INTERMESO

Air Mata di Ujung KKN

“Yang aku nggak sangka KKN itu menyenangkan. Padahal aku awalnya nggak mau KKN karena malas.”

Foto: Dok Pribadi Muhammad Nabil

Sabtu, 08 Juli 2023

Selama 20 tahun hidup, Muhammad Unies Ananda Raja akhirnya baru merasakan bagaimana susahnya buang hajat tanpa ketersediaan air. Pengalaman itu ia rasakan bersama kawan-kawannya saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata atau KKN di Lombok Utara pada akhir tahun 2018. Sistem perpipaan yang seharusnya mengalirkan air bersih dari pegunungan di Desa Gumantar, kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, rusak akibat dihantam gempa bermagnitudo 7.

Sebelum berangkat ke lokasi pelaksanaan KKN, alumni Universitas Gajah Mada Angkatan tahun 2015 ini sudah diwanti-wanti perihal kondisi Lombok Utara setelah diterpa bencana. Salah satu permasalahan yang masih menjadi kendala saat itu ialah kesulitan akses air bersih pasca gempa.

“Setelah KKN itu kami bawa pulang oleh-oleh dalam bentuk hikmah bahwa akses air itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa taken for granted,” ucap Unies saat dihubungi detikX.

Pertama kali Unies dan rombongan KKN menjejakkan kaki di Lombok, mereka begitu kaget melihat kondisi kota yang luluh lantak. Meski gempa sudah terjadi enam bulan lalu, Unies masih mendapati reruntuhan bangunan yang masih terabaikan dan berserakan di jalan. Pemandangan serupa ia dapati saat tiba di Desa Gumantar.

“Lokasi desa yang aku tinggalin itu di pinggir gunung. Ternyata proses recovery-nya nggak secepat yang aku kira. Pas kita ke sana, mereka lagi mulai bangun rumah,” katanya.

Muhammad Unies Raja saat KKN di Lombok Utara  tahun 2018 (Foto: Dok Pribadi)

Selama dua bulan menjalankan KKN di sana, Unies dan kawan-kawannya tidur di dalam tanda militer yang dipinjamkan oleh Palang Merah Indonesia. “Soalnya rumahnya Pak kades hancur. Kalau nggak tidur di tenda, kita tidur di gazebo bareng pemuda kampung.”

Di antara reruntuhan bangunan, untungnya masih ada satu bangunan kamar mandi di sebuah Sekolah Dasar yang bertahan dari gempa. Kamar mandi itu digunakan secara bergantian oleh teman-teman Unies. Namun, karena jumlah kamar mandinya tidak banyak, mahasiswa yang kebanyakan laki-laki memilih untuk tidak mandi.

“Bahkan ada yang sampai 1 minggu nggak mandi. Soalnya mau ke sungai juga jauh, jaraknya setengah jam jalan kaki. Setahuku juga nggak semua rumah di sana ada kamar mandi,” ucapnya. Akibat kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, Unies dan teman-temannya juga sempat mengalami diare.

Namun, di balik kesulitan yang mereka hadapi, keberadaan mahasiswa UGM ini begitu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lokal. Mahasiswa yang terdiri dari berbagai macam jurusan dan prodi bahu membahu membangun desa yang hancur akibat gempa. Unies rela keluar masuk hutan demi mencari bambu untuk merenovasi kembali sebuah sekolah darurat. Mereka juga naik turun gunung untuk membantu memperbaiki pipa air yang rusak.

“Yang aku nggak sangka KKN itu menyenangkan. Padahal aku awalnya nggak mau KKN karena malas. Ngapain, sih, KKN, pengen cepat lulus aja. Ternyata warga desanya terbuka dan bikin kita nyaman. Pas mau pulang aja kita nangis bareng warga,” kenang Unies.

***

Meski delapan tahun sudah berlalu, Muhammad Nabil masih bisa merasakan kehangatan warga di Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Ketika sedang kumpul bersama teman-teman angkatan KKN, mereka masih saling berjumpa via video call. Masih lekat diingatan Nabil ketika warga lokal menjamu rombongan KKN dari UGM ini dengan aneka olahan laut. Begitu pula saat mereka dibawa ke sebuah pulau yang air lautnya masih begitu biru dan jernih.

“Kebetulan kita bisa guyup dengan masyarakat di sana. Mereka juga sangat bersahabat. Hubungan antar masyarakatnya juga masih sangat saling mengenal antara satu dengan yang lain. Sampai kami dibuat sangat heran karena mereka meninggalkan motor dengan kondisi kunci masih nempel,” kata alumni UGM Fakultas Biologi ini saat menceritakan keakrabannya dengan warga setempat.

Peserta KKN UGM sedang menaiki perahu warga di Bangka
Foto: Dok Pribadi Muhammad Nabil 

Setiap hari, ada saja kegiatan yang dilakukan Nabil dan rekan-rekannya. Hidup selama dua bulan tanpa terhubung dengan sinyal pun tak terasa menyiksa. Masyarakat di Desa Penagan dan kelompok KKN ini sepakat untuk membuat budidaya Kepiting Remangok atau kepiting bakau yang menjadi ciri khas daerah di Pulau Bangka.

“Cuma sayangnya setelah 1 tahun berlalu atau di tahun kedua, kalau nggak salah ada gempa atau apa, jadinya air laut naik dan tempat budidayanya hancur,” ungkap Nabil.

Cerita mistis ikut mewarnai KKN Nabil. Beberapa temannya turut mengalami kejadian menakutkan itu. Lokasi KKN yang jauh dari pusat keramaian dan dikelilingi perkebunan sawit turut mendukung kisah seram itu. Ditambah lagi pengakuan dari teman-teman Nabil yang mengaku bisa merasakan dan melihat makhluk halus.

“Teman saya habis maghrib naik motor melewati perkebunan sawit. Di tengah jalan ketemu motor lain. Pas disalip nggak ada mukanya. Langsung panik dong dia,” tawa Nabil.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE