INTERMESO

Selamat Datang Kembali Macet Jakarta

Setelah libur lebaran usai, warga Jakarta harus berteman lagi dengan kemacetan di ibu kota.

Foto: Kemacetan di Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, pasca libur Lebaran 2023 (Ari Saputra/detikcom)

Minggu, 07 Mei 2023

Selama hampir dua pekan, Nadine Kezia terlepas dari belenggu horor kemacetan di Jakarta. Ruas Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, yang kerap ia lalui untuk berangkat dan pulang kerja kosong melompong. Padahal, di hari biasa, kemacetan parah terjadi di sini. Terutama ruas jalan yang mengarah ke Jalan RS Fatmawati, melewati fly over Tanjung Barat.

Pas liburan kemarin saya, kan, nggak ke mana-mana. Enak banget sekali-kali ngerasain Jakarta nggak pakai macet,” ucap karyawan swasta di bidang media digital ini. Selama lebaran, ibu kota Jakarta ditinggal sebagian penghuninya untuk menjalankan ritual mudik.

Namun, kenikmatan yang dirasakan Nadine tidak berlangsung lama. Setelah libur lebaran usai, kemacetan kembali terjadi di jam berangkat dan pulang kerja. Kepadatan terjadi bersamaan dengan hari pertama masuk sekolah pasca libur Lebaran 2023. Setelah libur Lebaran, Nadine kembali kesal karena harus berkompromi dengan kemacetan.

“Ya, mau gimana lagi, nyari duitnya di sini. Dijalanin aja, deh. Berangkatnya pagian aja dari rumah,” katanya.

Hari pertama usai libur, tepatnya di tanggal 26 April 2023, Nadine sengaja berangkat satu jam lebih awal agar absensi kantornya tidak merah. Bukan cuma jalanan yang padat, Stasiun KRL dan halte Trans Jakarta mulai disesaki pekerja kantoran.

Dari rumahnya di Kota Tangerang, Nadine berangkat pukul 06.00 WIB. Ia menaiki KRL menuju Stasiun Grogol. Lalu ia lanjut menumpang bus TransJakarta dari arah Grogol ke arah Cawang. Perjalanan dari rumah ke kantor ia tempuh selama dua jam.

“Di KRL sama TransJakarta, sih, sebenarnya belum ramai-ramai amat. Cuma kalau di jalan macetnya udah sama kayak hari biasa, ya,” tutur perempuan berusia 26 tahun ini.

Macet di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, pekan ini
Foto: Ari Saputra/detikcom 

Pengalaman serupa dialami Didi pascalibur lebaran. Laki-laki berusia 39 tahun yang bekerja di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, menggunakan transportasi umum seperti KRL dan bus TransJakarta menuju kantor.

“Kosong (jalanan) karena mungkin masih pada libur. Kan, saya masuk tanggal 26 April, jadi masih banyak perusahaan yang libur,” ungkapnya. Kebetulan Didi tidak ikutan mudik saat lebaran kemarin.

Seiring meningkatnya volume kendaraan yang masuk sejak libur lebaran, aturan ganjil genap juga sudah kembali diberlakukan di ruas jalan Jakarta. Demi kelancaran mobilitas warga Jakarta, rekayasa lalu lintas lawan arah di tol Jakarta-Tangerang dan Tol Halim-Jakarta juga sudah diterapkan.

Di saat aktivitas warga Jakarta kembali normal, kualitas udara juga kembali memburuk. Penurunan kualitas udara terjadi ketika volume pergerakan kendaraan mulai meningkat. Kualitas udara di Jakarta pada Selasa, 2 Mei 2023 misalnya dilaporkan tidak sehat.

Berdasarkan situs iqair.com, pukul 11.28 WIB di hari Selasa itu, tingkat polusi udara di Jakarta berada di poin 166. "Tingkat polusi udara: Tidak sehat," demikian tertulis di IQAIR.

Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kualitas udara di Jakarta berada di peringkat ketiga. Peringkat pertama kualitas udara terburuk berada di wilayah Kota Tangerang dengan poin 180 dan Tangerang Selatan dengan poin 176 poin.

Pengendara sepeda motor dan mobil berjibaku melawan macet di Jakarta
Foto: Rumondang Naibaho/detikcom 

Belakangan, Pejabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mewacanakan pembagian jam masuk kantor bagi kelas pekerja. Ada sebagian yang masuk pukul 08.00 WIB, dan sebagiannya lagi masuk pukul 10.00 WIB. Menurut Heru, perbedaan jam kerja seperti itu akan mengurangi kemacetan di ibu kota hingga 30 persen.

“Kalau kayak Thamrin dan Gatsu jam 8 masuk 50 persen, berarti kan kurang lebih bisa mengurangi 30 persen (kemacetan),” kata Heru di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Mei.

Beragam tangapan pun muncul terhadap usulan itu, termasuk wakil rakyat di Kebon Sirih. Meski umumnya menganggap pembagian jam kerja itu bisa diterapkan, namun mereka menginggatkan agar dikaji secara mendalam. Tahun lalu, Kepolisian juga mengusulkan jam kerja lebih siang bagi pekerja kantoran di Jakarta.


Reporter: Dimas Miftakhul Fakri
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE