Kabupaten Sumenep, wilayah ujung timur Pulau Madura, ternyata menyimpan keping-keping ‘surga’ yang tersembunyi. Destinasi wisata pantai dan kepulauan di daerah yang dijuluki Kota Keris atau The Soul of Madura itu siap membuai wisatawan domestik dan mancanegara.

Luar biasa! Itulah kesan pertama tim detikXpedition ketika menyambangi beberapa destinasi di Sumenep pada 9-15 Maret 2023 lalu. detikers tertarik ke sana?

Jakarta
Surabaya
Madura
Flowers

Jakarta ke Surabaya

Tim detikXpedition memulai perjalanan melalui jalur udara dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, menuju Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, selama 1,5 jam. Setiba di Kota Pahlawan, perjalanan dilanjutkan melalui darat menuju Sumenep sepanjang 178 kilometer dengan jarak tempuh 4-5 jam.

Tetap scroll ke bawah
Sumenep
Madura

Bangkalan ke Sumenep

Dari Surabaya menyeberang ke Madura melalui Jembatan Nasional Suramadu sepanjang 5,4 kilometer dalam waktu 20 menit. Setiba di Bangkalan, bagian barat Pulau Madura, ada dua pilihan menuju Sumenep. Pertama, lewat jalur selatan sepanjang 161 kilometer dengan waktu tempuh 3-4 jam. Kedua, lewat jalur utara sepanjang 170 kilometer dengan waktu tempuh lebih cepat, karena lalu lintas relatif sepi.

Kalau perut keroncongan, tinggal menepi ke rumah makan khas Madura, seperti sate Madura, Bebek Sinjay, Lorjuk, Topak Ladhe, Tajin Sobih, Kaldu Kokot, Rujak Soto, Nasi Campur, atau menu lainnya.

Tetap scroll ke bawah

Tentang Sumenep

Sumenep, yang juga dijuluki Kota Keris, memiliki luas 2.093 kilometer persegi. Kabupaten ini memiliki 126 pulau berpenghuni dan kosong. Nama Sumenep berasal dari nama Songeneb, seperti tercantum dalam kitab Pararaton abad ke-13.

Secara etimologi, ‘songeneb’ berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu ‘sung’ dan ‘eneb’. Sung berarti relung, cekungan, atau lembah. Eneb berarti endapan yang tenang. Songeneb memiliki makna lembah atau cekungan yang tenang. Songeneb perlahan-lahan berubah menjadi Sumenep.

Sistem pemerintahan di Sumenep ada sejak 1269 Masehi. Tak mengherankan bila di wilayah ini banyak peninggalan cagar budaya yang masih eksis. Selain banyak wisata alam, ada destinasi wisata budaya dan religi.

Rekomendasi

Wisata Golden Triangle

Pulau Gili Iyang

Wisata Kesehatan

Pulau seluas 9 km persegi ini terdiri atas dua desa, yaitu Bancamara dan Banra’as, Kecamatan Dungkek. Di pulau ini ada wisata Batu Canggah dan Goa Sarefa. Yang menarik, pulau ini memiliki kadar oksigen yang tertinggi kedua di dunia setelah Laut Mati, Yordania.

Pada 2006, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) meneliti bahwa kadar oksigen di sana mencapai 20,9 persen di atas ambang normal. Makanya kebanyakan warga penghuni selalu sehat. Bahkan banyak warga yang berusia panjang, kisaran 80-125 tahun.

Pulau ini dikenal sebagai Pulau Oksigen atau Pulau Awet Muda. Untuk mencapai pulau ini, pengunjung bisa menggunakan perahu dari Pelabuhan Dungkek dengan jarak tempuh 40-50 menit dan tarif Rp 15 ribu per orang.


Gili Genting

Pulau seluas 30 km persegi ini semakin terkenal sejak Pantai Sembilan viral pada 2018. Hamparan pasir putih, air laut yang jernih, dan terumbu karang yang indah menjadi daya tarik bagi pengunjung. Pihak pengelola menyiapkan spot berswafoto atau video dan penginapan.

Selain Pantai Sembilan, di bagian tenggara pulau ini juga terdapat wisata Pantai Kahuripan di Desa Gedungan. Konturnya dipenuhi tebing tinggi dan pepohonan yang sejuk. Untuk mencapai pulau ini, pengunjung harus naik perahu dari Pelabuhan Tanjung, Kecamatan Saronggi, selama 30 menit. Tarifnya Rp 15 ribu per orang.


Gili Labak

Pulau kecil seluas 5 hektare itu hanya dihuni 25 keluarga. Secara administratif, pulau itu berada di Desa Kombang, Kecamatan Talango. Air laut yang jernih serta terumbu karang yang indah menjadi daya tarik pengunjung untuk snorkeling dan diving.

Karena keindahan pantainya, banyak yang menjuluki pulau ini dengan sebutan Hidden Paradise (surga tersembunyi). Letaknya agak jauh dari daratan, membutuhkan waktu 1-2 jam menggunakan perahu dari Pelabuhan Tanjung, Kecamatan Saronggi.

Wisata Budaya


Keraton

Sumenep adalah satu-satunya wilayah di Jawa Timur yang memiliki peninggalan keraton kerajaan yang masih eksis. Keraton itu berdiri di lahan seluas 12 hektare dan dibangun oleh Panembahan Somala, Raja Sumenep ke-31 pada 1781.

Keraton ini dibangun oleh arsitek asal China bernama Lauw Piango. Kompleks keraton terdiri atas bangunan Labhang Mesem (pintu gerbang utama), bangunan utama kediaman raja, Pendopo Agung, Madiyoso Lorong, Kantor Konging (kantor raja), Rumah Penyepen (tempat ibadah), Taman Sare (pemandian para putri keraton), dan garasi penyimpanan kereta kencana yang disebut Gedong Koneng.

Sebagian bangunan dialihfungsikan menjadi museum penyimpanan benda bersejarah, seperti kereta kencana perabotan, guci, keramik kuno, dan Al-Qur'an tulisan tangan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, putra Panembahan Somala.


Desa Keris

Sumenep dikenal sentra kerajinan keris terbesar di Indonesia. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB menetapkan Sumenep sebagai daerah dengan jumlah empu (pembuat keris) terbanyak di dunia pada 2014.

Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, dideklarasikan sebagai Desa Wisata Keris pada 2018. Hampir sebagian besar warga desa adalah perajin atau empu keris, yang diperkirakan mencapai 648 empu. Mereka menghasilkan keris suvenir dan anggeman.

Pemesannya bukan hanya dari kalangan dalam negeri, tapi juga luar negeri, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Belanda, Belgia, dan Rumania. Setiap bulan Muharam digelar acara jamas keris pusaka leluhur dan pusaka Keraton Sumenep di desa ini.


Video Perjalanan

Wisata Religi

Masjid Jami'

Masjid Jamik Sumenep telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia. Masjid itu berlokasi di Jalan Trunojoyo, Bangselok, Kota Sumenep, persis menghadap alun-Alun. Masjid ini dibangun oleh Panembahan Somala mulai 1779 dan selesai pada 1787.

Asta Tinggi

Asta Tinggi merupakan kompleks pemakaman para Raja Sumenep. Pemakaman yang terletak di dataran tinggi Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, itu dibangun pada 1750. Asta Tinggi sangat unik karena bentuk makamnya dipengaruhi corak peradaban China dan Eropa.

Pengaruh arsitektur China dapat dilihat pada makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan Pangeran Panji Pulang Jiwo. Sedangkan pengaruh arsitektur Eropa bisa dilihat pada kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Setiap hari ramai dikunjungi peziarah maupun wisatawan lainnya.

Flowers
Potensi Pertanian

Bawang Merah

Kualitas terbaik bawang merah di Indonesia ternyata ada di Sumenep. Bawang merah Sumenep berasal dari varietas Rubaru atau aromatik, yang kandungan airnya lebih sedikit dibanding bawang lainnya. Selain itu, aroma bawang merah Sumenep lebih kuat.

Desa Basoka dan Mandala di Kecamatan Rubaru merupakan sentra pertanian bawang merah di Sumenep. Menurut data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Sumenep, panen bawang merah di kedua desa mencapai 425 ton pada 2021. Bawang merah Sumenep diolah menjadi bawang goreng yang paling enak, renyah, dan harum.

Terima Kasih Kepada:

Tim Produksi

Tim Produksi

Penulis Naskah
Mohammad Rizal
Host
Melisa Mailoa
Creative
Jilan Dwi Nansalih
Campaign Coordinator
Virgin Cansa Abinta
Videographer
Sunandi Mimo Raharja S
Andhika Lingga Putera
Editor
Irwan Nugroho
HTML 5
Dedi Arief Wibisono
Desain Grafis
Mindra Purnomo
Ahmad Fauzan Kamil
***Komentar***
SHARE