Foto: Karyawan di kawasan perkantoran SCBD memesan makan di warteg lewat lubang pagar kawasan tersebut. (Abdurrobby Rahmadi/detikcom)
Minggu, 08 Oktober 2023Ketika jam makan siang tiba, rombongan karyawan bersetelan rapi mengenakan lanyard memadati area di dekat parkiran Grand Lucky, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Di belakang parkiran sepeda motor, ada sebuah dinding yang memisahkan bangunan supermarket yang menjual produk-produk impor itu dengan sebuah kompleks permukiman. Para karyawan maupun supir ojek online nampak mengerubungi lubang-lubang yang terdapat di antara dinding itu. Salah satunya lubang berbentuk persegi berukuran kurang lebih 30x30 cm.
Lewat lubang ini, mereka tengah memesan makanan dan minuman. Dari dalam lubang ini, pemilik warung menyediakan beraneka pilihan makanan untuk mengisi perut para pekerja di kawasan elite SCBD. Varian makanannya cukup lengkap, mulai dari nasi rames, mie instan, nasi goreng, mie ayam, soto, hingga aneka gorengan.
“Mie ayam dan es teh manis satu,” teriak Donny Praditya, salah satu pembeli yang memesan lewat lubang itu. Tak sampai 15 menit, pesanan Donny sudah terbungkus rapi dalam sebuah kotak sterofoam dan gelas plastik lengkap dengan sedotannya. Untuk seporsi mie ayam dan es teh manis, Donny hanya perlu mengeluarkan uang tak lebih dari Rp 20 ribu.
“Ini saya malah dikasih bonus bakwan goreng. Di mana lagi makan murah kalau nggak di sini?" ucap Donny yang rutin makan siang di warung lubang. Tidak ada meja dan kursi untuk makan. Alhasil, Donny duduk lesehan seadanya di pinggir lubang. Ketimbang makan di mall, tempat semacam ini menjadi penyelamat bagi karyawan di kawasan SCBD yang ingin menghemat ongkos makan siang.

Lubang warteg di pagar kawasan SCBD dikerumuni oleh karyawan.
Foto: Abdurrobby Rahmadi/detikcom
Sudah sepuluh tahun Donny bekerja sebagai auditor di salah satu perusahaan akuntan di kawasan SCBD. Dari hasil pengamatan Donny, sebelum lubang ini eksis, karyawan yang ingin makan di warung harus berjalan memutar jauh untuk sekedar membeli makan dan minum. Mungkin karena peminatnya terus bertambah, pemilik warung akhirnya melubangi tembok pembatas itu. Lubang sengaja dibuat untuk memudahkan akses pelanggan seperti Donny.
Lubang tembok tersebut bukan cuma satu. Ada lubang berbentuk persegi panjang di pojok parkiran sepeda motor yang khusus menjadi tempat pemesanan kopi dan gorengan. Ada juga lubang kedua yang berukuran 30x30 cm untuk menyediakan makanan seperti soto, tongseng, aneka minuman dan menu warteg.
"Dengan adanya lubang itu jadi nggak perlu jalan jauh. Makanannya juga murah dibandingkan saya harus beli makanan di dalam gedung. Apalagi kalau di mall, bakal lebih mahal lagi," ujar Donny yang hanya sesekali makan siang di mall dekat Kawasan SCBD.
“Sesekali aja, mungkin sekitar 2-3 kali dalam setahun makan di restoran elite di sekitar sini. Itupun kalau misalkan ada yang ulang tahun, acara dari kantor, atau kalau lagi dapat bonus dari kantor,” ungkap Donny. Sehari-hari ia lebih memilih makan di tempat sederhana semacam ini. Jika setiap hari makan di restoran mahal, tentu akan menguras kantongnya.
Makan murah di kawasan SCBD tak perlu mahal jika tahu seluk beluknya. Harga makanan di warung sederhana di dekat kawasan itu tak hanya terjangkau bagi para pekerja biasa, bahkan bagi para OB (Office Boy), supir, maupun pekerja bangunan yang sedang bekerja. Jika sudah menguasai 'peta' warung sederhana dengan lokasi yang pas, harga yang kompetitif serta jaminan rasa yang pas di lidah dapat dengan mudah ditemui.

Kantin di Mall Pacific Place
Foto: Abdurrobby Rahmadi/detikcom
Selain warung lubang, karyawan di sekitaran kawasan ini kerap makan siang di kantin karyawan Mall Pacific Place. Tepatnya berada di lantai P1, P2, dan P4. Lokasi ini bisa dijangkau dengan lift dari dalam mall. detikX sempat menyambangi kantin P1 yang ramai di jam makan siang. Area kantin rupanya tak terlalu besar dengan sekitar 22 penjual menempati sisian kanan dan kiri ruangan. Sementara area bersantapnya ada di bagian tengah.
Jenis makanan yang dijajakan antara lain nasi dengan lauk khas Sunda, hidangan China, nasi kebuli, nasi Padang, bakso, mie ayam, gado-gado, ayam bakar, ayam penyet, dan lauk prasmanan. Juga sebuah stan minuman yang hanya menyediakan minuman praktis seperti air mineral botol dan teh kemasan. Meski tampak sederhana, kantin ini bersih dan nyaman untuk disinggahi. Meja dan kursi tertata rapi seperti kantin pada umumnya. detikX mengobrol dengan salah satu penjual makanan di sana.
“Makan paling murah itu Rp 15 ribu, paling mahal antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu,” pungkas Ayu, salah satu penjual makanan khas Manado di lantai P2 di kawasan Pacific place. Ayu membuka lapaknya dari pukul 10.00-16.00 WIB.
Reporter: Abdurrobby Rahmadi
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho