Foto Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/kyonntra
Sabtu, 28 Mei 2023Bagaikan air yang tenang di luasnya samudera, dua tahun pernikahan dijalani Elvina, bukan nama sebenarnya, dan suami tanpa kendala berarti. Meski tak pernah cekcok apalagi bertengkar, kita semua tahu, air yang tenang sekalipun terkadang justru lebih menghanyutkan. Belakangan Elvina baru menyadari, ada yang tak beres dari hubungan keduanya.
“Kita, sih, baik-baik aja, ya, tapi dari segi saya-nya itu kayak sering marah-marah sendiri, uring-uringan sendiri. Padahal suami itu menurut saya udah sabar, udah baik,” ungkapnya saat dihubungi detikX. Tidur Elvina juga kerap terganggu.
Ketika suaminya melakukan sebuah tindakan yang tidak ia sukai, Elvina akan mendiamkan pasangannya atau melakukan silent treatment selama beberapa saat. Selain itu, Elvina juga terindikasi mengalami vaginismus atau sebuah disfungsi seksual pada vagina wanita yang membuat hubungan mereka menjadi kurang harmonis.
“Intinya tidak bisa masuk secara penuh dari laki-laki, itu yang penyebabnya bisa jadi stres, bisa jadi ketegangan otot,” kata perempuan berusia 29 tahun ini.
Elvina khawatir masalah ini dapat membuat hubungan keduanya merenggang. Melalui seorang temannya, Elvina berkenalan dengan dengan Sukmadiarti Perangin-angin M.Psi. Ia adalah seorang psikolog sekaligus konselor keluarga dan konselor pernikahan di @psikolog_keluarga.
Selama lima tahun, Sukma menangani beragam klien yang mengalami benturan di rumah tangga mereka. Sebagai konselor pernikahan, Sukma berperan untuk membantu pasangan suami istri dalam mengenali dan menyelesaikan konflik rumah tangga mereka. Pasangan yang datang kepada Sukma ada yang sedang mempertimbangkan perpisahan atau ingin meningkatkan keintiman.

Foto ilustrasi pertengkaran dengan pasangan
Foto: iStock
“Macam-macam latar belakangnya, ada yang anak pejabat, ada yang pejabat, ada yang orang biasa, macam-macam, ya, dari kalangan bawah, menengah, sampai kalangan atas ada. Dari berbagai kalangan, dari yang berpendidikan, yang terbatas sekalipun juga ada yang sudah muncul kesadarannya,” ucap perempuan yang berdomisili di Semarang, Jawa Tengah, ini.
Dari tiga kali sesi terapi, Elvina sudah menjalani dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama, Elvina mengunjungi tempat praktek Sukma dengan wajah muram. Elvina dipersilahkan untuk duduk berbaring di sebuah sofa terapi. Sukma sengaja menyetel lagu dan memasang pewangi ruangan beraroma lavender agar kliennya merasa nyaman
“Suasananya, ya, senyaman mungkin, ya. Ada AC-nya, disediakan minum, khususnya tisu ya, karena penuh dengan air mata,” ucap Sukma. Dengan suasana yang nyaman dan private, kliennya lebih leluasa untuk bercerita.
Selama hampir satu jam, Sukma membiarkan Elvina bercerita dan berkeluh kesah. Dari hasil observasinya, Sukma mencatat beberapa poin penting. Selama itu pula, Elvina menangis sejadi-jadinya. Di benak Elvina, terbayang kekerasan yang kerap dilakukan Ayah dan Ibunya sewaktu masih kecil. Belum lagi ia kerap menjadi korban perundungan saat masih sekolah.
“Akar masalah dalam dirinya tidak hanya masalah yang saat ini terjadi tapi juga masalah dari dalam dirinya, misalnya luka batin akibat peristiwa-peristiwa yang dia pernah alami di masa lalu. Masa lalu di pernikahan orang tuanya atau di pola asuh,” terang Sukma.
Pola asuh dan kekerasan yang dilakukan orang tua Elvina ternyata mempengaruhi emosi, perilaku dan karakternya di masa kini. “Setelah dikulik sama Bu Sukma itu ternyata ajaran dari orang tua yang salah. Ibu saya itu kalau ngajarin gini ‘Kalau kamu dipukul orang, pukul balik.’ Itukan sampai besar akhirnya, kalau disakitin orang, sakitin balik.”
Konselor membantu Elvina melepaskan emosi negatif yang ia rasakan, baik kepada masa lalu maupun suaminya. Ketika rasa kecewa, sakit hati, kemarahan dan takut itu menghilang, maka rasa cinta yang semula tertimbun akan muncul dengan sendirinya.
Setelah dua kali sesi terapi, akhirnya Elvina bisa tidur nyenyak. Hubungan dengan suaminya tanpa sadar pun menjadi lebih mesra. Berbeda dengan sebelumnya, di pertemuan kedua dengan Sukma, Elvina datang dengan wajah cerah dan sumringah.

Ilustrasi pasangan suami-istri
Foto: Getty Images/OJO_Images
“Rasa cintanya hadir lagi, jadi relasinya semakin baik. Karena tidak ada manusia yang sempurna, pasangan kita, termasuk diri kita juga bisa melakukan kesalahan, maka berdamailah,” pesan Sukma kepada Elvina.
Sukma menyarankan bagi pasangan suami istri untuk melakukan konseling pernikahan sebelum permasalahan berubah menjadi gawat. Seperti salah satu kliennya yang saat ini tinggal di Jerman, Uwie, bukan nama sebenarnya. Ia berinisiatif melakukan sesi terapi dengan Sukma untuk mengetahui perkembangan hubungannya dengan sang suami.
“Karena pernikahan yang sudah cukup lama, 15 tahun. Ingin mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu diperbaiki dari kedua belah pihak pasangan,” tuturnya. Sejauh ini, Uwie dan suaminya sudah melakukan dua kali sesi konseling.
Ketimbang curhat kepada orang tua, teman, atau tetangga, Uwie merasa lebih nyaman bercerita kepada tenaga professional. Apalagi topik yang ia bicarakan bersifat rahasia. “Saya memilih psikolog sebagai tempat cerita, karena dia ahli di bidangnya dan jelas pasti amanah dalam menyimpan cerita rumah tangga kita,” Imbuh Uwie.
Selain konseling pernikahan, Sukma juga melayani konseling pranikah untuk pasangan yang akan menikah atau sudah bertunangan. Tujuannya adalah untuk membantu memahami satu sama lain, mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan dan mengatasi perbedaan yang ada.
Reporter: Dimas Miftakhul Fakri
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho