Ilustrasi: Nani Wartabone (Edi Wahyono/detikcom)
Jumat, 11 Agustus 2023Nani Wartabone dijuluki 'Proklamator dari Timur' ketika memimpin upacara pengibaran bendera merah putih dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada 23 Januari 1942. Jiwa nasionalisme kembali bergejolak ketika terjadi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta) pimpinan Letnan Kolonel Ventje Sumual pada 1957.
Kala itu PRRI/Permesta pimpinan Ventje Sumual menguasai wilayah Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Maluku. Untuk menghadapi rongrongan pasukan pemberontak terhadap kedaulatan Republik Indonesia, Nani Wartabone mengumpulkan para pemuda dan petani (hulunga) untuk digembleng menjadi pasukan tempur.
Sayangnya, pasukan tempur bikinan pria kelahiran Sumawa, Bone Bolangi, Gorontalo, dengan nama asli Abdul Kadir Wartabone, itu, kalah jumlah personel dan persenjataan. Karenanya, pasukannya terpaksa harus keluar masuk hutan belantara guna menghindar penyergapan pasukan PRRI/Permesta. Tak heran pasukan Nani Wartabone dijuluki Pasukan Rimba.
Pasukan Rimba ini terlibat pertempuran dengan pasukan PRRI/Permesta di sejumlah tempat, yaitu Dumbaya Bulan, Molingtogupo, Bonedaa, Batu Tembaga (Tolotio), dan Tanjung Tongo. Karena terpojok, Nani Wartabone meminta kepada pemerintah pusat agar mengirimkan bantuan dari pasukan TNI, yang kala itu masih bernama Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Nani Wartabone
Foto: Proklamator Nani Wartabone (IPHHOS-Commons Wikimedia)
Setelah menunggu lama, akhirnya bala bantuan itu datang dan mendarat di pantai Gorontalo pada 14 Mei 1958. Pasukan APRI yang tergabung dalam Operasi Sapta Marga II itu dibawah komando Mayor Agus Prasmono tiba di Bilungala, sekitar 15 mil timur Gorontalo.
Pasukan yang tiba berasal dari Batalyon 512/Brawijaya dari Jawa Timur dipimpin Kapten Acub Zaenal dan Batalyon 715/Hasanuddin (Sulawesi Selatan) dipimpin Kapten Piola Isa. Nani Wartabone menemui pasukan tersebut untuk koordinasi memukul mundur pasukan pemberontak.
Dikutip dari tulisan "Jejak Nani Wartabone: Aktivis Muhammadiyah, Sang Pahlawan dari Gorontalo" yang dimuat dalam media Sang Pencerah edisi 27 Maret 2016, pasukan APRI dan Pasukan Rimba bergerak untuk merebut kota Gorontalo pada 17 Mei pukul 10.10 WITA. Kala itu tak mudah bagi pasukan tersebut untuk masuk ke kota, karena harus berjalan kaki melalui medan berat di dalam hutan selama 20 jam.
Sebagian kaki pasukan Pasukan Rimba mengalami lecet. Mereka makan apa saja yang ditemukan di hutan, seperti buah-buahan, kelapa, hingga minum air selokan. Tepat 18 Mei 1958 pukul 19.00 WITA, pasukan itu bergabung dengan pasukan induk APRI di Desa Bagupinggo, sekitar 5 km dari Kota Gorontalo. Lalu tengah malam, untuk pengintaian, dikirim terlebih dahulu 1 kompi untuk menyusup ke kota.

Pasukan Permesta di Sulawesi
Foto: Commons Wikimedia
Tapi ternyata kota Gorontalo terlihat sunyi. Warga kota banyak berlindung di dalam rumah masing-masing. Tepat 19 Mei 1958 pukul 06.00 WITA, pasukan APRI berhasil menduduki markas PRRI/Permesta di Jalan Merdeka. Pasukan Permesta ternyata sudah menyingkir melalui Desa Potanga, 5 Km dari utara kota. Gorontalo akhirnya bisa kembali dikuasai pasukan APRI tanpa perlawanan dalam tempo 1 jam 30 menit.
Berkat jasa-jasa perjuangannya, Nani Wartabone lalu oleh Presiden Sukarno diangkat menjadi Residen Sulawesi Utara menggantikan Sam Ratulangi. Karena semangat juang pantang menyerah, rela berkorban dan jiwa patriotik serta nasionalisme, Nani Wartabone dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2003 oleh Presiden Megawati Sukarnoputri.
Tak hanya itu saja, nama Nani Wartabone juga menjadi nama Komando Resort Militer (Korem), yaitu Korem 133/Nani Wartabone atau WNB. Korem ini dibentuk setelah Gorontalo terpisah dari Provinsi Sulawesi Utara menjadi provinsi sendiri pada 2000. Berdasarkan Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat (Perkasad) Nomor 6 Tahun 2018 tanggal 26 Februari 2018, Korem Nani Wartabone membawahi 2 Komando Distrik Militer (Kodim) dan 1 Batalyon Infanteri, yaitu Kodim 1304/Gorontalo, Kodim 1313/Pahuwato dan Yonif 713/Satyatama.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho