawati, Co Founder Kawula17 sekaligus Ketua Pembina PP17 saat ditemui detikX pekan lalu di sebuah restoran di Kawasan Jakarta Selatan.

Cara kerja laman Kawula17.id selintas mirip tahapan tes MBTI atau ramalan horoskop. Kecocokan di antara pengguna dan partai politik ditinjau dari serangkaian pertanyaan. Total ada sekitar 20 pertanyaan yang diajukan “Ada juga yang bilang kita mirip aplikasi pencari jodoh kayak Bumble atau Tinder, tapi ini tentang kecocokan pilihan politik,” kata alumni sarjana Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1996 ini.

Ada orang kantor kita, dia kan Katolik tapi dapetnya PKS. Misalkan tentang aborsi, dia dan PKS kan sama-sama tidak setuju."

Instrumen pertanyaan disusun berdasarkan isu atau kebijakan yang menjadi perhatian masyarakat dan dibahas oleh pemerintah, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, politik, kesetaraan gender, pembangunan IKN hingga kekerasan seksual. Laman bernuansa merah muda itu akan menganalisa jawaban untuk melihat korelasi linear antara keberpihakan pengguna terhadap suatu isu dengan sikap partai politik.

Selanjutnya, halaman hasil akan menunjukkan daftar partai politik dan tingkat presentasenya. Partai dengan presentase paling tinggi artinya memiliki sudut pandang yang sama dengan pengguna. Kawula17 merangkum 14 partai politik, terdiri dari 9 partai di DPR dan 5 partai di luar DPR.

“Dalam setahun kita bisa empat kali ganti isu karena isu di Indonesia memang cepat sekali berubahnya. Dan limitasi kita adalah isu yang diomongin di DPR dan isu yang dianggap relevan oleh masyarakat,” ungkap Okta. Sejak awal tahun 2023, perempuan berusia 27 tahun ini bergabung sebagai Research Fellow Kawula17. Ia juga yang merumuskan daftar pertanyaan.

Hasil Analisa Kawula17 mengejutkan banyak pihak. Misalnya ada seorang kader muda yang ternyata tidak selaras dengan partai politik yang kini menaunginya. Atau pengguna beragama nasrani yang pemahamannya lebih 'klik' dengan partai politik berbasis Islam di Indonesia.

“Ada orang kantor kita, dia, kan, Katolik, tapi dapetnya PKS. Misalkan tentang aborsi, dia dan PKS kan sama-sama tidak setuju. Terlepas itu partai Islam atau tidak tapi kan isunya lo sama-sama setuju,” jelas Dian. Ia Berharap kehadiran Kawula17 membuat calon pemilih semakin paham akan preferensi politik mereka serta menjadi pemantik diskusi politik. “Paling tidak kita membantu mereka yang belum pernah atau sudah pernah memilih untuk menata pikiran mereka.”

Di belakang Kawula17 merupakan sekumpulan orang-orang yang mumpuni dalam pengumpulan dan analisa data. Kegiatan Kawula17 dibekingi Lembaga riset dan penelitian BOI Research. Dian yang sekaligus menjabat sebagai Direktur BOI Research berkaca dari pengalamannya selama tinggal di Belanda. Perempuan kelahiran Ambon ini sempat menimba ilmu di University of Groningen jurusan International Business and Management.

Kawula17 memberikan penyuluhan pendidikan politik di sekolah
Foto: Dok Pribadi

“Walaupun gue dulu kuliah di UI, gue bukan tipe aktivis politik. I’m coming from an apolitical background. It’s not necessary a topic for me. Tapi selama 6 tahun tinggal di Belanda, gue melihat gimana demokrasi di sana. Ngomongin soal politik nggak selalu harus berantem, lho. It’s a discussion over table. Kayak mau tanya 'lo mau makan malam apa hari ini?'” cerita Dian yang pernah menjabat sebagai Ketua unit kegiatan mahasiswa AIESEC tahun 2001.

Di negara kincir angin itu, masyarakatnya terbiasa menggunakan Aplikasi Saran Pemilihan atau VAA seperti Kawula17. Dengan jumlah penduduk sebesar 17,53 juta orang, terdapat empat VAA yang berfungsi. StemWijzer, salah satu VAA besutan Belanda bisa dibilang merupakan salah satu yang tersukses di antara VAA lain di negara bagian Eropa. Di berbagai negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan maupun Taiwan, VAA juga sudah digunakan.

Bersama Ingmar Van Den Brink, Direktur BOI Research yang juga merupakan suami Dian, serta Maria Angelica Christy, Co Founder Kawula17 sekaligus Peneliti BOI Research, Dian menjadikan StemWijzer sebagai rujukan untuk merumuskan VAA pertama di Indonesia. “Kita selalu bilang sebenarnya kita pelopor, Kawula17 awalannya saja. Hopefully somebody will take it and make it even better, that’s okay, that’s really cool,” pungkas Dian. Kawula17 pernah mencetak rekor sebanyak 700 pengguna dalam satu bulan.

Awalnya BOI Research ikut menyokong modal serta biaya operasional Kawula17 yang bergerak secara mandiri. Sementara para relawan bergerak secara sukarela. Sejauh ini, Kawula17 sudah mengeluarkan ongkos sebesar Rp 200 juta untuk seluruh kegiatannya. Di akhir tahun 2022, Kawula17 juga bekerja sama dengan Generasi Melek Politik (GMP), organisasi nonprofit yang bergerak di bidang pendidikan politik, untuk melakukan analisa dampak lingkungan terhadap program yang telah mereka buat.

That’s what we do best at BOI. Now in order to be able to finance it, we do it. At the end of the day, gue pengen ini jalan independen. Asas independennya harus ada kalau nggak bahaya karena itu amanahnya,” ungkap perempuan berusia 45 tahun ini.

Yang tak kalah penting dari keberadaan Kawula17 saat ini adalah untuk melakukan pemantauan terhadap partai maupun tokoh politik terkait pandangan mereka terhadap suatu isu. Konsistensi keberpihakan partai pada suatu isu menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap ideologi dan prinsip politik yang dianut lembaganya. Informasi terkait posisi partai dikumpulkan melalui pemberitaan di media dan hasil kesepakatan di rapat parlemen. Tak jarang Kawula17 harus melakukan konfirmasi kepada partai politik terkait.

Capres dan cawapres saat pengundian nomor urut
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

I need to just like knocking the door of the partai, really like that, karena kita nggak kenal siapa-siapa. Tapi ada beberapa partai yang terbuka dengan cepat kayak Golkar, PBB, PDIP juga gue kaget termasuk gampang, sih,” kata Dian. “Yang pusing kalau statement-nya beda-beda. Ketua fraksi bilang A, tapi di tanggal berbeda posisi bisa berubah”

Pengamatan yang dilakukan Kawula17 harus dikerjakan secara terus menerus. Maka demikian akan terlihat partai politik yang betul memiliki integritas serta kesediaan untuk bertanggung jawab terhadap keputusan politik yang mereka buat. Di sisi lain, partai yang kemungkinan mempertahankan gagasan karena kepentingan lain akan pula menunjukkan wajah aslinya.

“Isu dan topik boleh berubah, tapi posisi partai bisa kelihatan. Kita bisa bilang setelah lima tahun ini lho posisinya. Kerja kayak kita itu kerja sunyi, efeknya belum sekarang. Sekarang kita belum bisa bilang apa-apa, tapi ketika lo tracking terus menerus, akan bisa terlihat polanya,” pungkas Dian.

Di samping itu Kawula17 juga memiliki program Survei Nasional yang dilakukan per kuartal. Hasil Survei Nasional Kawula17 pada kuartal 3 tahun ini menunjukkan 80% masyarakat Indonesia sudah yakin berpartisipasi dalam pemilu, namun terdapat 18% masyarakat yang masih ragu. Mereka yang ragu didominasi pemilih muda berusia 16-24 tahun atau sekitar 28%.

Dari segi keyakinan pilihan, sebanyak 62% berusia 35-44 tahun sudah mengetahui pilihannya. Sedangkan anak muda usia 16-24 tahun hanya 38% yakin dengan pilihannya. Periode pengumpulan data survei ini dilakukan pada tanggal 13 – 20 Oktober 2023 dengan ukuran sampel representatif sebesar 410 responden dari seluruh Indonesia dan diikuti oleh responden berusia 17 – 44 tahun dengan margin of error 5%.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE