INTERMESO

Mengapa Pramugari Whoosh Harus Bisa Bahasa Mandarin?

"Mereka di sini sampai proses transfer knowledge-nya selesai. Mungkin setelah 2-3 tahun baru sepenuhnya akan dioper ke kita."

Foto: Pramugari Kereta Cepat Indonesia-China (Agung Pambudhy/detikcom)

Minggu, 15 Oktober 2023

Di saat orang lain masih terlelap, Nadila Alvionita sudah sibuk memainkan peralatan make up di meja rias. Kali ini, Nadila memilih perpaduan warna coklat dan oranye untuk menghiasi kelopak matanya. Dengan sangat hati-hati, ia mencampurkan kedua warna itu. Sesekali Nadila menengok jam dinding di rumahnya di Kawasan Binataro, Tangerang Selatan. Nadila harus bergerak cepat karena pukul 05.00 ia sudah harus berangkat menuju Kantor Pusat Kereta Cepat Indonesia China yang terletak di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jakarta Timur.

“Saya bangun pagi pukul 04.00. Siap-siapnya di rumah satu jam. Nanti pukul 06.00 sudah sampai kantor,” katanya. Beginilah rutinitas Nadila setiap pagi setelah dirinya resmi terpilih sebagai pramugari atau conductor di kereta cepat Jakarta Bandung. Nadila mulai aktif bekerja sejak pertengahan Agustus lalu.

Begitu perempuan berusia 24 tahun ini tiba di kantor, Nadila dan pramugari lain yang hendak bertugas kembali melanjutkan persiapan. Di kantor yang bersebelahan dengan Stasiun Kereta Cepat Halim ini, Nadila baru mengganti pakaian dengan seragam. Selanjutnya, ia menata rambutnya, lalu memasang topi. Untuk mempermanis tampilannya, Nadila memasang anting mutiara di kedua telinganya.

“Untuk penampilan kita mulai dari make up, warna sepatu sampai posisi name tag semua sudah ada standarnya, kita tinggal mengikuti saja jadi tidak melenceng,” kata Nadila sambil membantu memasangkan hair net di rambut rekan kerjanya. Untuk merk hair spray yang ia gunakan, Nadila dan rekan-rekannya sampai harus membelinya dari Australia. “Kita jastip soalnya merk ini nggak dijual di sini. Cuma merk ini yang kena angin pun tetap tahan. Antibadai ini.”

Nadila Alvionita, pramugari kereta cepat Whoosh
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Lagi-lagi Nadila harus buru-buru menyelesaikan persiapannya. Pukul 07.00 nanti, Nadila sudah harus berpindah dari kantor KCIC menuju Stasiun Kereta Cepat Halim untuk melakukan apel bersama. Beruntung kantor KCIC dan Stasiun Halim masih berada dalam satu kompleks yang sama. Menggunakan mobil, Nadila bertolak menuju area stasiun. Nadila akan melayani keberangkatan Whoosh rute Jakarta-Bandung pertama dari Stasiun Halim pada pukul 08.45 WIB.

“Di stasiun kita melakukan briefing untuk mengetahui berapa penumpang, tujuan ke mana, nomor kereta, seperti itu. Ketika sudah di-briefing, kita melakukan boarding ke posisi masing-masing. Kan ada pembagian wilayah blocking areanya,” tutur perempuan asal Jakarta ini. Begitu tiba di Stasiun, para pramugari dan semua staf yang bertugas di dalam kereta tidak diizinkan menggunakan telepon genggang. Chief Management Agent ditugaskan untuk mengumpulkan handphone mereka.

Setidaknya saat berdinas, ya, kita bisa mengerti lah sedikit-sedikit bahasa mereka karena setiap hari kita bekerjanya sama mereka juga, kan."

Selama berada di area stasiun, Nadila tidak boleh ke sana kemari sesuka hati. Maka dari itu, mustahil menemukan Nadila sedang jajan di salah satu tenant di Stasiun Halim. Layaknya pasukan Paskibra, para pramugari ini juga memiliki berbagai aturan baris berbaris dan formasinya sendiri. Formasi ini bisa ditentukan oleh jumlah orang dan tingginya jabatan mereka.

detikX ikut dalam perjalanan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dilayani Nadila. Ia tak sendiri. Nadila juga ditemani oleh Desy Setiawati. Mereka sama-sama bertugas untuk melayani penumpang di kelas first class dan bisnis. Nadila dan Desy merupakan Angkatan pertama yang berhasil terpilih menjadi pramugari Kereta Whoosh. Dari 6000 peserta, saat itu hanya 12 orang perempuan yang lolos.

“Sangat bangga sama seneng soalnya ini adalah sejarah bagi hidup saya karena bisa menjadi yang pertama ikut berkontribusi di kereta cepat pertama di Indonesia dan se-Asia Tenggara. Bisa dibanggakan kepada keluarga juga,” kata Desy, perempuan berusia 23 tahun asal Bandung, Jawa Barat ini.

Desy Setyawati, pramugari kereta cepat Whoosh
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Karena antusias masyarakat untuk menjajal kereta cepat ini begitu tinggi, sebelum masuk ke dalam kereta, mereka tak henti-hentinya berpose dengan Whoosh. Nadila dan Desy juga tak kuasa menolak ajakan para penumpang untuk berswa foto bersama. Di dalam area Stasiun Halim, Desy dan Nadila bak artis yang kehadirannya selalu mencuri perhatian.

Berbagai artis ternama yang sudah ikut menaiki kereta cepat ini seperti Raffi Ahmad, Asri Welas, Vino G Bastian maupun Vanesha Prescilla juga berebut foto dengan Nadila dan Desy.“Jadinya kebalik ini malah kita yang dimintain foto,” kata Desy.

Menjelang waktu keberangkatan pukul 08.45 WIB, petugas stasiun yang berada di luar rangkaian Whoosh mulai mengarahkan penumpang untuk segera masuk ke dalam kereta. Jika area peron sudah bersih dari penumpang, petugas stasiun melaporkan kepada Chief Conductor bahwa kereta sudah siap diberangkatkan. Berbeda dengan Nadila dan Desi yang mengenakan blazer dan rok, Chief Conductor nampak lebih berwibawa dengan setelan jas.

detikX juga bertemu dengan salah satu Chief Conductor, Fica Farica Reyhan. Sebelum bekerja di KCIC, Fica pernah punya pengalaman bekerja sebagai Customer Service on Train di Stasiun Malang. Di dalam Whoosh, Fica bergerak dari satu gerbong ke gerbong lain sambil membawa alat komunikasi HT. Fica memastikan semua kegiatan penumpang dan pelayanan kru berjalanan dengan lancar.

“Setelah mendapat laporan dari petugas stasiun bahwa proses naik turun penumpang sudah selesai, informasi itu kita sampaikan ke masinis lewat translator,” tutur Fica.

Bagi staf KCIC, keterampilan berbahasa Mandarin memang diperlukan karena mereka masih harus berkolaborasi dengan tenaga kerja asal China. Seperti masinis yang mengoperasikan Whoosh masih sepenuhnya dipegang oleh pekerja asal negara tirai bambu ini. “Mereka di sini sampai proses transfer knowledge-nya selesai. Mungkin setelah 2-3 tahun baru sepenuhnya akan dioper ke kita.”

Fica Farica Reyhan, pramugari kereta cepat Whoosh
Foto: Chief Conductor kereta cepat Whoosh

Untuk memperlancar proses komunikasi dan menghindari kesalahan teknis, seluruh staf KCIC yang bertugas di lapangan diwajibkan untuk mengikuti kelas Bahasa Mandarin. Fica masih rutin mengikuti kelas Mandarin. Terdapat serangkaian ujian untuk mengetes kemahiran berbahasa Mandarin Fica.

“Selama ini memang selalu ada satu translator di dalam kereta. Tapi memungkinkan juga tidak ada translator, jadi mau tidak mau seorang Chief Conductur harus bisa menguasai Mandarin. Kalau sekarang tidak ada translator terpaksa kita pakai Google Translate,” kata perempuan lulusan Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Brawijaya, ini.

Ketika melamar ke KCIC, Fica tidak diwajibkan untuk memiliki kemahiran dalam berbahasa Mandarin. Ia hanya diharuskan untuk memiliki kefasihan dalam berbahasa Inggris. Materi kelas bahasa Mandarin yang diajarkan selama dua bulan ini lebih berfokus pada percakapan sehari-hari. “Setidaknya saat berdinas, ya, kita bisa mengerti lah sedikit-sedikit bahasa mereka karena setiap hari kita bekerjanya sama mereka juga, kan.”

Sejauh ini Whoosh Experience Program terus mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Setelah sukses dengan tahap pertama pada 3-7 Oktober 2023 dan tahap 2 pada 8-10 Oktober 2023 dengan total penumpang mencapai 18 ribu orang, KCIC kembali membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin merasakan pengalaman perjalanan Jakarta-Bandung dengan Kereta Cepat pertama di Asia Tenggara secara gratis untuk periode 11-16 Oktober 2023.


Reporter: Abdurrobby Rahmadi
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE