Intermeso

Berjuang Hadapi Depresi Setelah Melahirkan

Putri mengalami depresi postpartum atau depresi setelah melahirkan anak pertamanya. Dukungan keluarga membuatnya bisa melewati masa itu.

Foto : Ketika Putri bermain di taman bersama buah hati tercintanya. (Dok. Pribadi)

Jumat, 15 Desember 2023

Setelah sekian lama dikandung badan Putri, akhirnya bayi itu lahir juga melalui persalinan pervaginam. Perasaan sukacita menyelimutinya. Rasa sakit karena persalinan seketika sirna begitu bersua dengan bayi yang dinanti-nantinya. Bayi yang sangat mungil dan sehat sempurna.

Putri dan suaminya merantau ke Singapura setelah menikah. Jauh dari keluarga serta teman-teman lamanya. Sehari-hari ia telah terbiasa pada masa kehamilannya melakukan beragam aktivitas sendirian kala suami bekerja.

Namun, suatu pagi sehari setelah melahirkan, sembari menonton unggahan konser Coldplay yang bertebaran di media sosial, tiba-tiba entah apa sebabnya Putri terisak.

“Aku duduk termenung, dalam hati bertanya-tanya, kenapa aku menangis? Lalu kucoba mengabaikannya dan mencoba membuat video (untuk) mengabadikan momen di rumah sakit setelah melahirkan, tapi seketika aku merasa sangat down dan menangis lagi,” kenang Putri kepada detikX.

Ketika buah hati tercinta menggenggam jemari Putri.
Foto : Dok. Pribadi


Aku tidak sadar ASI-ku tidak cukup dan anakku kehausan, kelaparan, tapi aku tetap egois tidak memberi susu bantuan sufor. Yang berujung, di usia lima hari, anakku jaundice-nya tinggi dan harus dirawat di rumah sakit selama tiga hari dua malam.”

Putri pun berusaha meraba-raba apa gerangan penyebab perasaan tidak nyaman itu. Tak lama Putri ingat, beberapa jam seusai persalinan, perawat mengatakan bayinya harus mengkonsumsi susu formula karena kondisinya di bawah normal. Putri yang merasa cemas atas kesehatan anaknya menyetujui saran tenaga kesehatan tersebut.

Sekembalinya ke rumah, air susu ibu Putri belum lancar dan hanya sedikit yang bisa dikonsumsi putranya. Perlahan, beragam perasaan negatif mulai menyerbu. Terlintas begitu sering muncul di pikirannya ia bukanlah ibu yang baik untuk putranya.

“Aku tidak sadar ASI-ku tidak cukup dan anakku kehausan, kelaparan, tapi aku tetap egois tidak memberi susu bantuan sufor. Yang berujung, di usia lima hari, anakku jaundice-nya tinggi dan harus dirawat di rumah sakit selama tiga hari dua malam,” tutur perempuan berusia 30 tahun itu.

Hatinya remuk menyaksikan putranya dirawat di rumah sakit. Muncul perasaan ingin menyakiti diri sendiri. Putri merasa dirinya egois karena sempat tak memberikan sufor. Tak berapa lama keadaan putranya membaik dan kembali sehat seperti sedia kala. Sayangnya, kepala Putri masih mendung dan berkabut.

Putri mengambil tes Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) pada kunjungannya ke dokter kandungan. Ada 10 pertanyaan yang harus ia jawab terkait apa yang dirasakan selama tujuh hari belakangan. Mulanya Putri menduga ia hanya mengalami baby blues, yang cukup umum dialami perempuan pasca-persalinan.

“Dan ternyata bukan baby blues lagi, tapi udah di level postpartum depression dan skornya tinggi, 20/30, karena aku di titik sudah ingin menyakiti diri sendiri. Saat itu langsung diberi surat rujuk ke psikiater,” ungkap Putri.

Meski begitu, karena terkendala suatu hal, Putri tak sempat menemui psikiater setelahnya. Suaminya menawarkan konselor daring yang bekerja sama dengan tempatnya bekerja. Dari sana Putri mulai menceritakan apa yang dia alami. Ada beberapa cara yang Putri peroleh untuk mengatasi depresi tersebut, salah satunya meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Karena sedari awal Putri terbuka dan berkomunikasi dengan suaminya tentang apa yang ia rasakan, suaminya selalu membantu Putri melewati masa berat tersebut. Ia mendukung agar Putri bisa memiliki waktu luangnya. Adapun keluarga Putri datang dari Indonesia untuk membantu merawat bayinya selama tiga bulan pasca-persalinan.

Pernah suatu kali Putri berada di samping putranya, tapi pikirannya melayang entah ke mana, yang membuatnya tidak mendengar tangisan bayinya. Kadang pula emosi Putri begitu tidak stabil entah apa sebabnya. Ia hanya bisa menangis sesenggukan. Beberapa kali terlintas pikiran cara menyakiti diri sendiri.

Putri menyadari proses berdamai dengan keadaan membutuhkan kesabaran dan tidak instan. Ia perlahan mulai berlapang dada terhadap keadaan dan tidak berekspektasi tinggi.

“Kadang aku ‘me time’ dengan pandangan kosong atau tiba-tiba ketiduran saat me time. Jadi tidak menikmati apa itu me time,” tuturnya.

Kendati demikian, Putri bersyukur karena ia mendapat dukungan dari suami dan keluarga. Ia memahami, ketika segalanya begitu melelahkan, itu harus dikomunikasikan dengan baik dan jujur kepada suaminya. Tak perlu membiarkan suami menebak-nebak apa yang ia butuhkan.

Kini, setelah bersabar enam bulan lamanya, keadaan membaik. Meski sesekali ada perasaan tak nyaman yang muncul, Putri lebih bisa mengendalikannya.

“Kalau capek dan mulai merasa muncul gejala-gejala lagi, aku (memutuskan) istirahat atau jalan-jalan keluar sekadar cari makan di luar dengan anak dan suami. Alhamdulillah sekarang anakku sehat, gembul, suka banget senyum-senyum,” ujarnya.

Psikolog klinis dari Personal Growth, Ivana Kamilie, mengamini bagaimana dukungan kepada ibu yang mengalami depresi postpartum sangat berharga dan menunjang peningkatan kesehatan mental ibu.

Ivana menuturkan depresi postpartum bisa terjadi karena faktor hormon dan lingkungan, seperti adanya kejadian yang memicu perasaan ibu. Sebab, setelah melahirkan, ibu masih memiliki perasaan yang begitu sensitif. Di sisi lain, ibu mesti menerima ada perubahan tanggung jawab begitu bayinya lahir ke dunia.

Ivana juga memaparkan kondisi postpartum lebih serius dibandingkan baby blues—yang umumnya mereda setelah dua minggu setelah melahirkan. Beberapa gejalanya serupa, seperti perasaan sedih dan cemas yang mendalam dan mengalami gangguan fokus sehari-hari.

“Ketika (ibu) melihat anak itu rasanya sedih banget, ketika melihat anak dia merasa, ‘Aduh, aku kok tidak berguna ya sebagai seorang ibu, aku tidak sesempurna itu menjadi seorang ibu’,” ucap Ivana memberikan contoh kasus yang pernah ia temui.

Penanganan terbaik, menurut Ivana, adalah penanganan yang lekas dilakukan begitu menyadari perasaan-perasaan sedih yang tidak biasa dan bertahan lama setelah ibu melahirkan. Ini tidak hanya harus disadari oleh ibu sendiri, tetapi juga orang di sekitarnya, seperti suami dan keluarga. Depresi postpartum membutuhkan diagnosis dan konseling bersama profesional untuk bersama-sama melihat perkembangan kondisi dan upaya mengatasinya.

“Selain berkonsultasi dengan profesional, si ibu juga harus melihat bahwa, ‘Oh, sekarang saya sudah memiliki tanggung jawab lain, nih. Tapi walaupun saya memiliki tanggung jawab lain, ibu pun juga tidak boleh melupakan kalau dirinya juga butuh istirahat’,” tandas Ivana kepada detikX.


Reporter: Ani Mardatila
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE