INTERMESO

Sepuluh Tahun Lebih Muda dengan Intermittent Fasting

Bukan sulap bukan sihir, pola diet intermittent fasting terbukti mampu menurunkan berat badan tanpa membuat tersiksa.

Ilustrasi: Intermittent fasting (Getty Images)

Minggu, 13 Agustus 2023

Tiada hari tanpa semangkuk bakmie. Mungkin inilah sepenggal kalimat yang dapat menggambarkan kecintaan Alfian Christo pada makanan itu. Mie tipis berbalut bumbu asin gurih dengan potongan daging yang memanjakan seluruh indera perasa miliknya. Belum lagi jika ada pangsit goreng berisi cacahan daging, mustahil Alfian hanya menggambil satu potong. “Porsi bakminya musti yang jumbo,” jawab Alfian singkat.

Bukan cuma bakmi, Alfian yang hobi makan ini sampai mendedikasikan akun sosial media miliknya, seperti Instagram @kokorakuss, untuk mendokumentasikan setiap kuliner yang pernah ia cicipi. Laki-laki berusia 31 tahun ini pernah lama menjadi pengulas makanan di sebuah situs pencarian restoran.

“Sudah dari 2017 nge-review terus. Sampai dapat undangan makan dari restoran-restoran. Sempat waktu itu seminggu bisa dapat dua sampai tiga kali undangan,” kata Alfian saat dihubungi detikX.

Seiring banyaknya makanan yang masuk ke tubuh Alfian, tanpa ia sadari, perlahan tubuhnya pun ikut membengkak. Alfian mulai menyadari hal ini saat mencari baju. Sangat sulit menemukan baju yang ukurannya pas untuk tubuhnya. Dari sebelumnya ukuran M, belakangan Alfian harus mencari baju berukuran XXL.

“Ukuran XXL aja kadang masih kerasa ngepress banget di badan. Lingkar pinggang dari 32 jadi 39,” tuturnya. Semakin naik berat badannya, Alfian menjadi lebih mudah lelah dan sulit bergerak. “Dari normalnya berat badan saya di kisaran 70 kg, paling berat itu mencapai 115 kg. Memang drastis banget perubahannya.”

Alfian juga mulai menyadari kebiasaan buruknya. Jika sedang stres, ia mengalihkan perasaan negatif itu dengan makan makanan kesukaannya. Di rumah, Alfian bisa makan lima kali dalam sehari. Begadang dan makan di tengah malam adalah hobinya kala itu. “Di rumah, mama saya sampai komplein ‘habisin beras aja.’ Soalnya saya kalau makan nasi itu pasti dua piring,” cerita pengusaha pengolahan ayam ini.

Alfian Chisto
Foto: Dok Pribadi (Instagram)

Dengan pola makan yang buruk, Alfian mengalami obesitas. Menurut WHO, obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidak seimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu lama. Di Indonesia, obesitas menjadi epidemi yang tak kunjung usai di. Berdasarkan catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi obesitas terus mengalami kenaikan.

Prevalensi obesitas pada orang dewasa naik menjadi 35,4 persen pada Riskesdas 2018, dari sebelumnya 26,3 persen pada tahun 2013. Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kasus obesitas tertinggi di dunia. Tercatat, 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Dari data tersebut, Sulawesi Utara menjadi daerah dengan kasus obesitas tertinggi di Indonesia. Sementara DKI Jakarta berada di posisi kedua.

Obesitas menjadi faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, jantung, kanker, hipertensi dan penyakit metabolik maupun non metabolik lainnya serta berkontribusi pada penyebab kematian akibat penyakit kardiovaskular, penyakit diabetes dan ginjal.

Menyadari bahaya kondisi tubuhnya, Alfian tak ingin lanjut terlena. Setelah berselancar di internet, Alfian menemukan pola diet yang ia rasa cocok dan dapat dijalankan. Pola diet itu Bernama intermittent fasting atau IF. Dengan metode ini, Alfian melakukan pengaturan pola makan dengan cara berpuasa. Ia melakukan jeda waktu unutk bisa kembali mengkonsumsi makanan. Puasa umumnya dilakukan dalam waktu 16 jam dan 8 jam untuk makan.

Menurut laman Hopkins Medicine, tubuh manusia dapat beradaptasi tanpa membutuhkan asupan makanan selama berjam-jam bahkan berhari-hari. Dengan demikian, intermittent fasting dapat membantu membakar lemak dalam tubuh. Berbeda dengan metode diet lainnya, intermittent fasting tidak memberi batasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan.

Selama menjalani intermittent fasting, Alfian bebas memakan makanan apapun yang ia inginkan selama masih berada di dalam waktu yang ditentukan. Alfian masih mengkonsumsi makanan yang biasanya ia makan seperti bakmi atau nasi padang. Sementara saat puasa, ia tidak boleh makan apa-apa. Namun ia masih bisa minum air putih atau minuman bebas kalori lainnya

“Jadi pukul 11.00 pagi mulai makan pertama, terakhir sampai pukul 19.00. Sehari tiga kali saya makan. Makanan apa aja yang penting nutrisi lengkap. Ada protein dan seratnya juga,” ucapnya. Selama menjalani IF, Alfian sama sekali tidak merasa tersiksa. “Beda sama waktu saya jalanin defisit calory dan clean eating, itu ngejalaninnya berat banget.”

Selama enam bulan pertama, Alfian membarengi IF dengan olahraga seperti latihan angkat beban, berenang dan lari. Selama itu pula ia mengalami perubahan signifikan. Dalam enam bulan, Alfian berhasil memangkas berat badannya sebanyak 40 kg, perut buncitnya ikut menghilang. “Berasa 10 tahun lebih muda,” pungkasnya.

***

Saking gencarnya Novecilia mempromosikan intermittent fasting di akun Tiktoknya @novecilia, ia sampai mendapat julukan ‘Cici Diet IF’ dari para pengikut dan penggemarnya. Melalui platform itu, Nove gemar membagikan pengalamannya menjalankan intermittent fasting selama dua tahun, bahkan hingga saat ini.

“Aku suka live di TikTok, sharing sesama pejuang IF dan saling menguatkan. Kita bikin semacam support system lah,” kata perempuan berusia 28 tahun ini.

Novecilia
Foto: Dok Pribadi (Instagram)

Saat itu Nove dan suaminya mengenal IF saat hendak melakukan persiapan pernikahan. Dengan motivasi ingin tampil maksimal di hari bahagianya itu, mereka berdua mulai menjalankan IF. Walaupun Nove sempat khawatir puasa akan memperburuk penyakit maag yang sudah dari dulu ia alami.

“Kondisi aku udah menuju ke GERD sampai ke tahap kalau telat makan, asam lambungnya naik. Aku harus rebahan dan tiduran dulu soalnya kalau lagi kumat rasanya kayak mau pingsan,” ucap Nove.

Namun, ajaibnya, selama menjalani IF, bukan hanya berat badannya saja yang turun, Nove merasa penyakit lambungnya sudah tak pernah ia rasakan lagi. Padahal dengan IF, Nove bahkan pernah menjalani puasa lebih dari 17 jam.

Amazing banget, walaupun puasanya panjang, aku udah nggak pernah ngerasain sakit maag lagi. Berat badan aku juga turun 7 kg dalam waktu 3 bulan,” ucap perempuan yang berprofesi sebagai fashion designer ini.

Dari hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2016 dalam jurnal Acta Medica Indonesiana - The Indonesian Journal of Internal Medicine, IF memang memiliki manfaat bagi penderita GERD dan terbukti dapat meredakan gejala asam lambung naik. Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat selama menjalani puasa. Selain itu, perubahan pola makan yang lebih teratur juga menjadi salah satu alasan kenapa GERD sembuh dengan puasa.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE