INTERMESO

Kisah Lelucon
Capres-cawapres Dildo

Menjelang Pilpres 2024, Nurhadi kembali menjaring cawapres guyonan. Ada yang berminat?

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 3 November 2023

Pagi-pagi sekali, Nurhadi, 54 tahun, sudah berada di Pasar Bruyung, Kecamatan Mejabo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sebagai salah satu penyewa kios di pasar tersebut, tak ada perlengkapan jualan yang disiapkannya pagi itu. Tidak ada pula barang dagangan yang hendak dijual kepada para pembeli.

Ya, memang, Nurhadi tidak lagi menjadi pedagang di pasar itu. Sejak 2004, ia memutuskan banting setir dari pedagang pakaian menjadi tukang pijat. Di kios sederhana berukuran 2x4 meter, Nurhadi membuka jasa pijat refleksi dari pagi sampai sore hari. Ia juga melayani jasa pijat panggilan.

“Kalau dipanggil jauh, (sampai) Jakarta. Soal tarif, tidak menarif kalau ke sini. Kalau saya dipanggil, narif. Ya, begitu cowok panggilan,” kata Nurhadi dengan guyonan khasnya saat berbincang dengan detikJateng di kiosnya pada Kamis, 2 November 2023.

Banyak pasien baik laki-laki maupun perempuan yang menjadi pelanggan Nurhadi. Mereka datang dengan berbagai keluhan penyakit. Bahkan... psst… yang terkait dengan urusan di atas ranjang. Menurut Nurhadi, perempuan juga mengalami problematika seksual. “Tapi pada perempuan dianggap bukan masalah dan diam,” katanya.

Setop dulu. Anda yang membaca tulisan ini sampai di sini pasti sudah menebak-nebak kalau Nurhadi adalah sosok yang terkenal pada masa Pilpres 2019. Dia adalah calon presiden guyonan yang wajahnya bertebaran di jagat media sosial, bahkan bersaing dengan capres-cawapres resmi Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Ya, Anda betul 100 persen.

Poster pasangan Nurhadi-Aldo 
Foto: Facebook Nurhadi-Aldo

Supaya lebih segar lagi, mari mengingat-ingat kegayengan yang dimunculkan Nurhadi bersama ‘cawapresnya’, Aldo Suparman, lima tahun silam. Nurhadi dan Aldo hadir sebagai capres-cawapres dengan akronim 'Dildo'. Nama Nurhadi ditulis dengan tinta merah pada bagian ‘DI’ dan nama Aldo ditulis warna merah juga pada huruf ‘LDO’.

Selain cawapres ‘ala-ala’, Aldo merupakan tokoh fiktif. Dalam spanduk kampanye Pilpres 2019, Nurhadi disandingkan dengan sosok Aldo, yang fotonya dicomot sang pembuat dari foto Dr Drs Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, Rektor Universitas Warmadewa dan Ketua Yayasan Kesejahteraan Korps Pegawai Negeri (Korpri) Provinsi Bali.

Selayaknya capres-cawapres, Nurhadi-Aldo pun diusung partai politik bernama Partai untuk Kebutuhan Iman (PUKI). Partai yang juga fiktif ini membentuk koalisi tanpa peserta lain, yaitu Koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asyik. Kata tronjal-tronjol dalam bahasa Jawa diartikan sebagai terabas-terobos atau tindakan tak beraturan.

Nurhadi-Aldo ternyata memiliki tim sukses yang memasarkan paslon di media sosial. Mereka juga menyebarkan kutipan-kutipan guyon ala paslon Nurhadi-Aldo alias Dildo. Ini masih bisa dilihat pada spanduk yang dipasang di kios pijat dan jamu milik Nurhadi. Di antaranya bertulisan ‘Jangan mengulangi kesalahan yang sama karena kesalahan yang lain masih ada’, lalu ada tulisan ‘Waktu Tak Dapat Diputar, Dijilat, Apalagi Dicelupin’, ‘Saya Itu Ganteng Turunan, Tapi Kalau Nanjak ya Jelek Lagi’.

Lantas bagaimana Nurhadi mengenang keisengan lima tahun silam? Menurutnya, gagasan capres guyonan pada 2019 itu muncul dari sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Angka 10. “Itu gagasannya Mas Edwin dan teman-temannya. Saya dimintai presiden guyonan, terus saya kasih nama Presiden Tronjal-Tronjol dengan nomor urut 10 sesuai dengan komunitas saya, Komunitas Angka 10,” tutur Nurhadi.

Nurhadi sedang memijat pelanggan.
Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Nurhadi menerangkan Komunitas Angka 10 memiliki makna bahwa angka 1 adalah simbol Tuhan, sedangkan angka 0 adalah ikhlas. Jadi Komunitas Angka 10 itu bisa dimaknai mencintai Tuhannya dan mengikhlaskan semua amalan. “1 itu Tuhan, 0 itu ikhlas, karena kemuliaan manusia apabila kita mencintai Tuhannya dan bisa mengikhlaskan semua amalan,” ujar pria lulusan madrasah aliyah itu.

Tapi uniknya, Nurhadi tak mengetahui para pemuda yang ada di dalam komunitas itu. Sebab, semuanya bertemu di dunia maya. Yang jelas, lanjut Nurhadi, mereka bukanlah kader-kader partai politik. “Edwin mungkin sudah kuliah. Dulu ada yang ojek, tapi kecerdasannya luar biasa. Dari Yogyakarta, Jakarta, Sumatera, Kalimantan,” katanya.

Nurhadi juga mengakui Aldo adalah sosok fiktif. Dia tak pernah berjumpa dengan Aldo. Apalagi dengan sosok yang disebutkan sebagai Anak Agung Gede Oka Wisnumurti dari foto yang beredar. “Aldo yang kasih tambah Suparman, saya sendiri tidak kenal. Anak-anak itu saya mintai penjelasan, Pak Aldo katanya memang fiktif. Saya belum pernah ketemu,” jelasnya.

“Itu juga tidak mengerti, tentang orang yang disebut (Anak Agung Gede Oka Wisnumurti Rektor Universitas Warmadewa dan juga Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali), tahunya gambar, mereka tak menjawab detail. Ya, tidak apa-apa. Sampai sekarang aman-aman saja,” lanjut Nurhadi tersenyum.

Nurhadi melontarkan candaan lagi bahwa dirinya sempat mendaftarkan pasangan Nurhadi-Aldo atau Dildo ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun, ketika datang, kantor KPU selalu tutup karena dirinya datang setiap tengah malam setelah menunaikan tugas rutin, yakni memijat pasien. “Kita datang ke KPU pasti tutup, datangnya pas malam. Kampanyenya like dan share lewat komunitas saja.”

Nurhadi di kios tempat pijatnya
Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Walau begitu, Nurhadi-Aldo tetap melakukan kampanye melalui medsos. Kampanye itu dalam definisi Nurhadi adalah memposting kata-kata lelucon yang bertujuan menghibur masyarakat di tengah panasnya suhu politik kala itu, yang tengah memilih sosok Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. “Dengan kata-kata yang menghibur, seperti 'jika orang lain bisa, kenapa harus kita?',” ucapnya.

Nurhadi mengatakan hingga kini banyak warga dan pasien yang dipijatnya merasa bangga dengan dirinya yang pernah menyandang sosok capres. Malah di antara warga dan pasiennya meminta berswafoto dengan dirinya. “Tidak ada masalah di keluarga, tetangga baik-baik saja. Ketemu saya ya ramai, terus presiden sampai saat ini dikenal presiden. Senang, terus banyak yang mengajak foto,” tuturnya.

Menghadapi Pilpres 2024 ini, Nurhadi kembali menjaring sosok cawapres sebanyak-banyaknya. Karena itu, Nurhadi mempersilakan warga yang ingin memasang foto dirinya dengan orang lain. Tetapi pesannya yang terpenting tidak melanggar aturan agama dan negara. “Tahun 2024 ini karena saya sudah jadi presiden tinggal mencari wakil sebanyak-banyaknya, terserah siapa pun, Noval, terus apalagi Pak Adam, itu tidak tahu yang ngedit,” jelas Nurhadi tertawa.

Nurhadi pun berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar berpartisipasi dalam Pemilu 2024 dan tidak memilih golput. Sebab, keikutsertaan masyarakat dalam pemilihan umum akan menentukan kebaikan negara ke depannya. Warga masyarakat harus memilih yang terbaik. “Pesan saya, tetaplah berbuat baik untuk kebaikan bersama untuk tetap bekerja dan berkarya. Arahan politik itu rahasia, pilihan harus ada dan harus punya pilihan,” pungkas Nurhadi.


Reporter: Dian Utoro Aji (Kudus)
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE