INTERMESO

Misteri Sjam, Pengendali Operasi G30S

Sjam Kamaruzaman dianggap sebagai pengendali operasi Gerakan 30 September 1965. Namun perannya sebagai Ketua Biro Khusus PKI hingga kini masih menyisakan misteri.

Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom

Jumat, 29 September 2023

Konvoi kendaraan militer terlihat keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur, pada 27 September 1986. Rombongan itu membawa seorang tahanan khusus untuk dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Cimanggis, Bogor (sekarang masuk wilayah Depok). Dia bukanlah penjahat kaleng-kaleng, melainkan tokoh kunci yang terlibat penculikan dan pembunuhan petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam gerakan 30 September 1965 (G30S).

Dia adalah Sjam Kamaruzaman, Ketua Biro Khusus, sebuah badan rahasia yang dibentuk oleh Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit. Saat itu, dia dijemput dari Cipinang menuju Cimanggis oleh perwira penelitian kriminal Polisi Militer Kodam Jaya bernama Edy B Sutomo. Di RTM Cimanggis, Sjam tidak lama berada di dalam selnya.

Tiga hari kemudian, Sjam bersama dua tahanan lainnya, yaitu Pono dan Bono, yang juga mantan staf Biro Khusus bawahannya sendiri, dibawa ke Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 29 September 1986 malam. Setibanya di dermaga pelabuhan, Sjam, Pono, dan Bono dipindahkan ke dalam kapal militer untuk menuju sebuah pulau yang dirahasiakan di Kepulauan Seribu.

Setelah berlayar selama 15 menit, Sjam, Pono dan Bono sampai di pulau dan diturunkan. Di tempat itu sudah menanti sejumlah perwira militer dan regu tembak berjumlah 12 orang prajurit. Ketiganya lalu diikat di tiang pancang yang berbeda. Tepat pukul 03.00 WIB, regu tembak pun melakukan tugasnya untuk mengeksekusi mereka. Begitu timah panas dimuntahkan dari moncong senjata laras panjang, tubuh ketiganya terkulai tak bergerak lagi dan mati.

Begitulah akhir hidup tokoh PKI yang dikenal sebagai otak pengendali peristiwa G30S, seperti dikutip dari buku ‘Sjam, Lelaki dengan Lima Alias’ buatan Tim Buku Tempo (2010). Versi lain di dalam buku itu menyebutkan, peluru yang ditembakkan regu tembak sempat meleset. Sebagian kalangan saat itu meyakini, pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, 30 April 1924, itu memiliki ilmu kebal.

Hal itu diutarakan seorang rohaniwan kepada aktivis perempuan, Karlina Supeli, yang menemuinya untuk penelitian tentang para tahanan politik pada 2001. Rohaniwan itu mendampingi Sjam ketika dieksekusi mati bersama Pono dan Bono. Dia mengisahkan, ketika peluru meleset, tidak mengenai tubuh Sjam, sang komandan regu tembak mengambil pistol dan menembaknya dari jarak dekat.

“Beberapa bulan kemudian, sang komandan masuk rumah sakit jiwa. Dia tak tahan dengan peristiwa tersebut,” tutur Rohaniwan itu seperti dikutip kembali oleh Karlina Supeli. Ketika ditanya lagi apakah rohaniwan itu juga ikut memastikan Sjam telah ditembak mati, dia hanya menjawab, “Itu juga bagian yang tidak boleh saya sampaikan,” kata Karlina Supeli menirukan kembali ucapan rohaniwan tersebut.

Sjam Kamaruzaman dalam sidang Mahmilub 1968.
Foto: Repro Buku 'Dari Gestapu ke Refomasi'

Namun, ada yang mempercayai Sjam masih hidup saat itu. Salah satunya adalah Suryoputra, sahabat karib Sjam, yang juga pernah menjadi tahanan politik eks PKI di Cipinang. Boengkoes, mantan Komandan Kompi C Batalion Kawal Kehormatan Cakrabirawa, yang menculik para jenderal TNI AD, juga meyakini Sjam masih hidup kala itu.

“Saya dengan dia dibuang ke Amerika. Ada juga yang bilang dikirim ke Arab Saudi. Kabarnya, anaknya pernah bertemu dia di Sumatera,” kata Boengkoes. Ketika ditanya mengapa pemerintah menyelamatkan Sjam, sedangkan petinggi PKI lainnya dihukum mati, “Ia tokoh penting di partai, punya jaringan kuat di kalangan militer,” jawab Boengkoes singkat.

Sjam seperti bayang-bayang. Selain kematiannya yang menjadi misteri, walau disebut dieksekusi mati, tak diketahui kuburannya di mana. Misteri yang meliputi Sjam serupa dengan misteri yang selalu menyelimuti peristiwa berdarah 30 September pada 58 tahun silam itu. Peran Sjam sebagai Ketua Biro Khusus PKI itu pun menjadi misteri tersendiri.

Sjam merupakan salah satu dari lima orang yang ikut di dalam rapat persiapan operasi penculikan tujuh jenderal TNI AD. Sedangkan empat orang lainnya adalah Supono Marsudijoyo (Asisten Sjam di Biro Khusus), Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa), dan Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim Perdanakusuma).

Rapat perencanaan tersebut langsung dipimpin Sjam. Inisiatif soal gerakan ini sendiri datang dari Ketua Umum Comite Central PKI DN Aidit, yang baru pulang dari China, pada Agustus 1965. Aidit saat itu galau karena mengetahui kondisi Presiden Sukarno yang sedang sakit-sakitan. Dia takut situasi ini justru akan dimanfaatkan oleh para pimpinan TNI AD untuk merebut kekuasaan.

Aidit pun langsung meminta bantuan Sjam, yang juga merupakan tangan kanannya. Sjam diminta Aidit melakukan gerakan terbatas yang nantinya dikenal sebagai Gerakan 30 S PKI. Sjam bergerak cepat. Dua hari setelah bertemu dengan Aidit, dia mengumpulkan dua asistennya, Pono dan Bono, di rumahnya di Salemba Tengah, Jakarta Pusat.

Tiga perwira menengah TNI menjadi kandidat utama pelaksana ‘operasi terbatas’ Aidit. Mereka adalah Kolonel Abdul Latief, Letkol Untung, dan Mayor Soejono. Rapat persiapan dilakukan sampai sepuluh kali. Lokasinya berganti-ganti, yaitu di rumah Sjam, Kolonel Latief, atau kediaman Kapten Wahyudi. Sasaran operasi terbatas PKI baru ditentukan pada 26 September 1965. Tim pelaksana menentukan ada 10 tokoh antikomunis yang harus ‘diamankan’.

Sjam Kamaruzaman, eks Kepala Biro Khusus PKI, di Mahmil 1968.
Foto: Archives Francis YouTube Soeharto Channel

Selain tujuh nama jenderal TNI Angkatan Darat yang sudah umum diketahui, Sjam mengusulkan penculikan mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, Wakil Perdana Menteri III Chairul Saleh, dan Jenderal Soekendro. Aidit mencoret tiga nama terakhir. Kendati demikian, gerakan ini gagal dan langsung bisa diredam setelah tujuh orang gugur.

Mereka adalah Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Letjen MT Haryono, Letjen Anumerta Raden Suprapto, Letjen Anumerta Siswondo Parman, Mayjen Anumerta Donald Ignatius Panjaitan, Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean. Setelah gerakan gagal, Sjam kabur ke Jawa Barat. Sedangkan Aidit tewas dieksekusi pada 22 November 1965 di Boyolali, Jawa Tengah.

Dibutuhkan waktu satu setengah tahun bagi tentara untuk menemukan keberadaan Sjam. Dia akhirnya ditangkap ketika bersembunyi di rumah Letnan Dua Suparman, yang bersimpati kepada PKI, di Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Pejuang komunis itu akhirnya lunglai setelah pihak aparat keamanan menginterogasinya berjam-jam dan berhari-hari.

Dia akhirnya dimusuhi sesama tahanan politik karena ‘bernyanyi’ kepada penyidik Polisi Militer. Saat diinterogasi oleh Polisi Militer, Sjam setidaknya memiliki lima nama alias, yaitu Djimin, Sjamsudin, Ali Mochtar, Ali Sastra, dan Karman. Bahkan, ketika menulis surat perpisahan untuk adiknya, Latifah, sebelum eksekusi mati dilakukan pada 1986, Sjam membubuhi tanda tangan surat dengan nama Rusman.

Dikutip dari buku ‘Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto’ tulisan John Roosa (2008), dalam persidangan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), Suparjo menjelaskan, Sjam pernah menjadi anggota kelompok ‘Pathuk’ ketika melawan penjajah Jepang pada 1942. Sjam juga dikenal sebagai agen rahasia PKI sejak 1956. Karena rekam jejaknya di dunia intelijen itu, Sjam dipercaya Aidit menjadi Ketua Biro Khusus menggantikan Karto pada 1964.

Sejak Sjam menjadi Ketua Biro Khusus, terjadi perubahan besar. Penetrasi PKI ke dalam tubuh militer dilakukan secara sistematis. Kerahasiaan unit ini pun dijaga semakin ketat. Lembaga eksekutif PKI, Politbiro, dan Comite Central dibiarkan tak mendapat informasi apa pun soal gerakan bawah tanah ini. “Kendali hanya ada di tangan Ketua PKI. Karena itulah Aidit bisa leluasa meminta bantuan perwira merah di TNI ketika dia dituding akan mengkudeta Sukarno,” tulis John Roosa.

Di kalangan tahanan politik PKI, tersebar desas-desus, sebelum meninggal, Karto meminta Aidit tidak menunjuk Sjam. Desas-desus itu mungkin saja benar. Hasan mengatakan, watak Sjam yang pembual, agresif, dan tidak sabar bertentangan dengan watak Karto.

Sjam Kamaruzaman di sidang Mahmilub 1968.
Foto: Archives Francis YouTube Soeharto Channel 

Biro Khusus terdiri atas lima orang agen inti di tingkat pusat dan tiga anggota di setiap daerah. Di bawah Sjam sebagai ketua, ada Pono dan Bono, dua intel Biro Khusus didikan Hadi Bengkring. Dua anggota staf lain adalah Suwandi (bendahara) dan Hamim (pendidikan). Wandi dan Hamim tidak ikut menyusup ke dalam tentara.

Untuk memudahkan mereka masuk ke kompleks tentara, Sjam, Pono, dan Bono punya kartu anggota militer dengan jabatan agen intelijen TNI. Cikal bakal Biro Khusus adalah badan militer dari Departemen Organisasi PKI. Sayap militer partai ini sudah berfungsi sejak 1950-an. Sjam, Pono, dan Bono adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk memelihara hubungan dengan perwira-perwira militer.

Karena punya kartu anggota TNI itulah, para agen merah ini sering dikira agen ganda. Sebagai kedok untuk kerja intelijen, sehari-hari Sjam mengaku saudagar pabrik genting PT Suseno di Jalan Pintu Air, kawasan Pasar Baru. Bono mengelola bengkel PT Dinamo di Jalan Kebon Jeruk, dekat Harmoni, Jakarta Pusat. Pono punya restoran, sedangkan Hamim mengelola satu perusahaan bus.

Biro Khusus juga mengelola usaha kontraktor dan CV Serba Guna, makelar jual-beli rumah di Gang Sentiong, Kramat, Jakarta Pusat. Dana dari perusahaan-perusahaan ini dipakai untuk menunjang operasi Biro Khusus. Karena itulah para tetangga lima agen ini tidak pernah menduga Sjam dan empat anggota stafnya adalah mata-mata PKI.

Penyamaran sempurna agen-agen Biro Khusus baru terbongkar ketika Soejono Pradigdo, salah satu anggota Politbiro PKI yang tertangkap paling awal, membocorkan keberadaan Biro pada Desember 1966. Sjam dicokok lima bulan kemudian, dan mulai bercerita lebih detail soal unit rahasia ini.

“Biro Khusus bertugas mengurusi, memelihara, dan merekrut anggota partai di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia secara ilegal,” kata Iskandar Subekti, panitera Politbiro PKI, dalam catatannya atas peristiwa 30 September 1965.

Sjam divonis hukuman mati oleh Mahmilub pada 1968. Seperti kisah putri Syahrezad, yang akan dihukum mati raja tapi menundanya dengan bercerita setiap malam selama 1.001 malam. Sjam bertahan lebih dari 18 tahun dengan mengarang 1.001 pengakuan. Ia diberi kesempatan untuk mengungkap siapa saja yang pernah direkrutnya hingga akhirnya nyawanya hilang di ujung bedil ketika usianya 62 tahun.


Penulis: Rahmat Khairurizqi
Editor: M. Rizal Maslan
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE