INTERMESO

Pramugari Haji

Ketika Jemaah Haji Ingat Kambingnya di Pesawat

"Jadi mereka kadang BAB (Buang Air Besar) dan pipis itu di bawah. Mau nggak mau kita mesti bersihin.”

Ilustrasi: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.

Sabtu, 24 Juni 2023

Dengan senyum hangat, Teddy Anggara dan seluruh kru kabin Garuda Indonesia menyambut rombongan jamaah haji di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Berbalut seragam batik haji, satu per satu menaiki memenuhi kursi di maskapai plat merah itu.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jamaah haji yang dilayani Teddy dan rekan-rekannya pada keberangkatan tahun ini terasa lebih istimewa. Banyak di antara peserta yang usianya sudah melampaui satu abad. Sebagai pramugara haji, Teddy harus memastikan kenyamanan dan keselamatan mereka hingga tiba di tanah suci.

“Tahun 2023 ini jamaah kita ini usianya ada yang 100 tahun. Sejak pandemi kemarin tahun 2022, sempat dibatasi umur pesertanya. Nah, sekarang semua bisa berangkat ibadah dan berapa pun umurnya,” jelas Teddy saat dihubungi detikX. Tahun 2010 merupakan awal kisah Teddy mengawali karir sebagai pramugari haji di embarkasi Padang. Saat ini ia bekerja sebagai pramugara penerbangan regular di Garuda Indonesia.

Meski kondisi fisik calon jemaah haji tak lagi mendukung, namun Teddy masih bisa melihat ekspresi bahagia terpancar dari wajah mereka. Kesempatan yang ditunggu-tunggu seumur hidup untuk menjalankan ibadah rukun Islam kelima akhirnya datang juga. Namun, tak bisa dipungkiri, ada perasaan khawatir dan takut yang menggelayut di benak mereka. Apalagi ini merupakan pengalaman pertama para peserta haji menaiki burung besi dan melintasi luasnya samudera. Sepanjang perjalanan, lantunan doa dan nyanyian pun tak berhenti mereka panjatkan.

Jika pramugari dan pramugara umumnya dituntut untuk cas cis cus dalam Bahasa Inggris, di penerbangan kali ini, kemampuan berbicara dalam bahasa daerah justru menjadi kelebihan tersendiri. Ketika Teddy diminta melayani embarkasi Padang, pria yang juga lahir di kota asal rendang ini akan lebih sering menggunakan bahasa daerahnya untuk berbicara dengan jamaah haji.

“Para jamaah yang asalnya dari daerah, mohon maaf, benar-benar nggak bisa berbahasa Indonesia. Di situlah dibutuhkan skillnya kita sebagai awak kabin. Mungkin kayak saya dari Padang atau mungkin teman saya dari Solo dia bisa melayani dengan bahasa Jawa. Teman saya dari Makassar dia melayani dengan Bahasa Makassar,” ungkap pria berusia 35 tahun ini.

Teddy Anggara
Foto: Dok Pribadi 

Bahasa daerah membantu jamaah haji untuk memahami instruksi yang disampaikan Teddy. Seperti saat sedang membagikan makanan kepada penumpang pesawat, tak sedikit jamaah haji yang menolak karena mereka khawatir akan ditagih uang untuk membayar makanan. Padahal makanan sudah menjadi bagian dari fasilitas penerbangan maskapai Garuda Indonesia.

“Ini bayar lagi nggak?”ucap Teddy menirukan salah satu penumpangnya. Teddy juga pernah bekerja di Phuket Airlines yang bekerja sama dengan Saudi Arabian Airlines untuk penerbangan menuju Saudi Arab.

Sepanjang karir Teddy di udara, ia paling tidak bisa melupakan pengalamannya saat menangani jamaah umroh yang menjemput ajal di pesawat. Padahal saat itu pesawat tengah bertolak kembali menuju Indonesia. Kebetulan selama penerbangan berdurasi 10 jam, Teddy beberapa kali memberikan bapak itu makanan. Teddy mulai panik ketika ia mendapati sang bapak tidak kunjung bangun dari tidur.

“Di service pertama si bapak ini bangun dan makan, pada saat kita membangunkan untuk service kedua bapaknya nggak bangun lagi,” katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan penumpang itu. Penumpang lain yang berprofesi sebagai dokter ikut membantu para awak kabin melakukan CPR atau resusitasi jantung. Tindakan itu mereka lakukan hingga pesawat mendarat di Jakarta. Namun, sayang, nyawanya tetap tidak terselamatkan.  

“Sampai akhirnya pada saat mendarat itu saya masih di kursi bapak tersebut. Meninggalnya di tangan saya. Tapi baru dinyatakan meninggal itu setelah diturunkan dari pesawat. Si bapak mungkin jantungan, kena heart attack di penerbangan,” ungkap Teddy.

Jemaah calon haji berjalan menuju pesawat yang membawa ke Tanah Suci di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (23/5/2023)
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/tom 

Di suatu penerbangan haji yang dilayani Devi Widyasari, pramugari haji maskapai Garuda Indonesia, salah satu penumpangnya, seorang kakek tiba-tiba merengek minta turun karena teringat binatang peliharaannya di rumah. Kejadian ini mirip dengan kisah Abah Juhani dalam sebuah video viral beberapa waktu lalu. Jemaah haji asal Kabupaten Majalengka itu meminta izin kepada pramugari untuk memberi pakan ke ayamnya.

“Kejadian seperti itu memang suka terjadi. Namanya juga sudah lanjut usia dan pikun. Waktu itu jamaah haji saya nggak mau duduk karena dia kepikiran kambingnya di rumah, dia mau balik aja,” cerita perempuan berusia 24 tahun ini. Setelah beberapa upaya untuk meyakinkan si kakek dilakukan, akhirnya ia menyerah dan kembali duduk.

Pengalaman Devi melayani penumpang saat menjadi pramugari penerbangan regular di tahun 2017 dan kini sebagai pramugari khusus penerbangan haji, ia merasakan perbedaan yang cukup besar. Dibutuhkan kesabaran ekstra saat melayani jamaah haji, terutama dalam hal penggunaan toilet di dalam pesawat. Banyak di antara Jemaah haji yang tidak terbiasa menggunakan toilet duduk dan tissue.

“Jadi mereka kadang BAB (Buang Air Besar) dan pipis itu di bawah. Mau nggak mau kita mesti bersihin,” ucapnya. Meski terkadang Devi kewalahan mengadapi tingkah laku unik para penumpang haji, ia senang karena sebagai pramugari haji, Devi mendapatkan kesempatan melakukan ibadah umroh.

“Karena sebelumnya kan saya ya Allah pengen umroh, pengen umroh, tapi nggak ada dana, kan. Nah, habis itu Garuda buka lowongan pramugari haji kan. Di sela-sela istirahat di Madinah saya bisa ibadah umroh karena kita stay di sana bisa sampai dua hari baru balik lagi ke Solo,” kata Devi yang sudah lima kali bolak balik Madinah-Solo selama musim haji tahun ini.


Reporter: Dimas Miftakhul Fakri
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE