INTERMESO

Generasi Z Mengincar Senayan

“Kita, anak muda, sebagai perwakilan masa kini dan pemilik masa depan, memang sudah waktunya turut andil dalam pengambilan kebijakan.”

Foto: Ilustrasi Gedung DPR Senayan, Jakarta (Andika/detikcom)

Sabtu, 29 Juli 2023

Kedatangan Andi Mesyara Jerni Maswara ke sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan disambut dengan tatapan sinis masyarakat. Sembari Jerni memperkenalkan diri, para orang tua mengamati perempuan bertubuh mungil ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mereka nampak skeptis saat Jerni mengutarakan niatnya ingin maju sebagai calon anggota legislatif DPR-RI dapil Sulsel 2. Apalagi usia Jerni saat ini masih 23 tahun.

”Masih muda, ya, umurmu? Memangnya kamu sudah tahu apa?” tanya mereka dalam bahasa Bugis.Untunglah Jerni tidak seperti muda mudi generasi Z bermental tempe. Alih-alih kabur dari situasi yang menyudutkan dirinya, Jerni membalas mereka dengan percaya diri .

“Tidak mungkin saya diberikan kesempatan kalau saya tidak berpotensi, apalagi ini partai besar. Saya diberi kesempatan dengan penilaian-penilaian dari mereka bahwa saya layak ada di posisi ini,” ujar Jerni tak bergeming. Ia terdaftar sebagai kader Partai Gerindra.

Jerni tidak sedang membual. Meski usianya masih belia, lulusan sarjana Komunikasi dari Universitas Bina Nusantara ini sudah menorehkan segudang prestasi. Ia tercatat sebagai atlet karate yang sudah berkali-kali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Salah satunya kejuaraan dunia World Karate Federation (WKF) yang dilangsungkan di Tenerif, Spanyol, pada tahun 2017.

Selain bidang olahraga, Jerni juga aktif menggeluti dunia modelling, seni peran dan membintangi sinetron televisi. “Kemarin emang lagi parah hectic banget. Begadang terus setiap hari. Aku paling lama tidur lima jam. Biasanya pukul 02.00 baru sempat tidur,” kata Jerni. Di sela-sela kesibukannya, ia masih sempat menyelesaikan skripsinya tepat waktu.

Andi Mesyara Jerni Maswara 
Foto: Dok Pribadi 

Semenjak menjadi caleg partai besutan Prabowo Subianto itu, Jerni sering bolak balik Jakarta-Makassar untuk bertemu masyarakat. Melalui dapil pilihannya, Jerni mewakili 9 Kabupaten, yaitu Maros, Pangkep, Barru, Pare Pare, Soppeng, Bone, Wajo, Sinjai, dan Bulukumba. “Aku sosialisasi dari pagi sampai siang atau bahkan sore. Dalam sehari aku bisa kunjungan ke dua kabupaten.”

Ketika anak muda memilih bersikap apatis terhadap segala aktivitas politik, Jerni justru sebaliknya. Sejak kecil ia malah sudah bercita-cita untuk menjadi wakil rakyat. Tak bisa dipungkiri, orang tuanya berperan dalam membentuk pola pikir Jerni. Ayahnya, Dr. Andi Zainal, SH,MH, merupakan seorang pakar hukum. Sementara ibunya, DR. Hj. Andi Nurlinda, SKM, M.Kes, merupakan Dosen FKM UMI sekaligus Wakil Ketua DPD Gerindra Sulsel. Ibunya juga mencalonkan diri sebagai Caleg DPR-RI dapil Maluku Utara.

“Kita, anak muda, sebagai perwakilan masa kini dan pemilik masa depan, memang sudah waktunya turut andil dalam pengambilan kebijakan. Apalagi aku lihat di periode tahun 2019, keterlibatan anak muda masih sedikit sekali,” pungkas Jerni yang sempat magang sebagai jurnalis di TVR Parlemen DPR-RI di Senayan selama satu tahun. Selama magang, Jerni mendapat kesempatan melihat langsung kondisi parlemen Senayan.

Niatnya untuk terjun ke dunia politik semakin kuat saat Jerni pernah menjadi korban politisasi dalam dunia olahraga. Jerni kecewa lantaran diperlakukan layaknya anak tiri di pertandingan Pekan Olahraga Nasional atau PON. Meski Jerni sudah mengikuti berbagai seleksi dan memenuhi persyaratan dalam pertandingan multi event itu, ia malah ditempatkan sebagai pemain cadangan.

“Istilahnya karena nggak punya orang dalam kali, ya, jadi bukan aku yang main,” katanya. Dalam menjalani Pelatda itu, Jerni juga serba salah karena tak diizinkan pindah atau mengundurkan diri.

Berbekal pengalaman tak menyenangkan, terlintas niat di pikiran Jerni untuk terlibat dalam cakupan yang lebih besar lagi ketimbang dunia olahraga. “Kalau aku cuma berpolitik di dunia olahraga, ya, aku cuma di situ-situ aja. Tapi kalau aku keluar dari zona nyaman, aku bisa bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi, aku bisa menyampaikan aspirasi masyarakat, khususnya di Sulsel.”

Ilustrasi Rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan,
Foto: Firda/detikcom 

Sebagai caleg di usia muda, jalan yang ditempuh Jerni tentu tak mudah. Saat berkunjung ke beberapa daerah di dapilnya, Jerni kerap mendapatkan penolakan dari kepala desa setempat. Kepala desa itu beralasan, wilayah yang dikunjungi Jerni sudah menjadi area kekuasaan caleg tertentu sehingga ia tak diizinkan bersosialisasi.

“Tidak bisa ini sudah dikavling caleg A. Jangan masuk ke daerah ini karena pemilihnya caleg B. Padahal saya belum ketemu masyarakatnya. Itu yang bikin saya kecewa,” ungkap Jerni yang pernah meraih medali perak di ajang kumite 50 Kejuaraan Karate Asia Tenggara 2019 Bangkok.

Bukan hanya itu, di dapilnya, Jerni harus melawan petahana dan poltikus tersohor dari partai lain. “Saingan aku mantan bupati, mantan walikota, senior yang sudah punya nama,.Tapi harapan aku supaya masyarakat bisa memberikan kesempatan kepada kita anak muda,” tutur Jerni.

Jika terpilih kelak, ia berharap bisa ditempatkan di Komisi X. Komisi ini membidangi pendidikan, kebudayaan riset dan teknologi, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda dan olahraga. “Aku pernah ke salah satu daerah di Kabupaten Maros, di sana anak-anak sudah kelas 3 SMP tapi belum bisa membaca. SD kelas 3. SMP belum bisa membaca. Mengiris hati aku sekali. Pendidikan ini yang nantinya akan jadi salah satu fokus kerja aku jika terpilih,” imbuh Jerni.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE