Foto: Ilustrasi UMKM (Shutterstock)
Minggu, 19 November 2023Aroma sedap tercium dari rumah Fadila Hapsari di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Meski matahari belum muncul, ia dan ibunya sudah sibuk mengoseng wajan di dapur. Sementara ibunya memasak, perempuan berusia 21 tahun ini sibuk merapikan lahan di depan rumah yang disulap menjadi sebuah warung sederhana. Warung Makan Mbak Dilla, usaha yang sudah dirintis orang tuanya sejak tahun 2016.
“Kalau pagi ramai soalnya lokasi kita dekat pabrik dan dekat jalur ke sekolah juga. Pagi-pagi orang pada cari bekal buat sarapan,” ucap Fadila saat dihubungi detikX.
Pilihan lauk di Warung Makan Mbak Dilla beraneka ragam. Mulai dari tumpang koyor, lotek, kue, hingga berbagai gorengan dan jajanan. Namun menu yang paling digemari pelanggannya adalah nasi ramesan. “Nasi ramesan Rp 6 ribu. Kalau pakai lauk, misalkan paling mahal itu ikan, jadi Rp 13 ribu.”
Kesibukan mengurus warung makan orang tuanya ia lakukan sembari menempuh Pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana. Saat ini Fadila tengah menyelesaikan skripsi. Di pagi hari, Fadila melayani permintaan pelanggannya yang ingin membungkus nasi. Aktivitas itu biasanya ia lakukan hingga warung tutup pada pukul 16.00 WIB.
“Yang repot kalau ada pesanan catering atau acara kantor sama paket Jumat berkah. Rata-rata mereka sekali pesan bisa 30 sampai 50 boks. Kadang mbak-mbak yang membantu suka mendadak libur,” kata anak bungsu dari dua bersaudara ini. Fadila dan Ibunya dibantu tiga orang pegawai.
Meski di Kota Salatiga warung nasi semacam ini menjamur, usaha milik orang tua Fadila sudah punya penggemarnya sendiri. Makanya semenjak masuk kuliah, Fadila memantapkan hati untuk membantu meneruskan usaha keluarganya. Fadila sengaja memilih Jurusan Manajemen. Ia berharap ilmu-ilmu yang didapatkan di bangku kuliah dapat membantunya melebarkan sayap usaha kuliner orang tuanya.
-uzlpk3.png)
Fadila Hapsari
Foto: Dok Pribadi
“Sekarang bukanya cuma sampai sore. Nah, di sore hari itu padahal masih banyak orang yang datang, tapi kita malah nolak orang. Nanti mau coba buka sampai malam. Kita mau lihat beneran ramai juga atau nggak,” tutur Fadila membeberkan rencana selepas ia lulus kuliah nanti.
Berbeda dengan anak muda seusianya yang ingin mencari pengalaman bekerja seluas-luasnya di korporasi atau start up, Fadila tidak pernah tertarik menjadi pegawai kantor. Selain kuliah Fadila juga punya bisnis kecil-kecilan di bidang fesyen.
“Aku nggak suka kerja di kantor yang kaku. Aku mikirnya kerja sama orang kita berkorban waktu buat membesarkan usaha orang. Kalau usaha sendiri kan kita gedein usaha sendiri,” katanya.
***
Di keluarga besar Nabilla Zalfa Adiba, ada ‘tradisi’ yang dijalankan turun temurun. Kakeknya merupakan tuan tanah di Bandung. Ia menguasai banyak lahan kosong di daerah Muhammad Toha dan Cibaduyut. Wilayah strategis tempat para warga Bandung beraktivitas itu kemudian disulap oleh keturunan kakeknya menjadi kos-kosan. Gelar juragan kos sudah melekat di keluarga besar Nabilla.
“Mama aku sekarang punya 3 unit kosan di dua lokasi berbeda. Masing-masing unitnya ada 10 kamar. Sekarang aku diminta buat bantu ngurusin 2 unit kosan yang ada di Muhammad Toha. Kebetulan posisinya persis di belakang rumah aku,” ungkap Nabilla.
Sejak Nabilla diberi tanggung jawab mengurus kosan bernama Pondok Kembar, perempuan berusia 20 tahun ini memiliki tugas untuk menagih iuran kos dan memberi tur singkat ke calon penghuni kos. Setiap hari Fadila meladeni berbagai tingkah laku para penghuni kosan.
“Ternyata karakter orang banyak. Nggak semua orang telaten. Ada yang jorok. Pas keluar kosan kamarnya berantakan banget, banyak kerusakan, perlu perbaikan dan biayanya lumayan gede,” keluh Nabilla. Urusan perbaikan ia serahkan kepada tukang panggilan.
Perempuan yang sudah menikah di keluarga Nabilla biasanya diberi warisan berupa kos-kosan. Selain menjadi ibu rumah tangga, mereka diberi kewajiban mengembangkan usaha itu. Namun, berbeda dari saudara-saudaranya, Nabilla ingin mengambil jalan berbeda.

Nabilla Zalfa Adiba
Foto: Dok Pribadi
“Aku mau matahin stereotipe itu. Aku mau kerja di luar cari pengalaman. Ngurusin kosan bisa sambil nyambi kerjaan utama. Kalau full ngurusin kosan doang opsi terakhir aja kalau misalkan emang kepepet banget,” ucapnya.
Nabilla terinspirasi dari kakak perempuannya yang memiliki pekerjaan di luar dan punya penghasilan sendiri. “Aku lebih ngerasa kalau diri aku, tuh, bermakna kalau bisa kerja dengan kemampuan sendiri. Sebisa mungkin aku mau kerja dan cari pengalaman.”
Kebetulan Nabilla sudah merasa cocok dengan posisinya sekarang. Mahasiswi Universitas Padjajaran, jurusan Akuntansi Perpajakan ini sedang magang di salah satu konsultan pajak di Bandung. Impiannya untuk bekerja di sana sudah tercapai. Apalagi tak hanya ilmu, Nabilla merasa sebagai generasi muda, ia masih bisa menerapkan prinsip work life balance.
“Kebetulan kantornya punya dosen aku. Jadi dosen aku nyuruh karyawannya buat kasih ilmu sebanyak-banyaknya ke anak magang, bukan cuma disuruh nge-print sama nge-scan doang. Ada hiburan juga, tiap Senin dan Kamis ada tenis meja. Kita suka latihan bareng. Lingkungannya sangat suportif,” kata Nabilla.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho