Intermeso

detikcom Awards 2023

Mobil Tanpa Asap untuk Udara Tanpa Karbon

Dampak dari perubahan iklim cukup mengkhawatirkan. Sejumlah sektor, termasuk otomotif, hadir memberikan kontribusi agar dampak dari perubahan iklim bisa diminimalkan.

Ilustrasi Foto: mobil listrik Toyota bz4x

Senin, 2 Oktober 2023

Kampanye gaya hidup sekaligus pemanfaatan energi yang ramah lingkungan masif digaungkan secara global. Hal ini membuat banyak industri menghadirkan sejumlah inovasi. Tujuannya tentu agar lingkungan dapat terus lestari hingga turun-temurun.

Gerakan peduli lingkungan dimotori dengan kewaspadaan terhadap perubahan iklim yang belakangan terasa dampaknya. Cuaca tak menentu dan suhu kian panas adalah sebagian dampak akibat peningkatan emisi gas rumah kaca yang menimbulkan efek luas terhadap lingkungan.

Dampak nyatanya terlihat dari gletser atau lapisan es yang mulai menyusut hingga berpotensi hilang. Fenomena tersebut mengakibatkan kenaikan permukaan air laut dan gelombang panas terjadi lebih lama.

Toyota Prius, mobil listrik hybrid pertama di dunia yang diluncurkan pada 1997
Foto: Toyota Motor Corporation 

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang diterbitkan pada 2021 menyebutkan emisi gas telah memanaskan iklim hampir 2 derajat Fahrenheit (1,1 derajat Celsius) sepanjang 1850-1900. Suhu rata-rata global diperkirakan akan mencapai atau melampaui 1,5 derajat Celsius (sekitar 3 derajat Fahrenheit) dalam beberapa dekade mendatang. Perubahan ini akan mempengaruhi seluruh wilayah di bumi.

Bukti ilmiah tersebut sangat jelas bahwa perubahan iklim merupakan ancaman yang cukup serius terhadap kesejahteraan manusia dan kesehatan bumi.

Untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, laporan tersebut menyebutkan hal itu bergantung pada aktivitas manusia pada masa depan. Karena itu, setiap orang harus didorong untuk memanfaatkan teknologi ramah lingkungan sehingga dampak dari perubahan iklim bisa diminimalkan.

Berbeda dengan masa lalu, saat ini masyarakat mulai banyak mendapatkan pilihan inovasi untuk memanfaatkan teknologi ramah lingkungan. Sebab, banyak perusahaan dari berbagai sektor sudah mulai berlomba-lomba menghadirkan teknologi ramah lingkungan.

Bahkan sejumlah perusahaan kelas global turut memberikan inovasi teknologi ramah lingkungan, salah satunya Toyota. Sebagai produsen kendaraan, Toyota tidak ingin ketinggalan untuk memberikan kontribusi dalam menghadirkan teknologi ramah lingkungan.

Langkah Toyota menghadirkan teknologi ramah lingkungan melalui semangat untuk melakukan netralitas karbon tidak terlepas dari filosofi yang dipegang oleh perusahaan tersebut. Toyota menganut filosofi ‘Mobilitas dan Kebahagiaan untuk Semua’, yang telah dijalankan selama 80 tahun.

Toyota pun menargetkan netralitas karbon bisa tercapai 100 persen pada 2050 atau lebih awal. Adapun netralitas karbon untuk industri otomotif memiliki makna mencapai nol emisi CO2 di semua proses sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai manufaktur, pengiriman, penggunaan, efisiensi bahan bakar, daur ulang, dan pembuangan, khususnya saat kendaraan sudah tidak dipergunakan lagi.

Strategi lain yang digunakan oleh Toyota adalah menggunakan pendekatan multiple pathway. Melalui strategi multiple pathway, Toyota hadir dengan opsi teknologi kendaraan elektrifikasi, mulai teknologi Flexy-Engine, Fuel Cell Electric Vehicles (FCEV), Battery Electric Vehicle (BEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hidrogen, biofuel, hingga low cost green car (LCGC), untuk mendukung beragam mobilitas masyarakat Indonesia.

Upaya yang dilakukan Toyota untuk menghadirkan kendaraan ramah lingkungan sebenarnya bukan baru-baru ini saja dilakukan. Sejak 1996, Toyota mengembangkan kendaraan listrik baterai pertamanya, yakni RAV4 EV. Sayangnya, pada era tersebut, kampanye pemanfaatan teknologi kendaraan listrik belum menjadi perhatian banyak orang.

Setahun berselang, Toyota kembali meluncurkan kendaraan model Prius, yakni mobil listrik hybrid pertama di dunia pada 1997 yang diproduksi secara massal. Toyota mengakui memboyong kendaraan listrik ke pasar pada era tersebut bukan perkara yang mudah untuk dilakukan. Sebab, Toyota mesti melibatkan banyak inovasi dari sisi mesin, inverter, baterai, hingga elektronik.

Toyota menilai berbagai inovasi tersebut membuat pihaknya memungkinkan pengurangan emisi karbon kumulatif sekitar 140 juta ton dalam lebih dari 20 tahun. Angka itu setara dengan menghilangkan 1,5 juta kendaraan penumpang biasa dari jalan setiap tahun selama jangka waktu tersebut.

Meskipun begitu, Toyota mengakui, untuk mencapai netralitas karbon, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi kalau teknologi baterai yang dihadirkan tetap memanfaatkan listrik yang dihasilkan oleh energi yang tidak ramah lingkungan, seperti batu bara. Untuk mencapai ekosistem kendaraan ramah lingkungan, perlu didukung ekosistem hulu ke hilir yang memanfaatkan energi bersih.

Selain itu, infrastruktur penunjang kendaraan listrik pun perlu dihadirkan. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik perlu diimbangi dengan kehadiran stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang memadai.

Kehadiran SPKLU mampu mendorong pengguna kendaraan listrik dalam melakukan pengisian bahan bakar. Sebab, saat ini, masih banyak konsumen yang ragu untuk membeli kendaraan listrik karena fasilitas penunjangnya belum maksimal, salah satunya kehadiran SPKLU.

Khusus di Indonesia, kehadiran SPKLU bisa dikatakan masih minim. Meskipun begitu, sejumlah pihak optimistis kehadiran SPKLU di Indonesia bakal terus bertambah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pasalnya, SPKLU di Indonesia dijamin bakal semakin banyak. Sebab, pembangunan SPKLU Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah melalui perusahaan pelat merah. Namun pihak swasta pun tengah berkembang untuk menghadirkan SPKLU.

Upaya yang dilakukan Toyota pun membuat perusahaan tersebut mendapatkan penghargaan ‘Promotor Mobilitas Netral Karbon’ detikcom Awards 2023. Penghargaan Promotor Mobilitas Netral Karbon diberikan langsung oleh Ardhi Suryadi sebagai Wakil Pemimpin Redaksi detikcom kepada GM Marketing Planning and New Business PT Toyota Astra Motor Lina Agustina di The Westin, Jakarta, pada 21 September 2023.

GM Marketing Planning and New Business PT Toyota Astra Motor Lina Agustina (kanan) saat menerima penghargaan detikcom Awards untuk Toyota sebagai "Promotor Netralitas Karbon".
Foto: Andhika Prasetya/detikcom 

detikcom Awards merupakan penghargaan bergengsi yang diberikan kepada individu, merek, dan lembaga di Indonesia yang telah memberikan kontribusi luar biasa di berbagai bidang. Melalui detikcom Awards, detikcom menghargai pencapaian yang menginspirasi, inovasi yang mencuat, transformasi dan adaptasi yang tercipta, serta perubahan positif yang terjadi.

Penghargaan tersebut tidak membuat Toyota berpuas diri dalam menghadirkan sejumlah inovasi demi mewujudkan netral karbon di masa depan. Selain menghadirkan inovasi, Toyota turut mengajak masyarakat bersama bergandengan tangan untuk merawat bumi dan meminimalkan dampak dari perubahan iklim.

“Di luar dari teknologi mobilnya, kita melakukan aktivitas lain. Kalau dilihat di pameran kita di motor show, kita ada waste storage. Kita ingin encourage masyarakat even bukan hanya saat berkendara, tapi bagaimana kita mengolah sampah anorganik, meng-encourage orang-orang bahwa sampah anorganik juga bisa menciptakan karbon, dan bagaimana itu bisa dikurangi,” kata Lina Agustina.

Ada berbagai cara yang dilakukan oleh Toyota, salah satunya lewat kampanye ‘It’s Time for Everyone’, yang mengajak masyarakat mendukung program netralitas karbon.

Lewat kampanye tersebut, Toyota menghadirkan waste station, yang mengumpulkan sampah anorganik, kemudian diolah dengan prinsip reuse, reduce, recycle (3R). Rencananya, waste station tersebut bakal hadir di sejumlah titik yang ada di Pulau Jawa hingga berbagai daerah di Indonesia. “Kita punya beberapa titik di Pulau Jawa, dan itu akan kita kembangkan terus ke depannya,” tutup Lina.


Reporter: Dea Duta Aulia
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE