Ilustrasi: Seoul Tower di pusat Kota Seoul (Rachmatunnisa/detikcom)
Minggu, 14 Mei 2023Semenjak menetap di Korea Selatan, Cathlea Mahardiestya tak menyangka bisnis batik yang ia tekuni bersama sang suami, Younghyun Kim, bakalan laris dan disukai warga lokal, terutama kaum muda-mudi. Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, ini sampai harus membuka toko baju batik Bernama Halo Bali di sebuah gang kecil dekat Pantai Gwangalli, Busan.
“Sebenarnya kita 70% penjualan online, tapi banyak orang Korea mau lihat barang kita secara langsung. Jadi kita buka toko di sini,” ucap perempuan yang juga dikenal dengan nama Cathlea Kim ini saat dihubungi detikX. Sekitar 98% pelanggan HaloBali didominasi oleh orang Korea. “1% orang Indonesia, 1% lagi dari negara lain.”
Saban hari, salah satu pelanggan setia Cathlea mampir ke tokonya. Laki-laki itu sengaja mampir ke HaloBali sebelum melakukan perjalanan liburan ke Eropa. Saking Sukanya dengan kain batik Tenun Troso asal Jepara, ia sampai memboyong empat set pakaian sekaligus untuk dibawa berlibur.
“Kalau kalian sudah jatuh cinta sama batik, kalian pasti nggak bisa melarikan diri,” kata pelanggan Cathlea, memberikan ulasan positif pada produk yang ia beli. Cathela dan suaminya menyulap kain bermotif batik dan tenun menjadi berupa-rupa produk. Misalnya kemeja, celana, sarung, terusan, tote bag, bantal, dompet, dan masih banyak lagi.
Bisnis di bidang kain tradisional asal Indonesia ini bermula dari kecintaan Cathlea terhadap batik. Saat masih kecil, Cathlea kerap menemani ibunya berbelanja kain batik di pasar. Dari situ ia bisa membedakan mana kain batik yang memiliki kualitas terbaik. Cathlea semakin mantap berjualan batik setelah bertemu suaminya saat menempuh pendidikan magister di Pukyong National University tahun 2018 silam.
-7xhgkg.png)
Cathlea Mahardiestya dan suaminya mengenakan produk batik hasil kreativitas mereka.
Foto: Dok Pribadi/Instagram
“Suami aku juga sangat suka batik, dia udah nggak pernah beli baju bermotif lagi kecuali batik asli atau punya brand kami karena katanya warna batik itu lebih bagus dari printing,” kata perempuan berusia 29 tahun ini.
Berbekal modal Rp 3 juta, Cathlea membeli kain batik dari Indonesia, lalu ia bawa dan jual di Korea. Karena modalnya pas-pasan, Cathlea hanya mampu berjualan dengan membuka lapak di pasar. Tak peduli panas atau hujan, Cathlea berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar lain. Mulai dari Kota Seol hingga Busan ia jajal. Tapi sayang, bisnisnya pada saat itu kurang mendapatkan respon positif.
“Yang beli ada tapi kalo ditanya laris apa nggak? Ya jawabannya nggak. Peminatnya kebanyakan usia 45 tahun ke atas dan setiap kali beli mereka selalu nawar habis-habisan,” cerita Cathlea.
Setelah berjualan di pasar selama 1,5 tahun, bisnisnya tidak berjalan maksimal. Cathela pun putar otak. Berbekal kemampuan di bidang desain, Cathlea mulai membuat motif batiknya sendiri menjadi lebih modern. Motif batik yang dibuat Cathlea seperti motif bintang, bulan, hewan maupun bunga dengan desain yang lebih kekinian.
Rupanya anak muda di Korea menyukai motif batik yang demikian dengan warna kain cerah menyala. Cathela dan suaminya menyulap kain bermotif batik dan tenun menjadi berupa-rupa produk. Misalnya kemeja, celana, sarung, terusan, tote bag, bantal, dompet dan masih banyak lagi. Meski motifnya iai buat sendiri, proses pembuatan batik capnya tetap dilakukan di Indonesia, tepatnya di Solo dan Bali.
“Aku mendapatkan kesempatan ikut bazaar di Busan Brand Festival gratis. Booth pertama aku dengan barang yang baru. Tiga hari jualan dan barang kita semua sold out,” tutur Cathlea senang. Ia juga sempat menempuh Pendidikan sarjana di Universitas Diponegoro jurusan Arsitektur.
Selain melayani pelanggan di Korea, Cathlea juga kerap menerima permintaan dari fanbase alias penggemar aktris atau aktor Korea dari Indonesia. Di hari spesial aktris atau aktor pujaan mereka, Cathlea diminta bantuannya untuk mengirimkan batik buatannya sebagai hadiah. Cathlea pernah mengirimkan Shin Min Ah, aktris dalam serial film Home Town Cha-Cha-Cha, sebuah tote bag bermotif batik.
“Karena kalau kirim dari Indonesia biaya kirim mahal dan lama sampenya. Aku senang banget bisa bantun mereka kirim hadiah ke idola tercinta,” ungkapnya.
Selain itu, produk-produk batik yang dijual HaloBali juga sudah pernah digunakan beberapa kali oleh bintang besar Korea, “Tahun lalu ada MC terkenal di Korea namanya Noh Hong-chul dia pakai baju dari brand kami untuk tampil di acara festival besar yaitu Bluespring Festival di Seoul. Lalu kak Sunny Dahye juga udah pernah mengunjungi toko batik kami dan beli baju batik kami.”
Dari bisnis batik di Korea, Cathlea bisa mengantongi keuntungan hingga 70% dari hasil penjualannya selama satu tahun. “Alhamdulillah bisa beli mobil dan rumah sendiri,” tawa Cathlea.

Ilustrasi festival jualan di bagasi di Liaoning, China.
Foto: VCG via Getty Images/VCG
***
Banyak cara untuk membuat penduduk China jatuh hati pada Indonesia. Shanty, perempuan asal Padang yang kini menetap di Dandong, Liaoning, China, memilih untuk ‘menaklukan’ mereka dengan makanan. Berbekal sebuah food truck, Shanty berjualan aneka kuliner nusantara di depan sebuah area pertokoan. Mulai dari makanan berat seperti nasi goreng, mie ayam hingga soto ayam. Shanty juga membuat aneka jajanan seperti risol, pempek dan mie instant. Setiap kali berjualan, Shanty selalu mengganti menu jualannya. Mungkin itulah mengapa pelanggannya penasaran dan kembali lagi.
Saat Shanty berjualan soto ayam, dagangannya habis dalam hitungan menit. Begitu pula risol berisi sayur dan daging yang ia jual dengan harga 2 Yuan atau Rp 4 ribu per potong. Dengan senyumnya yang penuh keramahan, Shanty mempersilahkan mereka mencicipi dagangannya sebelum membeli. Seperti saat Shanty menjual risol.
Harga makanan yang ditawarkan Shanty memang terjangkau. Shanty menjual seporsi mie ayam seharga Rp 10 ribu. Jika ingin ditambahkan telur, pembeli hanya perlu menambahkan uang Rp 2 ribu. Anak muda hingga orang tua pun tak mau ketinggalan untuk mencicipinya. Keputusan Shanty berjualan makanan di China bukan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, melainkan ia ingin mempromosikan kuliner Indonesia.
Shanty justru mendapatkan penghasilan lebih banyak dari konten berdagang makanan di China yang ia unggah di Youtube dan TikTok. Lewat channel YouTube-nya, ia telah memiliki kurang lebih 585 ribu pengikut atau subscriber. Seluruh videonya telah ditonton sebanyak 155.824.500 kali. Sementara video yang paling banyak ditonton, dengan total sebesar 2 juta viewers yaitu konten berjualan nasi goreng.
Reporter: Dimas Miftakhul Fakri
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho