INTERMESO

Caleg Muda Bisa Apa?

“Saya turun ke lapangan bukan hanya sebagai ajang promosi, tapi juga mau menumbuhkan rasa percaya dan menghilangkan keraguan untuk memilih anak muda.”

Foto: Ilustrasi ruang rapat paripurna DPR, Senayan (Galih Pradipta/Antara Foto)

Minggu, 30 Juli 2023

Di usia yang masih terbilang muda, Renaldy Kyfen Kapoyos sudah menduduki posisi enak di sebuah perusahaan tambang emas di Sulawesi Selatan. Dengan gaji lumayan dan masa depan karir cemerlang, seharusnya tak ada lagi yang perlu Kyfen khawatirkan. Namun, entah mengapa, anak sulung dari dua bersaudara ini malah terjun ke politik dengan mendaftarkan diri sebagai kader Partai Gerindra.

“Awal masuk partai di Desember 2022. Tujuannya untuk belajar lebih dalam tentang politik. Kalau anak muda cuma diam saja di masa mudanya nggak aku banget lah,” ucap laki-laki berusia 25 tahun ini. Kyfen mendeskripsikan dirinya sebagai seorang hard worker alias pekerja keras.

Laki-laki yang berasal dari Kota Tomohon, Sulawesi Utara ini rupanya sudah memiliki rencana sendiri. Kyfen ingin memupuk ilmu sebelum terjun ke Pemilihan Legislatif Sulut di tahun 2024. Belum genap setahun bergabung dengan Gerindra, ia sudah ditunjuk menjadi Ketua Pengurus Cabang Tunas Indonesia Raya (PC Tidar) Tomohon yang merupakan sayap Partai Gerindra. Tak hanya itu, Kyfen juga terpilih untuk mewakili Gerindra menjadi Caleg DPRD Provinsi Sulut Dapil Tomohon-Minahasa.

“Tahun depan pemilihnya lebih banyak anak muda. Saya nggak mau melewati kesempatan itu,” tutur Kyfen. Setelah terlibat dalam aktivitas politik di partainya, niat Kyfen untuk bertarung dalam pemilihan anggota legislatif semakin besar. “Sebagai pemilih terbanyak, kita anak muda yang akan menentukan nasib 5 tahun ke depan bagaimana. Kalau kita nggak ambil bagian, bagaimana kita mau terlibat dan menyuarakan aspirasi kita.”

Mayoritas pemilih pada pemilu 2024 didominasi pemilih anak muda. Menurut data dari Komisi Pemilihan Umum, sebanyak 66.822.389 atau 33,60% pemilih merupakan generasi milenial. Sementara pemilih dari generasi Z adalah sebanyak 46.800.161 pemilih atau sebanyak 22,85% dari total DPT Pemilu 2024. Jika diakumulasikan, total pemilih dari kelompok generasi milenial dan generasi Z berjumlah lebih dari 113 juta atau sebanyak 56,45% dari total keseluruhan pemilih.

Ketika meminta izin kepada orang tua, lulusan terbaik Fakultas Teknik Universitas Mulawarman tahun 2019 ini sempat mendapatkan pertentangan. Di keluarga besar Kyfen, tak ada satu orang pun yang terjun ke dunia politik. Kedua orang tua Kyfen sendiri merupakan pengusaha di bidang transportasi. “Mereka khawatir karena saya harus keluar dari zona nyaman, quit job. Mereka berpikirnya sekarang saya sudah enak, kenapa lagi mau terjun ke politik?" ungkapnya.

Renaldy Kyfen Kapoyos, caleg DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari Partai Gerindra
Foto: Dok Pribadi 

Setelah memberikan penjelasan tentang motivasi dan cita-citanya, kedua orang tua Kyfen akhirnya luluh juga. Respon mereka berubah terutama setelah melihat berbagai dukungan yang datang dari tetangga. Mereka sangat antusias melihat Kyfen maju mewakili suara mereka. Hubungan akrab Kyfen dengan lingkungan sekitarnya sudah terjalin sejak ia masih kecil menjadi.

Kyfen yang pernah mengikuti program Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) 2019 selama dua bulan ini kerap terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat seperti kepengurusan gereja dan keanggotaan OSIS.

“Dari kecil aku sudah bergaul dengan masyarakat sekitar. Jadi nggak yang tiba-tiba datang buat jadi Caleg. Build trust-nya sudah dari lama,” pungkas Kyfen yang juga mewakili pemuda Indonesia untuk berdiskusi dengan David Hurley, Governor General Austalia, tentang kerja sama antar Indonesia dan Australia khususnya di bidang kepemudaan.

Jika kelak Kyfen terpilih, ia ingin fokus membantu anak muda Sulut berkembang dan menggali potensi dalam dirinya. “Saya ingin anak muda bisa berkembang menjadi versi lebih baik dari diri mereka yang sekarang.”

***

Berbekal nasi berbahan dasar santan dilengkapi dengan lauk pauk seperti telur rebus, sambal cenge, ikan teri dan kemplang abang, Riki Tryananda membuka obrolannya. Riki sengaja memilih sebuah Warung Nasi Gemuk sebagai tempatnya bertukar pikiran dengan masyarakat. Apalagi nasi gemuk ini merupakan hidangan favorit warga Jambi untuk mengawali hari.

“Dari awal nggak kenal, terus cerita-cerita, mereka nyaman sama saya dan minta kontaknya, terus ajak ketemu dan makan nasi gemuk. Kalau orang tua itu lebih senang kalau diajak makan nasi gemuk,” ucap Riki menceritakan caranya menggaet warga Jambi yang lebih tua dari dirinya.

Pendekatan yang ia lakukan ke anak muda sepantaran dirinya tentu akan berbeda. Laki-laki berusia 23 tahun ini memilih untuk menyasar tempat tongkrongan anak muda seperti kafe atau kedai kopi hits di Jambi. Tak lupa Riki mentraktir mereka dengan segelas kopi. Upaya ini gencar Riki lakukan dalam rangka pencalonan dirinya sebagai bacaleg DPRD Kota Jambi Dapil 4. Daerah pilihannya mewakili empat kecamatan yaitu Jambi Timur, Pelayangan, Pasar Jambi dan Jelutung.

“Saya turun ke lapangan bukan hanya sebagai ajang promosi, tapi kita juga mau menumbuhkan rasa percaya dan menghilangkan keraguan untuk memilih anak muda,” katanya. Jika Riki berhasil menggaet mereka, para calon pemilih yang didominasi anak muda ini bukan hanya sekedar mendukung, mereka juga komitmen untuk memuluskan langkah Riki untuk menjadi anggota legislatif.

Riki Triyananda, caleg DPRD Kota Jambi dari Partai Demokrat
Foto: Dok Pribadi 

Saat ini Riki masih terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Ekonomi Manajemen, semester akhir di Universitas Batang Hari, Jambi. Sebagai mahasiswa dengan budget terbatas, Riki memanfaatkan uang jajannya untuk melakukan sosialisasi.

“Uang jajan hari ini saya simpan buat besok terjun ke lapangan. Misalkan bawa 10 orang ke kafe, buat makan minum bisa habis Rp 200 ribu atau Rp 250 ribu,” ungkap Riki yang saat ini menjabat sebagai Ketua asosiasi mitra driver online (AMDO). Biaya itu belum termasuk kebutuhan untuk APK atau Alat Peraga Kampanye seperti baliho, stiker one way di mobil maupun kartu nama.

Sebelum terjun ke dunia politik, anak bungsu dari tiga bersaudara ini pernah menjajal berbagai jalur karir, namun peruntungan belum berpihak kepadanya. Mulai dari tes Akademi Polisi, calon Praja IPDN maupun CPNS sudah pernah ia coba. “Makanya saya sudah nggak tertarik lagi untuk masuk ke lingkup ASN karena sudah saya coba semua,” katanya.

Alih-alih terperosok dalam keterpurukan, Riki mencoba untuk terjun ke dunia politik. Sejak tahun 2020, Riki telah mencoba bergabung dalam beberapa kepengurusan partai. Riki pernah menjadi bagian dalam Barisan Muda Partai Amanat Nasional (BM PAN) maupun Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Namun, pada akhirnya, Riki berjodoh dengan Partai Demokrat dan maju sebagai caleg DPRD Jambi. Niat Riki juga didukung oleh Ketua DPC Partai Demokrat Kota Jambi, Roro Nully Kurniasih Kawuri.

“Ketua DPC merekomendasikan saya untuk masuk Demokrat dan ikut nyalon. Saya nyebut beliau Bunda. Beliau welcome waktu melihat saya bergabung karena di Kota Jambi masih sangat minim keterlibatan anak muda,” imbuh Riki. Ia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang terjun ke dunia politik. Sementara kakak perempuan dan kakak laki-lakinya berprofesi sebagai dokter umum.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE