Ilustrasi: iSctock
Senin, 18 September 2023Selama sembilan bulan Mariska, bukan nama sebenarnya, dan janin dalam kandungannya berbagi ruang bersama. Ketika mereka akhirnya dipertemukan, Mariska justru merasa ada jarak antara ia dan bayi mungil itu. Perempuan berusia 28 tahun ini sempat ingin mengabaikan kabut yang menyelimuti perasaannya. Ia sempat menduga perasaan yang ia rasakan adalah akibat kelelahan pasca melahirkan secara normal.
“Ada perasaan bahagia karena anak saya sudah lahir, tapi cuma saya rasakan sebentar saja. Selebihnya perasaan saya campur aduk nggak karuan,” ungkapnya. Meski sudah mendekap dan menyusui bayinya, hal itu tidak otomatis membuat Mariska merasa sayang dengan bayinya.
Selepas pulang dari rumah sakit, Mariska pikir perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Namun, ternyata situasi semacam ini berlangsung selama dua bulan lamanya. “Saya sampai konsultasi ke dokter yang nanganin saya. Dokternya menyatakan saya terserang baby blues.”
Dikutip dari American Pregnancy Association, baby blues syndrome (BBS) atau disebut postpartum distress syndrome merupakan perasaan sedih dan gundah yang dialami oleh beberapa wanita setelah melahirkan. Kondisi ini masih tergolong ringan dan biasanya berlangsung hingga 2 minggu. Namun, jika seorang wanita mengalami kondisi ini selama 2 minggu, bisa jadi itu adalah postpartum depression (PPD).
Penyebab pasti baby blues sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, ada dugaan kondisi ini disebabkan oleh hormon yang terjadi selama kehamilan dan pasca kelahiran.

Ilustrasi baby blues
Foto: Thinkstock
Perubahan hormonal ini dapat menghasilkan perubahan kimia otak yang mengakibatkan depresi. Selain itu, baby blues juga bisa jadi disebabkan karena gangguan tidur hingga rutinitas seorang ibu, sehingga memicu emosi.
Perubahan tanggung jawab, prioritas dan segala macamnya terasa sulit diterima Mariska. Ketika bayinya tertidur pulas, Mariska meraung-raung seperti orang gila. Rasanya Mariska ingin lari dari kenyataan. Apalagi kondisinya Mariska dan suami tinggal jauh dari orang tua. Selepas menikah, ia a dan suaminya merantau ke Bandung. Sementara keluarga besar Mariska dan suami sama-sama berada di Tangerang. Ketika keluarganya berkunjung, tentu saja bayinya yang mendapatkan perhatian paling besar.
“Saya waktu itu juga sempat merasa jealous sama bayi saya sendiri. Padahal kan saya udah susah payah melahirkan, sakit sekali rasanya, kenapa orang-orang nggak ada yang perhatian ke saya?” tandas Mariska. Beberapa kali, Mariska sempat ‘membalas’ dengan mengabaikan bayinya sewaktu ingin menyusui. “Waktu dia minta susu, saya pernah pura-pura nggak dengar. Kalau diingat lagi saya sedih, kecewa sekali sama diri sendiri, kenapa, kok, saya bisa setega itu?” sesal Mariska.
Beruntung Mariska cepat menyadari jika perbuatannya itu sudah menyimpang. Dengan konsultasi melalui dokter yang merawatnya selama mengandung dan melahirkan, suami dan keluarga Mariska menjadi sadar dengan kondisinya. Padahal sebelumnya, Mariska tidak berani cerita tentang kondisinya karena khawatir dianggap tidak waras. Setelah bercerita kepada suaminya, perasaannya menjadi lebih lega. Suami Mariska segera mengambil tindakan untuk memperpanjang masa cutinya. Selama cuti, suami Mariska menggantikannya dalam berbagai tugas seperti menggantikan popok dan memandikan anak.
“Suami saya sering meluk dan menguatkan mental saya. Kalau bukan karena suami saya, mungkin kondisinya bakal lebih parah lagi,” tuturnya.

Ilustrasi baby blues
Foto: iStock
Selama sebulan pasca melahirkan, Syarah Nur Fadillah juga mengalami guncangan yang hebat akibat sindrom baby blues. Anak pertama yang sudah ia dan suaminya nanti-nantikan itu ternyata sempat membuat Syarah terpuruk.“Aku cerita sama suami sampai nangis-nangis ke suami tuh, aku nggak mau punya anak. Aku sampai nggak mau pegang si baby waktu sebulan awal,” ucap seorang ibu berusia 26 tahun ini.
Saat mengetahui ada yang tidak beres dengan istrinya, suami Syarah langsung membawanya ke dokter. Baru setelah itu mereka tahu jika Syarah terkena sindrom baby blues. “Dokternya bilang ‘Nggak apa-apa bu wajar’ katanya gitu. Memang ada yang seminggu baby blues-nya, ada yang dua minggu, ada yang sebulan gitu kan beda-beda kan,” ungkap Syarah yang berdomisili di Bandung ini.
Untuk mengurangi stress yang dialami Syarah, suaminya rutin mengajak istrinya ke taman untuk menghirup udara segar. Dukungan yang diberikan oleh suami dan keluarga terkasih juga turut membantu Syarah melewati fase menyulitkan ini. “Untung suami orangnya telaten gitu ya, mau gendong, mau ini, mau itu mau ngasuh gitu,” ucap Syarah.
Reporter: Rahmat Khairurizqi
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho