Foto: Getty Images/iStockphoto/staticnak1983
Sabtu, 16 September 2023Ada perasaan bahagia yang sulit diungkapkan ketika Desny Anggelina Ujung melihat bayi mungil lahir ke dunia melalui rahimnya. Rasa sakit dan lelah setelah berjuang melahirkan Max, begitu bayi laki-laki itu diberi nama, sirna seketika.
Namun rasa bahagia yang Anggelina rasakan perlahan musnah. Perempuan berusia 30 tahun itu mendadak merasa menjadi ibu paling tidak kompeten di dunia. Setiap menengok Max, rasa takut dan khawatir menghantuinya. Anggelina menangis sejadi-jadinya. Mungkin Max ikut merasakan rasa sedih ibunya. Ia pun tak kuasa menahan tangis yang mendera.
“Karena kan perubahan, bisa di bilang dunianya itu berubah 180 derajat, gitu, ya. Kaya bener-bener kaget dan syok ini. Kok, gini, ya ternyata? Gitu. Mulai dari jam tidur, pola istirahat terus habis itu mungkin secara fisik juga capek, lelah dan sakit.” ungkapnya saat dihubungi oleh detikX.
Padahal sebelum mengandung dan melahirkan, Anggelina sudah paham betul konsekuensi yang harus ia hadapi ketika statusnya berubah menjadi ibu. Kebebasannya tak lagi sama. Anggelina mengerti jika dirinya harus mencurahkan waktu sepenuhnya untuk sang anak. Sebelum lahir pun, Anggelina dan suaminya sudah berupaya mempersiapkan diri baik secara fisik dan mental.
“Bisa di bilang saya secara pribadi udah siap gitu, udah siap punya anak,” tandas Anggelina. Ia tak menyangka dirinya malah terkena baby blues.
Dikutip dari American Pregnancy Association, Baby blues syndrome (BBS) atau disebut postpartum distress syndrome merupakan perasaan sedih dan gundah yang dialami oleh beberapa wanita setelah melahirkan. Kondisi ini masih tergolong ringan dan biasanya berlangsung hingga 2 minggu. Namun, jika seorang wanita mengalami kondisi ini selama lebih dari 2 minggu, bisa jadi itu adalah postpartum depression (PPD) dan sebaiknya segera mengunjungi dokter atau berkonsultasi dengan psikolog.

Ilustrasi ibu terserang baby blues
Foto: iStock
Penyebab pasti baby blues sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, ada dugaan kondisi ini disebabkan oleh hormon yang terjadi selama kehamilan dan pasca kelahiran.Perubahan hormonal ini dapat menghasilkan perubahan kimia otak yang mengakibatkan depresi. Selain itu, baby blues juga bisa jadi disebabkan karena gangguan tidur hingga rutinitas seorang ibu, sehingga memicu emosi.
Hati Anggelina begitu gundah saat melihat wajah Max. “Bayi kecil ini dikirim Tuhan, hidupnya ada di tangan aku, lho, sekarang. Aku mampu nggak, ya?” ujar Anggelina mempertanyakan dirinya sendiri.
Di tengah serangan baby blues yang ia rasakan, Anggelina juga sedang berjuang memberikan ASI kepada Max. karena kesulitan memberikan anaknya ASI, tubuh Max sempat menguning. Max mengalami kondisi medis bernama Hiperbilirubinemia. Penyakit ini disebabkan karena tingginya kadar bilirubin pada darah sehingga menyebabkan bayi baru lahir berwarna kuning pada kulit dan pada bagian putih mata. Kondisi bayinya membuat Anggelina tambah stres, apalagi keluarga dan kerabat yang berkunjung selalu mempertanyakan dan mengomentari kondisi Max.
“Setelah itu aku bilang ke orang tua. Kalau bisa kurangin dulu aja orang berkunjung gitu, karena aku nggak mau ada omogan-omongan yang bilang ‘kok, kuning, ya,'" ungkap perempuan yang bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan swasta di Medan.
Anggelina merasa peran dan dukungan dari suami serta orang tuanya sangatlah penting. Selama Anggelina mengalami baby blues, mereka tak berhenti mencurahkan tenaga untuk membantu dan menenangkan dirinya. Ketika kondisi Anggelina sudah mulai membaik, Max juga kembali sehat. Momen tumbuh kembang anaknya ia abadikan dan dia unggah di TikTok.
“Oh, sekarang Max pipinya udah gembul, ya, jadi itu yang bikin aku merasa ternyata udah berhasil. Jadi mungkin tadi yang panik kita itu di awal, terus sekarang udah bisa mengatasi emosional kita sendiri,” katanya.

Ilustrasi ibu hamil
Foto: Haibunda
Ketika menjadi ibu untuk pertama kalinya, Farha Yussriah juga sempat mengalami baby blues. Farha merasa peran suaminya sangat penting dalam membantu dirinya menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Selepas pulang kerja, giliran suami Farha mengurus bayi mereka.
Menurutnya, keluarganya kurang familiar terkait informasi kesehatan mental terutama bagi seorang ibu baru. Sang suami memberikan kata-kata penenang kepada Farha dan turut serta membantu mengurus sang bayi walaupun sang suami bekerja pagi hingga sore hari.
“Walaupun dia kerja pagi sampai sore, malamnya, ya, ikut juga, kalo sempet mandiin anaknya di mandiin, nyuci juga bantuin. Pekerjaan rumah tangga juga bantuin, sih," ucap Farha. Farha yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga di Jakarta Timur ini merasa lebih mudah sensitif. Setiap menyusui anaknya, Farha selalu menangis. Keringat dingin melahir di sekujur tubuhnya saat ia sedang menyapih anaknya.
Sebelum Farha melahirkan sang anak, ia jsempat membekali dirinya dengan mengikuti kegiatan webinar yang difokuskan kepada perempuan yang akan segera menjadi seorang ibu. “Salah satu webinar itu kan tentang webinar baby blues and postpartum depression itu” tutur Farha. Farha pun merasakan manfaat yang besar ketika ia mengikuti webinar tersebut, ia dapat mengetahui penanganan mengenai baby blues yang dialaminya sehingga dapat meringankan beban yang Farha alami pasca melahirkan.
Reporter: Rahmat Khairurizqi
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho