INTERMESO

Menyorot Tradisi Sowan Kiai Para Capres

Silih berganti pasangan calon presiden dan wakil presiden sowan atau mengunjungi ulama menjelang pemilihan presiden. Diharapkan tak sekedar untuk suara.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 17 November 2023

Sowan kepada para ulama, khususnya kiai tradisional, menjadi tradisi yang sering dilakukan politikus di Indonesia. Lebih-lebih dilakukan bakal calon presiden dan wakil presiden yang akan maju dalam pemilihan presiden. Sowan secara harfiah diartikan menghadap, berkunjung, atau silaturahmi kepada orang yang dihormati, seperti raja, guru, atasan, dan orang tua.

Budaya sowan capres kepada ulama tidak diketahui secara pasti kapan dimulainya. Tapi budaya ini bisa ditelusuri sejak era Reformasi bergulir, ketika Indonesia mulai menerapkan sistem pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat pada 2004. Sejak saat itu, capres berupaya mendekatkan diri kepada ulama, khususnya dari ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Sebenarnya tradisi sowan sudah lama dilakukan para founding father bangsa Indonesia. Tujuannya untuk memperkokoh persatuan, kesatuan, dan kesepemahaman sesama elemen bangsa. Presiden Sukarno dikenal dekat dengan tokoh pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Dia sering bersilaturahmi ke kediaman kakek Gus Dur itu. Bahkan Sukarno sering mengundang banyak ulama dan tokoh bangsa setiap bulan Syawal ke Istana Presiden atas gagasan KH Wahab Abdullah.

Bukan itu saja. Sukarno sering meminta nasihat kepada ulama lainnya di awal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya dengan menemui KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah; Habib Ali Kwitang, Jakarta; KH Tubagus Muhammad Falak, Bogor: dan lainnya. Malah, sejak muda, Sukarno sering mendampingi HOS Cokroaminoto saat datang dan belajar kepada KH Muhammad Santri atau yang dikenal Eyang Santri (KPH Djojokusumo) di Cidahu, Sukabumi, pada 1920-an.

Rupanya, budaya sowan berlanjut hingga sekarang. Joko Widodo, saat mencalonkan diri pada Pilpres 2014, juga mendatangi sejumlah kiai dan pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pada 2019, Jokowi kembali mengunjungi sejumlah ulama di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Sementara itu, pesaingnya, Prabowo Subianto, mendatangi pondok pesantren di Krapyak, Yogyakarta, dan Al Mukmin, Ngruki, Solo.

Presiden Joko Widodo menjelang Pipres 2014 sowan ke pimpinan Popes Al-Anwar sekaligus Ketua Majelis Syariah PPP, almarhum KH Maimun Zubair (Mbah Moen).
Foto: dok. detikcom

Hal serupa dilakukan tiga capres pada Pilpres 2024, yaitu Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. Ketiganya memiliki gaya politik sowan yang berbeda-beda ketika sowan kepada sejumlah ulama dan pondok pesantren di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah lainnya. Salah satu yang paling aktif sowan adalah Ganjar Pranowo, yang ditetapkan sebagai capres PDI Perjuangan.

Ganjar mengunjungi tokoh-tokoh NU yang ada di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, di antaranya KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Ahmad Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha, Habib Luthfi bin Yahya, dan KH Muhammad Syaeful Huda. Hal yang sama dilakukan capres lainnya, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, baik sowan blusukan maupun terbuka.

“Budaya sowan capres-cawapres sudah barang tentu merujuk pada hal-hal tersebut di atas. Karena pilpres bukan hanya soal kontestasi politik, tapi juga bagian dari upaya untuk merawat komitmen kebangsaan dan mensolusikan berbagai persoalan bangsa dan negara,” kata Sekretaris Lembaga Persahabatan Ormas Islam KH Imam Pituduh kepada detikX, Kamis, 16 November 2023.

Imam mengatakan capres akan mendulang suara signifikan jika tak hanya menempatkan pesantren dan kiai sebagai ‘objek suara’. Mereka harus mampu memposisikan ulama, kiai, santri, dan pondok pesantren sebagai subjek pembangunan dan lokomotif perubahan sosial. Dialektika kebangsaan dan kenegaraan serta komitmen membangun bangsa yang lebih baik harus dilakukan, sehingga ada kesepahaman bersama untuk menata bangsa ke depan.

“Kalau tidak, sowan capres-cawapres hanya menjadi ‘formalitas yang kering dari spiritualitas’ dan tidak akan berdampak apa-apa, baik untuk kandidat maupun bagi pihak pesantren itu sendiri. Hanya blow up di media sebagai pencitraan semata,” ujar mantan Wakil Sekretaris PBNU tersebut.

Tentunya kebiasaan sowan ini untuk mendapatkan doa dan dukungan suara. Selama ini kiai dan pesantren dianggap memiliki jejaring ‘langit dan bumi’ yang efektif untuk digerakkan. ‘Jejaring langit’ dilakukan dengan doa, sementara ‘jejaring bumi’ melalui konsolidasi ekosistem pesantren yang terdiri atas santri, alumni, masyarakat sekitar, pengaruh dan pengikut setia kiai, serta ‘endorse effect’ yang bisa dikapitalisasi dalam political psywar dalam mempengaruhi pemilih muslim.

Bagi capres-cawapres yang sadar akan sejarah dan memiliki ikatan emosional secara nasionalis religius tentu tidak datang karena semata pada momen pilpres. Mereka terbiasa melakukan ziarah ke makam pahlawan atau tokoh pendiri bangsa yang ada di dalam area pesantren. Tapi faktanya mereka silih berganti secara intensif datang ke pondok pesantren menemui kiai menjelang pilpres.

KH Imam Pituduh
Foto: dok. pribadi

Dari pengalaman selama ini, kadang ada capres-cawapres yang memang masih punya komitmen untuk intens menjalin silaturahmi dan kerja bersama untuk membangun bangsa, tetapi ada pula yang terkadang lupa. “Bak mendorong mobil mogok. Setelah mobil melaju, yang dorong yang ditinggalkan. Atau seperti daun salam sebagai bumbu dalam masakan. Setelah masakan jadi dan dihidangkan, daun salamnya dibuang,” ucap Imam.

Menariknya, ada yang percaya capres-cawapres niatnya yang datang hanya untuk memperalat kiai, pesantren, atau kaum santri. Biasanya mereka akan kena getahnya pada suatu waktu. “Istilahnya di pesantren itu ada hukum ‘kualat’. Jadi nggak usah khawatir, kandidat yang cuma basa-basi pasti akan basi-basi sendiri,” imbuh Imam tersenyum.

Banyak kiai atau ulama yang prihatin melihat tokoh politik yang menjadi capres-cawapres sowan hanya demi pencitraan dan memperalat pesantren sebagai pelengkap penderita. Secara tidak sadar, mereka dianggap telah mengerdilkan peran dunia pesantren, kiai, dan santri yang sejak dulu dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia bersama elemen warga lainnya. Padahal kalangan pesantren ini jumlahnya besar dan memiliki kegiatan sosial yang besar yang tentu berkontribusi pada negara.

Capres-cawapres yang lalai atas janji dan komitmen serta meninggalkan kiai dan santri dalam membangun bangsa justru akan mengalami kerugian. Sebaliknya, terhadap capres-cawapres yang serius dan tulus, para kiai dan santri diminta atau tidak akan bersedia menjadi ujung tombak perjuangan untuk pemenangan mereka.

Warga nahdliyin atau NU selama ini kecenderungannya memilih capres-cawapres yang loyal kepada rakyat, memiliki jiwa nasionalis-religius, punya komitmen pada pembangunan berkelanjutan. Apalagi capresnya berani mewakafkan hidupnya untuk kepentingan bangsa, bukan kepentingan pribadi dan golongan, memiliki tekad lurus untuk menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan menjaga NKRI. “Siapa itu? Ada di benak warga nahdliyin tentunya, he-he-he...,” ucap Imam.

Capres-cawapres yang akan berlaga di Pilpres 2024.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom 

Pertalian antarpesantren, hubungan geneologi keilmuan dan geneologi kekerabatan kaum santri serta kiai sangatlah erat. Tidak mudah dipatahkan hanya karena kampanye pilpres, apalagi terpengaruh oleh capres-cawapres yang hanya berkunjung sekali-dua kali saja. Masyarakat sekarang, kata Imam, sangat cerdas tak mudah dikibuli janji-janji capres dan tidak akan mudah terprovokasi untuk benturan karena beda pilihan.

Imam menambahkan, kunjungan para capres-cawapres idealnya dimaknai sebagai silaturahmi (menyambut spirit persaudaraan dan kekerabatan), silatulilmi (menyambut spirit keilmuan dan peradaban), silatulamal (menyambung agenda pembangunan dan kebijakan untuk perbaikan masa depan bangsa dan negara). Lalu silatulmal (menyambung akses dan sumber daya untuk kemajuan bersama) dan silaturruh (menyambungkan spiritualitas dan hubungan rohaniyah).

Jika ada capres-cawapres yang bersedia menandatangani kontrak politik kebangsaan dan keumatan dengan serius, pasti akan disambut para kiai dan santri. Bukan hanya sekadar diskusi tak bertepi, tetapi yang dinantikan adalah bagaimana secara bersama-sama mencari solusi masalah ke depan.

Harus bisa menyusun roadmap dan blue book pembangunan bersama dengan kiai dan kaum santri. Rancangan rencana Kebijakan strategis yang berdampak pada perbaikan. “Itu idealnya yang dilakukan. Bukan hanya formalitas yang kering dari kunjungan, yang hanya menyisakan cerita dan atau derita saja, ha-ha-ha...,” pungkas Imam seraya tertawa.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE