INTERMESO

Menjadi Pramugari Pertama Kereta Cepat

“Aku senang banget. Apalagi aku angkatan pertama. Rasanya pengin cepat-cepat bergabung dan berkontribusi di kereta cepat pertama di Indonesia.”

Foto: Dok. PT KCIC

Sabtu, 14 Oktober 2023

Ribuan perempuan muda memenuhi Kantor Pusat Kereta Cepat Indonesia China yang terletak di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jakarta Timur. Mereka kompak mengenakan setelan blus dan rok selutut. Sanggul rambut model french twist serta riasan di wajah membuat penampilan mereka nampak semakin apik. Hari itu, sekitar 6000 orang dikumpulkan untuk mengikuti serangkaian proses seleksi pramugari perdana kereta cepat Whoosh.

Dari arah pintu masuk, Aulia Fatul muncul dengan nafas tersengal-sengal. Peluh keringat membasahi pelipis hingga wajahnya. Aulia menengok ke arah jam tangan, ternyata ia sudah telat 15 menit dari jadwal yang sudah ditentukan. Perempuan yang berdomisili di karawaci, Kota Tangerang, Banten, ini sempat khawatir keterlambatannya akan membuat dirinya didiskualifikasi.

“Karena masih nggak familiar sama lokasinya, pertama kali ke sini saya nyasar. Tapi Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan,” ucap Aulia senang. Namun, ketika melihat perempuan-perempuan cantik lain berkumpul di sana, Aulia sempat merasa pesimis. “Sainganannya unggul-unggul semua jadi saya jiper juga. Waduh, ini keterima nggak, nih? Saya kepengin banget keterima masuk di sini.”

Tidak ada tolak ukur yang dapat Aulia jadikan patokan untuk memenuhi kriteria posisi conductor atau pramugari kereta cepat ini. Perempuan berusia 23 tahun ini hanya mengandalkan pengalamannya bekerja di bidang hospitality di sebuah hotel bintang lima Jakarta. Dilansir dari media sosial KCIC, syarat umum yang harus dipenuhi Aulia dan calon pramugari lain di antaranya adalah berusia minimal 18 tahun dan maksimal 28 tahun, memiliki ijazah minimal SLTA/Sederajat, dan memiliki tinggi minimal 160 cm.

Aulia Fatul saat bertugas menjadi pramugari kereta cepat Whoosh
Foto: Agung Pambudhi/detikcom 

Aulia mengikuti berbagai tahapan seleksi yang panjang dan melelahkan. Ada sekitar lima tahapan yang dilalui Aulia, mulai dari administrasi, wawancara, tes psikologi, penawaran dan penandatanganan kontrak. Selama proses wawancara, Aulia ‘diinterogasi’ oleh enam orang selektor secara bergantian. Anak kedua dari tiga bersaudara ini sempat ditanyakan kesediaannya untuk menghitamkan rambutnya yang berwarna pirang. Tak disangka, Aulia diminta untuk melakukan unjuk bakat.

“Peserta lain ada yang menari, ada yang taekwondo, ada yang silat. Pada saat itu saya nyanyi. Saya penyanyi kamar mandi aja, sih, sebetulnya,” katanya sembari tertawa. “Perusahaan meminta kita unjuk bakat menurut saya, sih, untuk melihat kepercayaan diri kita sejauh apa.”

Dari 25 orang Chief Conductor yang terpilih, hanya ada 2 orang perempuan yang mengisi posisi ini."

Masa paling menegangkan bagi Aulia dan peserta lain adalah saat mereka diminta untuk menunggu hasil seleksi. Selama lebih dari tiga minggu, Aulia menanti kabar baik dengan hati yang tidak karuan. Ditambah lagi saat itu Aulia tengah menganggur karena sudah lebih dahulu mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya. Beruntung masa penantian Aulia tidak sia-sia, ia lolos tahap seleksi KCIC untuk mengisi posisi conductor. Dari 6000 peserta seleksi, hanya 12 orang yang berhasil lolos pada gelombang pertama.

“Aku senang banget. Apalagi aku angkatan pertama. Rasanya pengin cepat-cepat bergabung dan berkontribusi di kereta cepat pertama di Indonesia,” tutur perempuan yang punya bisnis kecil-kecilan di bidang kuliner ini.

Aulia belum bisa bernafas lega karena ia masih harus mengikuti serangkaian pelatihan selama dua bulan. Pelatihan ini ditujukan agar calon pramugari bisa memberikan pelayanan kepada penumpang secara paripurna. Termasuk menguasai peralatan darurat dan prosedur keselamatan di dalam gerbong kereta. Aulia juga dilatih untuk menguasai standar dalam berpenampilan saat bertugas mulai dari riasan hingga pakaian yang dikenakan. Pelatihan ini secara khusus dilakukan oleh ahli yang biasa memberikan pelatihan serupa di perusahaan maskapai BUMN.

“Ada yang berubah jadi beda banget penampilannya setelah ikut training grooming ini. Aku sendiri dalam merias wajah juga merasakan perbedaan,” kata Aulia. Dalam setiap pelatihan terdapat ujian. Jika peserta gagal melewati ujian itu, maka mereka diwajibkan untuk mengulang pelatihan.

Gelombang pertama seleksi pramugari kereta cepat Whoosh terdapat 12 pelamar yang terpilih

Foto: Agung Pambudhy

Pramugari kereta cepat bertugas melayani dan menjaga keselamatan penumpang

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Seleksi pramugari kereta cepat melalui berbagai tahapan, mulai dari seleksi administrasi, wawancara, hingga test psikologi. 

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Sebagai pramugari KCIC gelombang pertama, Aulia mendapatkan kesempatan langka untuk melayani Presiden Joko Widodo beserta para jajaran Menteri pada masa percobaan KCIC. Seumur-umur, baru kali ini Aulia dapat melihat orang nomor satu di Indonesia itu dari jarak dekat. Saat melayani rombongan istri Presiden RI, Aulia sempat berpapasan dengan Iriana dan mendapat pujian.

“Beliau (Iriana) naik dari ekskalator, terus kan ibu kearah gerbong ini, saya posisinya di cars (gerbong) 5, di deket dining bar. Beliau memuji penampilan kita ‘Hai mba.. cantik-cantik ya’. Aduh ya Allah senang banget rasanya,” cerita Aulia kegirangan.

Aulia mengenakan pakaian dengan corak batik Megamendung khas Jawa Barat, Cirebon. Corak yang sama dibalutkan pada tempat duduk kelas ekonomi. Seluruh seragam petugas KCIC dirancang secara khusus oleh perancang ternama Didiet Maulana.

***

Di antara para pramugari berparas ayu ini, Alya Hafizha Syahidna merupakan perempuan terpilih. Ia mengisi jabatan Chief Conductor. Berbeda dengan pramugari, Fica nampak lebih berwibawa dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam, dasi merah dan sebuah topi khusus. Di KCIC posisi ini lebih dominan diisi oleh laki-laki. Jabatan Chief Conductor ini membawahi conductor.

“Dari 25 orang Chief Conductor yang terpilih, hanya ada 2 orang perempuan yang mengisi posisi ini,” kata Alya saat ditemui di kantor KCIC. Perempuan kedua yang menjabat posisi Chief Conductor bernama Fica Fareca Reyhan. “Kalau bangga, sih, pasti bangga ya. Mmakanya saya nggak mau kalau misalnya saya kerja setengah-setengah. Jadi saya berusaha untuk semaksimal mungkin.”

Perempuan lulusan D3 Manajemen Transportasi Perkeretaapian, Politeknik Perkeretaapian Indonesia, ini sebelumnya pernah bekerja di KRL Commuterline. Alya mengampuh jabatan sebagai Customer Service on Train di KRL Commuter Line wilayah 6 Yogyakarta selama lebih dari satu tahun. Alya menemukan kesamaan antara posisinya sekarang dengan pekerjaan sebelumnya.

“Sama-sama bertanggung jawab pada keselamatan dan keamanan penumpang. Seperti misalkan proses naik-turun penumpang. Dari segi pelayanannya juga, pelayanan berupa apa? Mungkin informasi di atas kereta, di mana kereta itu berhenti, lalu apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kereta. Lalu bagaimana mereka menemukan tempat duduknya,” terang perempuan berusia 25 tahun ini.

Alya Hafizha Syahidna, salah satu dari dua chief conductor kereta cepat Whoosh
Foto: Dok Pribadi 

Seorang Chief Conductor bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi di dalam kereta. Termasuk untuk mengatur kru dan penumpang. Untuk itu, selama dua bulan mereka secara khusus diberikan pelatihan kepemimpinan.

“Karena pergerakan kereta, kan, cepat. Untuk bengong di atas kereta aja, tuh, nggak sempet, kan. Jadi, bagaimana kita kayak manage waktu supaya nggak terjadi sesuatu hal yang miss, sampai mengganggu operasional dan mengganggu kenyamanan penumpang,” ungkapnya.

Antusias masyarakat Indonesia begitu tinggi untuk segera menjajal kereta cepat Jakarta-Bandung ini. Meski harus berebut tiket, belasan ribu masyarakat sudah merasakan kecepatan laju kereta ini. Semakin tingginya arus penumpang membuat Alya harus semakin gesit. Saat kereta sedang berhenti di stasiun, Alya hanya punya waktu dua menit untuk melakukan naik turun penumpang. Alya harus berhadapan dengan penumpang yang tak kunjung naik ke dalam gerbong karena ingin mengabadikan kereta cepat dari luar rangkaian.

“Yang krusial sampai saat ini mungkin naik-turun penumpang, karena dari segi aspek safety-nya juga kan. Penumpang masih perlu banyak belajar tentang keselamatan diri di atas kereta. Kalau KRL masih bisa ganjel pintu buat masuk, kalau di sini nggak bisa, semua pintu sudah otomatis,” ucapnya.


Reporter: Abdurrobby Rahmadi
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE