INTERMESO

KKN, dari Toa Masjid Hingga Pesta Rakyat

"Biasanya anak-anak pejabat sama anak petinggi dirut BUMN lokasi KKN pasti di alam yang eksotis kayak NTT."

Foto: KKN UGM di Kalimantan Utara (dok pribadi Hamima Nur Hanifah)

Minggu, 09 Juli 2023

Tepat pukul 06.00 WIB, sekumpulan mahasiswa Universitas Gajah Mada dari berbagai macam fakultas berkumpul di salah satu pasar awul-awul Yogyakarta. Bermodalkan sebuah lapak dadakan yang terbuat dari tenda, salah satu dari antara mereka, Matheus Lumbanraja, mulai menawarkan beragam baju bekas kepada calon pembeli yang lewat. Matheus menjadi bagian dari tim dana usaha demi lancarnya pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata atau KKN di Pulau Samosir, Sumatera Utara.

“Mungkin karena mereka (calon pembeli) tahu kita mahasiswa, nawarnya nggak kira-kira. Masa bajunya mau dibayar Rp 2 ribu. Parkir saya aja berapa?" keluh alumni UGM angkatan tahun 2014 ini.

Jika saja salah satu anggota KKN di kelompoknya ada yang memiliki koneksi dengan direktur perusahaan atau pejabat pemerintahan, Matheus dan timnya tak perlu pontang panting mengumpulkan uang dan berjualan di pasar loak. Mereka dapat dengan mudah mendapatkan dana berbekal pengajuan proposal KKN.

“Biasanya anak-anak pejabat sama anak petinggi dirut BUMN lokasi KKN pasti di alam yang eksotis kayak NTT,” ucap alumni Fakultas Hukum ini setelah mengobservasi kelompok KKN lainnya.

Namun, nasib kelompok KKN Matheus pun tak sial-sial amat. Kebetulan ia mendapatkan bantuan dari salah satu dosen pembimbing KKN. Alhasil, Matheus berhasil mendapatkan sokongan dana dari beberapa perusahaan seperti Angkasa Pura, Pelindo dan Antam.

KKN UGM di Pulau Samosir
Foto: Dok Pribadi Matheus Lumbanraja 

Dengan dana yang berhasil mereka kumpulkan, kelompok KKN-nya memberikan kontribusi kepada desa tempat mereka KKN dalam bentuk toa masjid. Kebetulan salah satu masjid di desa yang terletak di Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir itu tak berfungsi sebagaimana mestinya karena sudah termakan usia. Selain itu, kelompok KKN Matheus juga membagikan bibit durian dan coklat untuk ditanam warga.

Meski Matheus melakukan KKN di kampung halamannya sendiri, ia menyayangkan kurangnya minat dan partisipasi warga lokal dalam program yang dibuat mahasiswa. Seperti pada saat ia mengadakan program sosialisasi pencegahan investasi bodong dengan mengundang Lembaga Otoritas Jasa Keuangan dari Medan. Padahal jarak yang ditempuh perwakilan OJK menuju desa itu bisa mencapai 8 jam perjalanan darat, tapi peserta yang datang terhitung minim.

“Di sana ada 99 KK. Yang datang dari elemen masyarakat cuma 7 orang. Tapi begitu pembagian tas yang ada emblem OJK baru ramai,” keluh Matheus.

Begitu pula saat ada program pembangunan green house dan pembuatan septic tank yang diinisiasi kelompok KKN. Matheus dan kawan-kawannya cukup kewalahan menggali lubang sedalam dua meter karena karakter tanah di Pulau Samosir yang berbatu. Karena kekurangan tenaga, mereka terpaksa membayar pemuda desa untuk membantu.

“Buat standar orang Batak mungkin menurut mereka penyambutan mereka sudah welcome. Tapi buat orang Jawa kan beda lagi ceritanya,” ungkap Matheus. Kelompok KKN Matheus menjadi kelompok pertama sekaligus kelompok terakhir penyelenggaraan KKN di sana. “Tahun depannya geser ke desa di sebelahnya.”

***

Saat melakukan KKN di Desa Karang Agung, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Hamima Nur Hanifah hampir bernasib sama. Ketika tiba di sana dan mulai melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat, Mima dan kawan-kawannya kurang mendapatkan antusias dari masyarakat. Kedekatan mereka malah dipersatukan melalui tuak, minuman fermentasi beralkohol yang telah menjadi bagian dari adat masyarakat di Kalimantan.

Hamima Nur Hanifah bersama anak-anak di wilayah tempatnya KKN di Desa Karang Agung, Kabupaten Bulungan, Kaltara 
Foto : Dok Pribadi

Meski warga yang menduduki Desa Karang Agung kebanyakan merupakan transmigran dari Pulau Jawa, mereka tetap menjalankan tradisi minum tuak. Tuak yang biasanya terbuat dari fermentasi nira atau beras ketan ini memiliki penampilan berwarna putih seperti air cucian beras. Tuak biasanya disediakan pada perayaan dan ritual masyarakat Adat Dayak, termasuk dalam menyambut tamu.

Tuak menjadi lambang kebersamaan, kekeluargaan dan persahabatan. “Sehabis program KKN selesai di malam hari, kebanyakan anak cowok suka nongkrong bareng pemuda di sana sambil minum. Bondingnya terbentuk dengan pendekatan kasual,” kata lulusan Antropologi UGM Angkatan tahun 2015 ini. Tuak menjadi lambang kebersamaan, kekeluargaan dan persahabatan. “Anak-anak malah pada senang dapat minuman gratis. Pas pulang juga dibawain oleh-oleh tuak.”

Program KKN yang diadakan mereka pun dapat berjalan dengan lancar. Salah satunya acara pesta rakyat yang dirancang oleh Mima. Pesta selama tiga hari ini diisi dengan beragam aktivitas seperti acara jalan sehat, lomba futsal dan pertunjukan seni. Masyarakat desa mengikuti program ini dengan semarak.

“Kita bikin pertunjukan kesenian kuda lumping dengan melibatkan kelompok seni di Kalimantan. Senang aja lihat antusiasme masyarakat, kayak seru banget aku bikin acara di situ. Saling dukung. Dari semua jenjang usia juga terlibat,” katanya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE