Ilustrasi: Edi Wahyono
Jumat, 23 Juni 2023Asisten Wedana Teluknaga, Raden Tuwuh, terperanjat ketika segerombolan orang berjumlah 40 orang tiba-tiba mendatanginya di pendopo. Hari itu, Selasa, 19 Februari 1924, pagi, segerombolan orang itu memakai pakaian serbaputih, baik baju maupun celana. Selain itu, mereka mengenakan topi boni, topi khas Tangerang, yang terbuat dari anyaman bambu. Sebagian lagi mengenakan ikat kepala kain putih.
Tuwuh semakin panik karena tamu tak diundang itu membawa golok, kapak, dan tombak. Dia tak mengenali satu pun dari mereka, kecuali pemimpinnya, yaitu Kaiin Bapa Kayah, 40 tahun. Tuwuh mengenal Kaiin sebagai dalang wayang golek asal Kampung Pangkalan, yang sekarang masuk wilayah Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga, Tangerang.
Mereka langsung merangsek dan menghunuskan senjata tajam ke arah Tuwuh. Kaiin saat itu mengaku sebagai titisan Prabu Rabul Alamin dan bertanya kepada Tuwuh apakah dirinya membela orang kafir atau tidak. Kalau Tuwuh tak mendukung gerakan Kaiin, ia bakal dibunuh.
“Oleh karena datangnya itu orang-orang pada hamba kasar dan mau menganiaya hamba, serta hamba tidak ada kekuatan melawan, lalu hamba cari akal supaya jadi keselamatan. Lantas hamba bilang 'tidak mau bela kafir,’” ucap Tuwuh dalam laporan Penasehat Urusan Bumiputera RA Kern kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock pada Maret 1924.
Laporan RA Kern berjudul 'Onderzoek naar de Diepere Oorzaken van de Gebeurtenissen' op 10 Februari 1924 tersimpan di perpustakaan Koninklijk Instituut Voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) Leiden, Belanda. Laporan ini dimuat dalam buku Sartono Kartodirjo berjudul 'Laporan-Laporan tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX' yang diterbitkan Arsip Nasional Republik Indonesia pada 1981.
Kisah Kaiin juga ditulis oleh Didi Suryadi dengan judul Pemberontakan Petani di Tangerang 1924 dalam buku 'Seksi Sejarah Perlawanan terhadap Belanda 2' yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1982. Kaiin mengatakan mereka sedang berjuang menuntut keadilan dan pengembalian tanah yang dikuasai oleh para tuan tanah partikelir di daerah Tangerang, Batavia (sekarang Jakarta), dan Buitenzorg (Bogor).

Topi boni anyaman bambu khas Tangerang yang dipakai kelompok Kaiin Bapa Kayah untuk memberontak
Foto: Tropenmuseum
Awalnya Kaiin mengumpulkan para pengikutnya saat acara khitanan anaknya pada Jumat, 8 Februari 1924. Dalam pertemuan itu, disepakati pemberontakan akan dilakukan pada 10 Februari 1924. Pengikut Kaiin menyerahkan uang 1 gulden 7 sen, yang disimpan di tempat air dan bunga bekas mencuci wayang golek Sena (Bima), Arjuna, dan Semar.
Keesokan harinya, uang receh 7 sen dikembalikan kepada para pengikutnya yang digunakan sebagai jimat. Mereka menggalang dana, senjata, dan menghasut masyarakat agar membenci para tuan tanah. Setelah tiba waktu yang sudah ditentukan, mereka melancarkan serangan.
Rumah dan bangunan milik tuan tanah yang ditemui Kaiin dan pengikutnya langsung dihancurkan atau dibakarnya. Bila tuan tanah melawan, nyawa pun melayang. Alasannya, para tuan tanah itu sudah habis masa kontraknya selama 25 tahun dan harus mengembalikan kepada kaum pribumi. Mereka juga mendatangi pejabat lokal/daerah agar menghapuskan cuke (pajak), kerja paksa, dan kompenian. Mereka rencana menyerang Batavia dan menghancurkan kota.
Tuwuh berusaha tenang dengan mengajak Kaiin dan pengikutnya untuk mengobrol. Tak lupa Tuwuh menyuguhkan minuman teh hangat dan rokok. Pukul 09.30 WIB, datang tiga orang kontrolir, komandan detasemen polisi dari Mauk, serta beberapa polisi dari Teluknaga.
Kontrolir berupaya membujuk agar Kaiin dan pengikutnya mengurungkan menyerang para tuan tanah, tapi gagal. Siang harinya, Asisten Residen Van Helsdingen bersama serombongan polisi dan marsose tiba. Helsdingen berdialog dengan Kaiin hingga disepakati aksi kelompok itu akan dikawal polisi dan marsose menuju pusat Kota Tangerang.
Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, setiba di daerah Tanah Tinggi, Helsdingen meminta kelompok Kaiin beristirahat dahulu. Rupanya ini merupakan siasat Helsdingen untuk melumpuhkan gerakan Kaiin dan pengikutnya yang dilihatnya sudah lelah. Ketika istirahat itulah beberapa anak buah Helsdingen mendekati Kaiin agar mau mendekati mobil polisi.
Setelah mendekat, Kaiin ditangkap oleh dua polisi dan segera dimasukkan ke mobil. Tapi tindakan tersebut dilihat pengikut Kaiin yang meloncat dan berteriak. Mendengar teriakan, pengikut Kaiin lain bangkit dan menyerang polisi.

Suasana di Tangerang sekitar tahun 1900-an.
Foto: Tropenmuseum
Kelompok Kaiin kalah jumlah dibanding jumlah polisi dan marsose. Suara rentetan tembakan memecahkan suasana di kebun kelapa tersebut. Dentingan kelewang milik marsose dan golok, kapak, serta tombak pengikut Kaiin terdengar. Perkelahian tak seimbang itu hanya berlangsung dalam tempo 5-10 menit.
Kaiin dan 19 pengikutnya tewas di tempat itu. Sisanya sebanyak 23 terluka parah dan ditangkap. Di pihak keamanan Hindia Belanda, yaitu Scheepmaker, tewas terkena sabetan golok. Begitu juga dengan nasib polisi lapangan bernama Darsono.
Kaiin lahir di Kampung Pangkalan, Teluknaga, pada 1884. Ayahnya bernama Kayah, sehingga namanya dikenal sebagai Kaiin Bapa Kayah. Sejak kecil rajin mengaji dan silat. Setelah dewasa, ia menjadi petani kecil yang tak memiliki lahan. Statusnya sebagai bujang sawah (buruh) yang bekerja kepada teko (orang Tionghoa pemilik sawah).
Kaiin pernah menjadi mandor di kebun sutra, tapi pada 1912 keluar. Setahun kemudian dia menjadi opas di kantor Asisten Wedana/Camat Teluknaga. Tapi, 4 bulan kemudian, Kaiin hijrah ke Batavia sebagai opas pada seorang komisaris polisi.
Tak lama kemudian, ia pulang kampung dan menjadi asisten dalang di Mauk. Hingga akhirnya Kaiin menjadi dalang dan terkenal di Kebayuran dengan sebutan Ki Dalang. Lalu dia menikahi perempuan muslim keturunan Tionghoa bernama Nyonya Banten (Tan Ten Nio).
Kaiin, yang menjelma menjadi Ki Dalang, lalu mulai tergerak hatinya untuk memperjuangkan ketidakadilan masyarakat yang dizalimi para tuan tanah. Nyawanya pun melayang di tangan Belanda.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho