INTERMESO

Detikcom Awards 2023

Mendinginkan Bumi Melalui Transisi Energi

Guna menurunkan suhu panas iklim global, pemerintah mencanangkan nol emisi karbon (CO2) atau net zero emission pada 2060. PLN pun menggenjot transisi energi hijau dengan membangun pembangkit energi baru terbarukan (EBT).

Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Cirata (Grandyos Zafna/detikcom)

Rabu, 27 September 2023

Polusi udara telah menjadi isu krusial. Polusi udara juga mengakibatkan perubahan iklim yang ekstrem. Bumi makin panas. Semua negara di belahan dunia memiliki tanggung jawab untuk mengurangi polusi udara dan peningkatan suhu udara. Tahun lalu, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2022, Indonesia mendeklarasikan pengendalian perubahan iklim global.

Salah satu upaya pengendalian perubahan iklim global tersebut, Indonesia melalui PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bertekad mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan bebas dari polusi udara. Perusahaan pelat merah itu mentransformasikan semua pembangkit listriknya dari berbahan bakar fosil, seperti batu bara, ke energi baru terbarukan atau EBT.

Diharapkan, dengan semua pembangkit listrik sudah menggunakan energi baru terbarukan, akan terciptanya netral emisi karbon (CO2) atau net zero emission (NZE) pada 2060. Berbagai manuver dilakukan PLN guna mempercepat akselerasi transisi dari energi tak ramah lingkungan ke green energy (energi hijau).

Bahkan tiga tahun lalu, ketika PLN membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, perusahaan telah mencoret, menghapus, dan mempensiundinikan beberapa pembangkit listrik berbahan bakar fosil, seperti batu bara. Secara perlahan tapi pasti, pembangkit listrik itu akan ditransformasi menjadi pembangkit EBT sebagai tulang punggung energi nasional agar tercapainya NZE atau nol emisi gas buang kaca dalam bentuk CO2 pada 2060.

Foto ilustrasi jaringan listrik PLN
Foto: Dok PLN

Di dalam RUPTL 2021-2030, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berkapasitas 13 gigawatt (GW) dihapus. Penghapusan pembangkit listrik batu bara ini setidaknya bisa menghindarkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebanyak 1,8 miliar ton selama 25 tahun ke depan. PLN juga membatalkan satu kontrak power agreement  1,3 GW PLTU batu bara. Tentunya penghentian kontrak tersebut dianggap berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca lebih dari 150 juta ton CO2 selama 25 tahun.

Di dalam RUPTL hijau itu, PLN menargetkan ada tambahan pembangkit energi baru terbarukan mencapai kapasitas 20,9 GW atau porsinya akan mencapai sekitar 51,6 persen dari total kapasitas pembangkit baru. Selain itu, PLN akan membangun sejumlah transmisi hijau yang lebih ramah lingkungan. Banyak tantangan bagi PLN untuk mengubahnya.

Faktor tantangan adalah banyaknya sumber energi baru terbarukan yang tidak sama lokasinya dengan wilayah yang memiliki permintaan (demand) listrik. Karena itu, PLN berupaya mewujudkan pembangunan green enabling transmission line atau transmisi yang bisa mengevakuasi baru terbarukan dari lokasi terpencil ke epicentrum of demand.

PLN juga membangun Smart Grid and Control SystemSistem ini bakal meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi emisi melalui digitalisasi di setiap lini proses bisnis PLN. Masih di dalam RUPTL juga, disebutkan adanya penambahan pembangkit listrik energi EBT sebanyak 75 persen dan sisanya 25 persen berbasis pada gas.

Upaya lain PLN untuk menurunkan penggunaan batu bara pada pembangkit listrik adalah dengan mengganti sebagian batu bara dengan biomassa atau co-firing. Skema ini telah diimplementasikan di 33 PLTU dari 48 pembangkit yang tengah diujicobakan. Skema yang sama dengan hidrogen dan amonia juga diterapkan. Saat ini sudah ada 3 pilot project co-firing hydrogen dan amonia dengan menggandeng tiga mitra berbeda.

Berikutnya, PLN mengembangkan carbon capture and storage (CCS), yaitu sebuah teknologi yang bisa menyerap emisi karbon dalam jumlah yang besar. Dalam perkembangan ini, PLN telah menggandeng tiga mitra, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Inpex Corporation, dan Medco Energi.


Sebenarnya PLN telah membangun pembangkit EBT baru dengan kapasitas 623 megawatt (MW). Jumlah itu berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso (Sulawesi Tengah) dengan kapasitas 260 MW. Kemudian dari PLTA Malea (Sulawesi Selatan) berkapasitas 90 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sorik Marapi (Sumatera Utara) berkapasitas 57 MW, PLTP Rantau Dadap (Sumatera Selatan) berkapasitas 98 MW.

Hingga April 2022, ada tambahan pembangkit EBT baru berkapasitas 57 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Madong, Toraja (Sulawesi Selatan), sebesar 11 MW, PLTM Batu Gajah, Langkat (Sumatera Utara), sebesar 10 MW, PLTP Sokoria, Ende (NTT), sebesar 6,6 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Selayar (Sulawesi Selatan) sebesar 1,3 MW.

Saat ini, PLN terus menggenjot penyelesaian proyek PLTA di Peusangan, Aceh Utara, yang berkapasitas 88 MW. Lalu, pengerjaan proyek pembangunan PLTA Asahan (Sumatera Utara) berkapasitas 174 MW, PLTA Jatigede (Jawa Barat) kapasitas 110 MW, PLTA Batang Toru (Sumatera Utara) kapasitas 510 MW. PLTA Merangin (Jambi) kapasitas 350 MW. Termasuk penyelesaian prapersetujuan dan prakonstruksi PLTA Cisokan, Cianjur (Jawa Barat).

Atas kerja nyatanya dalam menciptakan bebas emisi karbon dan udara lebih sehat itu, PLN pun penghargaan kategori ‘Terdepan dalam Wujudkan Transisi Energi’ dalam anugerah detikcom Awards 2023 di Hotel Westin Jakarta, Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 23 September 2023. Penghargaan itu langsung diserahkan kepada Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo.

Darmawan dalam sambutannya setelah menerima penghargaan itu mengatakan transisi energi lewat pemanfaatan EBT tidak lepas dari upaya PLN untuk menghadirkan energi bersih bagi generasi mendatang. Sebab, kehidupan yang lebih baik merupakan hak generasi yang akan datang. “Dan, untuk itu, dulu tugas PLN menyediakan listrik. Kini tugas kita mendinginkan bumi,” kata Darmawan.

Tak cuma mengembangkan pemanfaatan EBT, PLN juga mengembangkan ekosistem kendaraan listrik atau electrical vehicle (EV). Salah satunya dengan mengembangkan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Saat ini jumlah SPKLU sudah mencapai 1.300 unit, yang tersebar di berbagai daerah. Sementara itu, stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) tersedia 1.401 unit.

CEO PT Trans Digital Lifestyle Group Putri Tanjung menyerahkan tropi penghargaan kepada Dirut PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo
Foto : Andhika Prasetya/detikcom

Lokasi SPKLU dan SPBKLU dapat diketahui melalui aplikasi PLN Mobile. Aplikasi ini pun bisa digunakan dalam transaksi pembayaran daya listrik melalui fitur ‘Electric Vehicle’. Penggunaan EV sebagai pengganti kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM) tentunya akan membantu penurunan emisi efek rumah kaca.

Sebagai contoh, untuk mengoperasikan kendaraan penggerak mesin yang menggunakan 1 liter BBM, baik RON 92/RON 90 dan solar akan menghasilkan gas buang atau emisi karbon sebanyak 2,4 kilogram CO2. Kendaraan hybrid atau HEV yang masih menggunakan 1 liter BBM dan listrik menghasilkan 830 gram CO2. Sedangkan kendaraan EV murni hanya membutuhkan 1,5 kilowatt hour (kWh) dengan emisi karbon zero CO2. Dan tentunya lebih ekonomis.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE