Musim kemarau kering melanda Indonesia. Sebagian besar wilayahnya didominasi suhu panas berlebihan bak ‘neraka bocor’. Bahkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mewanti-wanti agar mewaspadai aktivitas yang memicu kebakaran hebat. Situasi panasnya suhu pada musim kemarau kering ini rawan berdampak kebakaran yang susah dipadamkan.
"Masyarakat dimohon selama bulan Oktober ini kondisinya masih kering, maka tidak dibakar pun bisa terbakar. Jadi jangan mencoba-coba untuk dengan sengaja atau tidak sengaja untuk mengakibatkan nyala api karena pemadamannya akan sulit untuk dilakukan," kata Dwikorita di Jakarta, Selasa (3/10/2023).
Periode puncak kemarau ini terjadi karena dampak El Nino. Ini merupakan salah satu varian iklim di Samudera Pasifik yang berada pada fase angin pasat. Hal ini berarti Indonesia mengalami peningkatan risiko kekeringan meteorologis.
Berdasarkan prediksi curah hujan bulanan BMKG, beberapa wilayah akan mengalami curah hujan bulanan dengan kategori rendah (0—100 mm/bulan) meliputi: Sumatera bagian tengah hingga selatan, pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.
Prakiraan BMKG, awal musim hujan umumnya berlangsung Oktober-Desember, tetapi diperkirakan akan mundur. Sedangkan puncak musim hujan diperkirakan Januari-Februari 2024.
"Jadi keringnya musim kemarau saat ini sesuai prediksi bulan Februari lalu, akibat dari pengaruh El Nino dari Samudera Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) dari Samudera Hindia yang saling menguatkan. Atau dengan kata lain superposisi fenomena El Nino dan IOD positif tersebut menyebabkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia menjadi jauh lebih sedikit," terangnya.
Bahkan sudah lebih dari dua bulan, beberapa wilayah di Indonesia tidak mengalami hujan sama sekali. Bahkan jika dicermati dari data BMKG, pada Agustus dan September lalu, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Timur dominan kekurangan atau defisit ketersediaan air bagi tanaman. Daerah tersebut juga mengalami hari tanpa hujan secara berkait kelindan ekstrem selama lebih dari 60 hari. Wilayah terparah bahkan mengalami hari tanpa hujan hingga 126 hari, yaitu di wilayah Sumba Timur dan Rote Ndao.
Fenomena El Nino moderat diprediksi berlangsung hingga Februari 2024. Ini prediksi berdasarkan monitoring dan analisis sumbu muka air laut. Yang memprediksi hal ini tidak hanya Indonesia, tetapi berbagai lembaga semacam BMKG di belahan dunia.
“Angin timuran dari gurun Australia yang menuju Indonesia yang mengakibatkan musim kemarau itu pengaruhnya di bulan November semakin lemah, tergantikan oleh angin dari arah Asia atau tergantikan dengan musim hujan,” ujarnya.
Belakangan, suhu panas yang terik pada siang hari mencapai suhu 35—38.0 °C. Angka tersebut terdeteksi di Kantor Stasiun Klimatologi Semarang, Jawa Tengah dan di Stasiun Meteorologi Kertajati, Jawa Barat. Sedangkan di wilayah Jabodetabek, maksimum terukurnya kisaran 35.0—37.5 °C. Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto kondisi cuaca semacam ini terjadi di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara. Penyebabnya, minimnya tingkat pertumbuhan awal untuk menghalau datangnya cuaca yang cerah.
"Kondisi ini tentunya menyebabkan penyinaran matahari pada siang hari ke permukaan bumi tidak mengalami hambatan signifikan oleh awan di atmosfer, sehingga suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik. Seperti diketahui, bahwa saat ini sebagian besar wilayah Indonesia terutama di selatan ekuator masih mengalami musim kemarau dan sebagian lainnya akan mulai memasuki periode peralihan musim pada periode Oktober—November ini, sehingga kondisi cuaca cerah masih cukup mendominasi pada siang hari," jelas Guswanto.
Fenomena astronomis ini, kata Guswanto, tidak berdiri sendiri dalam mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem di permukaan bumi. Faktor-faktor lain seperti kecepatan angin, tutupan awan, dan tingkat kelembapan udara memiliki dampak yang lebih besar juga terhadap kondisi suhu terik di suatu wilayah seperti yang terjadi saat ini di beberapa wilayah Indonesia.
"BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan dan dampak buruk lainnya," ujarnya.
Pada bulan Oktober hingga November 2023, wilayah Indonesia umumnya diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah, sedangkan pada bulan Desember 2023 diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah hingga tinggi.



