Foto: Muhammad Aqsa Hamdani beserta ibundanya saat jualan sayur di sebuah pasar di Kota Langsa, Aceh (Dok Pribadi)
Sabtu, 18 November 2023Selepas lulus kuliah, Muhammad Aqsa Hamdani mengira semuanya akan berjalan mulus sesuai rencana. Sama seperti anak muda lain, bekerja di tech industry yang terkenal, dengan budaya usaha fleksibel dan anak muda banget, merupakan impian terpendamnya. Namun, bagi laki-laki berusia 22 tahun ini, kenyataan tidak sesuai harapan. Ratusan CV yang sudah ia tebar belum membuahkan hasil.
“Cari kerja ternyata sesusah itu, sih. Lebih baik capek kerja dari pada capek cari kerja,” ucap Aqsa saat dihubungi detikX. Berbulan-bulan menjadi pengangguran, Aqsa sempat mengalami sindrom FOMO alias Fear of Missing Out saat mengetahui teman-temannya sudah terlebih dahulu mendapat pekerjaan.
Alumni Universitas Multimedia Nusantara jurusan Informatika tahun 2023 ini tahu diri. Ia tidak ingin lagi membebani kedua orang tuanya. Aqsa memilih untuk meninggalkan hiruk-pikuk kota besar. Anak ketiga dari lima bersaudara ini segera pulang ke kampung halamannya di Kota Langsa, Aceh.
Di kota kelahirannya yang terletak 400 km dari Kota Banda Aceh, Aqsa tidak bisa bekerja di kafe kekinian dengan kaos distro dan headphone yang menyantel di telinga. Pekerjaan Aqsa kini jauh dari kata keren, juga bukan pekerjaan impian para generasi Z.
“Saya bantuin usaha orang tua jualan sayur di pasar. Usaha nyokab lebih tepatnya. Usaha nyokab udah dari dia gadis sampai punya anak,” tuturnya.
Rutinitas Aqsa sebagai anak tukang sayur dimulai dengan menurunkan aneka sayur-mayur dari becak motor milik Ayahnya. Sayur-sayuran itu didapatkan dari berbagai sumber. Salah satunya kampung petani yang letaknya 20 km dari rumahnya di Kota Langsa. Barang dagangannya itu diturunkan dari becak dan dikumpulkan untuk dijual di pasar induk keesokan harinya.
Sebagai anak tukang sayur, Aqsa tidak boleh bangun siang. Pukul 04.30 WIB Aqsa mesti berangkat ke pasar dengan kedua orang tuanya. Karena tidak memiliki pegawai, kakak dan adiknya juga ikut membantu. Di lapak milik orang tuanya, Aqsa harus serba bisa. Mulai dari merapikan lapak, menyusun sayur mayur agar enak dipandang, menimbang sayur hingga menghadapi berbagai macam tipe pembeli.
“Ternyata seru juga, bisa lihat dan belajar baca karakter orang. Tapi kalau lagi ramai suka keteteran, soalnya mereka kalau datang barang-bareng. Kita dikerumunin gitu,” ucapnya. Aqsa tidak terlalu kesulitan berhadapan dengan lingkungan pasar karena sejak kecil, ia sudah dibiasakan membantu Ayah Ibunya bekerja.
Di lingkungan pasar, Aqsa mempelajari ilmu yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah. Aqsa mulai memahami seni berjualan sayur, terutama saat berurusan dengan ibu-ibu, pelanggan setia yang kalau menawar suka kebangetan. Tak jarang para ibu merayu Aqsa agar harga jualannya diturunkan sedikit. Tapi Aqsa tidak boleh goyah.
“Tiap hari kita ngehadepin itu. Mau beli cuma Rp 2 ribu juga kita kasih. Kadang keselnya udah dikasih Rp 2 ribu tapi complain sayurnya sedikit banget. Maaf, nih, 1 ons aja harganya misalkan udah Rp 7 ribu. Kuncinya diiyain aja, disenyumin, harus panjang sabar,” cerita Aqsa.

Muhammad Aqsa Hamdani, lulusan Universitas Multimedia Nusantara, kini rela membantu orang tuanya berjualan satur di pasar.
Foto: Dok Pribadi
Meski Aqsa menikmati pekerjaannya sebagai anak tukang sayur, ia tidak dapat memungkiri selentingan negatif tentang dirinya. Bagi mereka, sebagai anak yang sudah merantau ke kota besar, sudah seharusnya Aqsa bekerja di gedung tinggi dan bukan membantu usaha orang tua.
“Omongan kayak gitu ada, sih. Katanya ‘udah kuliah jauh-jauh masa jualan sayur.’ Cukup disabarin aja. Saya nggak gengsi, yang ada malah bangga bantu orang tua. Saya bisa sampai sekarang sekolah, kuliah, apa yang saya mau bisa saya dapatkan, itu dari hasil orang tua jualan sayur,” ucap Aqsa menepis orang lain yang memandang rendah dirinya.
Aqsa membuang jauh-jauh rasa gengsi dari dalam dirinya. Toh, upah yang ia terima dari hasil membantu orang tua berjualan sayur lebih besar nilainya ketimbang bekerja dengan orang lain.“Kalau dihitung-hitung bisa 2 kali UMR Jakarta. Belum bonus dan lain-lain. Kalau mau makan nggak usah ngeluarin duit lagi,” katanya.
Saat ini Awsa tengah menempuh Pendidikan magister di Universitas Pelita Harapan. Pendidikan lanjutan itu ia lakukan secara online. Selepas bekerja di pasar, kegiatannya ia lanjutkan dengan berkuliah online. Meski tetap membuka peluang untuk mencari pengalaman bekerja di luar, Aqsa tidak masalah jika diminta ayah Ibunya menjadi penerus usaha mereka.
“Mungkin saya nggak berjodoh, nih, berkarier di gedung besar. Kerja sama orang tua juga nggak masalah, bisa menghidupi kita. Mana tahu usahanya bisa lebih besar dari sekarang,” imbuh Aqsa.
***
Di usianya yang baru 21 tahun, Muhammad Aditya Pratama sudah mengalami rasanya jadi 'pemuda jompo'. Sehabis bekerja, laki-laki yang akrab disapa Adit ini sering mengeluhkan sakit pinggang dan encok. Penyakit ini muncul gara-gara Adit kerap mengangkat tabung gas elpiji 3 kg dengan postur tubuh yang salah.
“Aku bantuin Papa ngirim gas ke pelanggan. Pekerjaan fisik memang aku yang lakuin berdua sama Papa. Kalau Papa lagi sakit atau capek, aku yang gantiin. Kalau mama urusannya nyari pelanggan dan nerima order,” cerita Adit perihal usaha pangkalan gas milik orang tuanya yang dimulai sejak tahun 2020 silam.
Pernah suatu kali, saat matahari di Bandung sedang terik-teriknya, Adit diminta mengirimkan 60 tabung gas elpiji 3 kg kepada pelanggan. Dengan senang hati Adit melakukannya meski ia harus bolak-balik enam kali karena motor yang ia kendarai hanya muat 10 tabung gas saja. Pekerjaan ini ia lakukan sembari berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), jurusan Manajemen.

Mendapatkan pekerjaan di perusahaan adalah idaman bagi pelamar kerja. Sayangnya, tidak selalu mereka berhasil mendapatkan pekerjaan itu.
Foto: ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA
“Aku sekarang lagi magang sambil kuliah. Kalau magang banyak WFH (Work From Home), hampir full WFH malah. Kuliahnya juga sesekali aja offline. Karena lebih banyak di rumah jadi aku bisa bantu-bantu jualan gas,” kata pegawai magang di Meja Budar Studio, sebuah creative agency di Bandung.
Namun, belakangan ini, usaha milik Ayahnya yang sudah pensiun ini sedang mengalami penurunan. Jika dalam dua sampai tiga hari Adit dan Ayahnya sanggup menjual hingga 140 tabung gas, kini mereka hanya mampu menjual kurang dari 100 tabung gas. Menurut Adit, penurunan ini juga dialami pemilik usaha gas lainnya.
“Aku juga nggak tahu kenapa. Kalau lagi sepi gini kadang aku suka kasihan lihat orang tua. Ya udah Adit lakuin apa yang bisa dibantu,” katanya. Ayah Adit menjadikan rumah tinggal mereka sebagai tempat berjualan.
Meski penjualan gas sedang ramai, Adit merasa keuntungan yang diperoleh dari berjualan gas tidak banyak. Dari pengalamannya berjualan gas, Adit dan keluarganya memperoleh keuntungan sebesar Rp 3-4 ribu dari satu gas elpiji yang berhasil terjual.
“Aku sempat kepikiran buat bantu usaha orang tua aja kalau sudah lulus, tapi kadang masih 50:50. Gas enaknya, ya, udah ada produknya, tinggal dijalanin aja, yang nggak enak profitnya nggak terlalu besar,” katanya.
Di satu sisi Adit mengalami kebimbangan. Sebagai anak muda yang hendak lulus kuliah, Adit juga punya keinginan untuk memperluas pengalamannya di dunia kerja. “Aku mau ngerasain kerja di korporat, start up atau agensi seperti sekarang. Karena aku masih muda, aku perlu hal yang fast paced, face paced untuk melatih mentalitas,” ungkapnya.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho