Foto: LRT Jabodebek resmi beroperasi, Senin 28 Agustus 2023 (Grandyos Zafna/detikcom)
Sabtu, 02 September 2023Dari balik jendela kaca di bangku LRT, Anastacia memandang ke arah Jalan Tol Lingkar Dalam Kota menuju Cawang, Jakarta Timur. Aneka kendaraan dari daerah sekitar penyangga ibu kota tengah berebut masuk. Di pagi dan sore hari, kepadatan di kawasan ini tak terelakkan karena volume lalu lintas yang tinggi.
Sudah genap seminggu LRT Jabodebek beroperasi, mencoba mengurangi kemacetan dari sisi Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta. Selama itu pula Anastacia menjajal moda transportasi Light Rail Transit. Sejak hari pertama dibuka secara komersil, perempuan berusia 22 tahun ini sudah tak sabar ingin segera menaiki LRT.
“Orang-orang juga udah pada excited untuk menggunakan LRT. Karena emang sangat efisien dengan waktu gitu, kan. Terus apalagi khususnya buat pekerja. Apalagi yang kerjanya di daerah Sudirman, misalnya,” ucap Anastacia kepada detikX.
Dari rumahnya di Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, Anastacia menumpang ojek online menuju Stasiun LRT Bekasi Barat. Waktu tempuhnya menggunakan sepeda motor hanya sekitar 7 menit saja. “Kadang dianterin, kadang naik ojek online,” ucap pegawai swasta yang bekerja di daerah Cawang ini.
Di hari pertama pengoperasian LRT, Anastacia sengaja berangkat sedikit lebih pagi. Ia sudah menduga jika LRT di penampilan perdananya akan mengalami gangguan. Benar saja, rute LRT Jabodebek Harjamukti-Dukuh Atas yang ia tumpangi mengalami sejumlah kendala. LRT sempat beberapa kali berhenti karena mengalami mati listrik. Akibatnya, perjalanan Anastacia menuju kantor malah menjadi lebih molor.
“LRT mati-nyala terus. Saya nyampenya sekitar 2 jam, hampir sekitar 3 jam mungkin,” katanya.

Penumpang LRT Jabodebek padat
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Meski sempat terhambat, Anastacia tak kapok menaiki LRT. Ia malah terlanjur jatuh hati dan ingin beralih menjadi penumpang setia LRT. Letak stasiun LRT ini sama-sama dekat dengan lokasi rumah dan kantornya. Selepas turun dari Stasiun Cawang, Anastacia tidak perlu berpindah transportasi umum lagi. Ia hanya perlu jalan kaki sejauh 500 meter saja. Belum lagi perbedaan waktu tempuh yang amat signifikan dan menyaingi transportasi publik pilihan Anastacia sebelumnya.
“Kan biasanya kalo naik KRL itu harus transit, harus nunggu lagi. Abis itu naik Transjakarta lagi. Bisa menghabiskan 1 sampai 1,5 jam. Tapi kan kalo misalnya naik LRT ini kaya cuma 20 menit itu udah sampai kantor,” pungkas Anastacia. Saat menaiki KRL atau Commuter Line, dari Stasiun Bekasi, Anastacia harus melakukan transit di Stasiun Manggarai menuju Stasiun Cawang yang tentunya teramat memakan waktu.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) menetapkan tarif promo berupa diskon 78 persen untuk tarif layanan LRT Jabodebek. Untuk itu tarif flat sebesar Rp 5 ribu diterapkan di seluruh lintas pelayanan. Namun tarif promo ini hanya diberlakukan sampai akhir bulan September 2023 saja.
Meski nanti harga promo berakhir, Anastacia tetap memilih menaiki LRT. “Tergantung, nih prioritas orang tersebut seperti apa. Misalkan emang dari segi keuangan, ya, pastinya transportasi lain. Tapi kalau misalkan lagi prioritas ke waktu, pastinya LRT, sih,” ucap Heri saat ditemui detikX di Stasiun LRT.

Petugas LRT mengecek keamanan di dalam gerbong LRT
Foto: Agung Pambudhy
Sebagai karyawan Swasta yang tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta, Heri, sudah mencoba berbagai moda transportasi. Mulai dari KRL, Transjakarta, motor maupun mobil pribadi. Pilihan moda transportasi itu ia gunakan secara bergilir setiap hari. Begitu LRT diresmikan, tentu laki-laki berusia 42 tahun ini tak ingin ketinggalan.
“Ya,karena dekat sama rumah. Yang kedua nggak terlalu jauh. Terus menghindari kemacetan. Terus juga mengurangi polusi. Itu aja, sih,” Dari Stasiun Harjamukti menuju Stasiun Dukuh Atas ia tempuh dengan lama waktu 40 menit.
Ketimbang berbagai jenis kendaraan yang sudah pernah Heri coba, tidak ada yang bisa mengalahkan waktu tempuh LRT. “Belum lagi kalau naik motor, kan, resikonya capek lah ibaratnya, terus resiko kecelakaan dan sebagainya. Naik mobil juga macet, naik busway, ya, dempet-dempetan dan kalau transit itu kan agak lama, tuh. Kalau ini (LRT) kan nggak ada transit,” terang Heri yang bekerja di daerah Kalibata, Jakarta Selatan.
Meski lebih nyaman dengan LRT, Heri mengaku keberatan dengan tarif yang dikenakan LRT. Dengan modal uang Rp 10 ribu, Heri bisa pulang pergi menggunakan sepeda motor. Sementara dengan transportasi busway, Heri hanya perlu megeluarkan kocek Rp 7 ribu dalam sehari.
“Walaupun masih bujang juga sayang kali sehari Rp 50 ribu buat LRT,” tawa Heri. “Saya kalau Rp 5 ribu, saya tetap naik ini (LRT) terus,” tutur Heri.
Reporter: Rahmat Khairurizqi
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho