Ilustrasi: Shutterstock
Minggu, 06 Agustus 2023Masih lekat betul di ingatan Rohmatul Hikmah saat laki-laki yang kini sudah menjadi pendamping hidupnya mengutarakan niat untuk membangun keluarga bersama. Alih-alih menyematkan cincin di jari manisnya, suaminya saat itu malah memberikan sebuah amplop berisi slip gaji. “Gaji aku cuma Rp 5,6 juta dan lulusan SMA, emang kamu mau nikah sama aku?” ucap suaminya kepada Iik, begitu perempuan itu akrab disapa.
Suami Iik sempat tidak percaya diri, apalagi jika melihat teman-teman sebayanya memiliki penghasilan lebih besar dari dirinya. Ia juga ragu, apa bisa penghasilannya mencukupi kebutuhan dua orang yang sama-sama belum lulus kuliah. Ketika pandemi COVID-19 datang, tanpa pikir panjang Iik dan suaminya memanfaatkan kesempatan itu untuk menggelar pernikahan sederhana. Pernikahan mereka dilangsungkan hanya dengan mengadakan akad nikah dan makan bersama.
“Aku dari kecil sudah menerapkan hidup frugal (frugal living), ketemu sama pasangan yang satu visi. Dia juga bukan yang hidup boros, bisa self control tanpa aku minta. Intinya samain persepi dulu sebelum menikah, apalagi soal keuangan,” ungkap Iik kepada detikX.

Rokhmatul Hikmah dan suaminya
Foto: Dok Pribadi
Frugal living merupakan kemampuan untuk bersikap cermat dalam menggunakan uang untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Meski sering disalah artikan sebagai pelit, dengan menjalankan hidup frugal, Iik memiliki kesadaran penuh untuk mengelola uang agar tidak berlebihan dan tidak mensia-siakan barang yang sudah dimiliki. Bisa saja Iik membeli barang yang lebih mahal tapi awet hingga bertahun-tahun sehingga nilainya melebihi harga barang tersebut.
“Saya masih setia sama apa yang sudah menjadi gaya hidup saya sehari-hari. Karena dengan cara ini saya hidup berkecukupan. Apa yang saya punya bisa dimaksimalin sebaik mungkin. Saya jadi lebih tahu mana yang keinginan dan mana kebutuhan," kata perempuan berusia 24 tahun ini.
Iik juga menerapkan metode 50-30-20. Metode ini menjadi alternatif cara mengatur keuangan yang mudah dan efektif. Iik mengalokasikan mengalokasikan 50% gaji untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi.
Belum genap setahun menikah, Iik mengandung anak pertamanya. Ia sempat kelimpungan karena tidak bisa menggunakan BPJS untuk persalinannya. Iik agak menyesal karena belum sempat merencakan keuangan untuk biaya persalinan anaknya. Akhirnya ia harus menaikian persentase uang yang ditabung menjadi 50%.
-x3j8xa.png)
Ilustrasi berbelanja
Foto: Shutterstock
“Tau positif hamil pas udah 2 bulan. Aku cuma punya waktu 7 bulan untuk siap-siap. Gimana caranya, masa ngepet?" canda Iik. Setiap bulan Iik menargetkan dirinya dan suami untuk menabung sebesar Rp 6 juta untuk biaya persalinan dan akikah anak. "Masa frugal yang paling berat di situ." Iik yang baru menikah rela tidak mengisi rumahnya dengan perabotan demi kelancaran persalinan anaknya. Untungnya, di kelahiran anak kedua, Iik sudah bisa memakai fasilitas asuransi kantor.
Saat biaya persalinan anaknya sudah tercukupi dan keuangan keluarga Iik sudah stabil, bisa saja Iik tak kembali melanjutkan hidup frugal-nya karena gaya hidup ini tidak mudah dilakukan bagi sebagian orang.
"Nggak semua bisa nerapin frugal living. Kan, ada orang prinspinya yang penting aku bisa jajan. Aku juga nggak memaksa orang menjalani kehidupan kayak saya," tutur Iik yang kini sudah dikaruniai dua orang anak dan menetap di Surabaya, Jawa Timur. Namun berkat menjalani frugal living, Iik dan keluarga kecilnya sudah mengamankan sebagian tabungannya untuk dana darurat.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho