Foto Ilustrasi: seorang perempuan berlindung dari panas matahari yang menyengat (Ari Saputra/detikcom)
Minggu, 30 April 2023Ade Eka Prasetia seperti berada di dalam oven berukuran raksasa. Sengatan sinar matahari menembus atap rumahnya yang masih terbuat dari seng, membuat suhu di dalam rumahnya berkali-kali lipat lebih panas. Eka menghidupkan kipas angin, sesekali ia juga mengibaskan kertas ke arah leher. Tapi rasanya tidak banyak membantu. Tetap saja Eka merasa kepanasan.
“Angin yang keluar malah angin panas juga. Jangankan angin, bahkan air yang keluar dari toren rasanya hangat. Dari pagi sampai malam pun saya masih kegerahan,” keluh Eka kepada detikX.
Belum juga pertengahan siang, badan Eka sudah bercucuran keringat. Bajunya terlanjur basah. Karena merasa gerah, mahasiswa semester satu di sebuah kampus swasta ini sampai melepas baju yang melekat di tubuhnya. “Pukul 13.00 siang badan udah keringatan semua. Di rumah, saya sampai cuma pakai boxer doang saking panasnya,” tawa Eka.
Selama libur lebaran pekan lalu, Eka sengaja menghindari aktivitas di luar rumah. Hawa panas tetap terasa meski kerjaan Eka hanya rebahan sambil main game online saja. Dengan sangat terpaksa Eka ke luar rumah saat ibunya meminta Eka membeli keperluan rumah di sebuah pusat perbelanjaan yang jaraknya tiga kilometer dari rumah.
Laki-laki yang berdomisili di Tangerang Selatan ini melihat suhu di notifikasi smartphone-nya sudah mencapai 32°C. Ia mengenakan topi dan jaket untuk melindungi kulitnya dari sengatan sinar matahari. Eka menghidupkan mesin motor dan segera melaju secepat mungkin.

Cuaca panas di Surabaya
Foto: Esti Widiyana/detikcom
Ketika sedang menunggu lampu merah, Eka melihat dua ojek online tengah bertikai di jalanan. Eka tidak tahu apa yang menjadi sumber keributan mereka berdua. Mungkin karena panas matahari, orang jadi lebih mudah emosi. Terjebak di antara hawa panas, debu jalanan dan asap knalpot selama 120 detik bagi pengendara sepeda motor rasanya bak di neraka saja.
“Kalau kerjanya di ruang kerja atau rumah yang ada AC-nya enak. Tapi kalau yang harus kerja di luar ruangan di cuaca yang seperti ini, sih, saya juga nggak bakalan kuat,” katanya.
Bukan satu dua orang saja yang mengeluh kepanasan. Panas yang dirasakan Eka dan warga Indonesia belakangan ini bukan seperti cuaca panas biasanya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Republik Indonesia atau BMKG RI, mengungkap cuaca panas di Indonesia 2023 disebabkan oleh gerak semu matahari yang merupakan siklus tahunan.
Dilaporkan pada 25 April 2023, suhu maksimum harian mencapai 37.2°C di stasiun pengamatan BMKG Ciputat pada pekan lalu. Sedangkan secara umum, suhu tertinggi yang tercatat di beberapa lokasi berada pada kisaran 34°C sampai 36°C hingga saat ini.
Suhu panas di Indonesia tidak dipengaruhi gelombang panas atau heatwave yang dilaporkan terjadi di beberapa negara Asia seperti Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand, dan Laos. Negara-negara ini melaporkan kejadian suhu panas lebih dari 40°C yang telah berlangsung beberapa hari belakangan.
The Guardian bahkan melaporkan, 6 kota di utara dan timur India mencatat suhu di atas 44°C. sementara Ibu Kota, Delhi, mencatat 40.4°C pada Selasa, 16 April 2023. cuaca panas ekstrem di India bahkan telah menyebabkan kematian dan penutupan sekolah.
***
Orang tua Nadya Subagyo mendapatkan broadcast message atau pesan berantai dari sebuah grup Whatsapp. Isi pesannya mengharuskan siapa saja yang membacanya untuk waspada terhadap gelombang panas yang sedang menerpa Indonesia.
Dikabarkan bahwa suhu di Indonesia akan mengalami kenaikan hingga di atas 40 derajat. Peristiwa aspal meleleh dan mobil terbakar karena cuaca panas di India mungkin saja akan segera menimpa Indonesia.

Gelombang panas menerjang India
Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
“Emang benar panas banget terutama bulan ini. Tapi informasi yang disampaikan itu lebay banget. Jelas-jelas itu hoax tapi mereka nggak percaya,” ucap Nadya kesal.
Akibatnya, orang tua Nadya memintanya untuk ekstra hati-hati. Orang tua Nadya meminta kedua anaknya termasuk Nadya untuk tak pergi kemana-mana, khususnya selama masa liburan Lebaran kali ini. Perempuan berusia 20 tahun ini terpaksa membatalkan janji temu dengan teman-temannya.
Adik Nadya yang alergi terhadap cuaca panas langsung mengalami efek sampingnya. Jika berkeringat, kulitnya menjadi kemerahan dan bersisik meski sudah dioleskan krim pelembab kulit. “Dia sampai beli kipas UBS yang bisa dicolok di smartphone supaya ke mana-mana bisa kipasan dan nggak bikin gerah,” ucap Nadya.
Untuk meredakan panas, Nadya sempat mengusulkan keluarganya untuk berlibur di kawasan Puncak, Bogor, yang langsung ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Belakangan setelah membaca berita tentang teror kemacetan di Jalan Raya Puncak hingga berjam-jam, Nadya bersyukur tak jadi liburan ke sana. “Memang udah paling benar di rumah dulu aja, deh,” katanya.
Reporter: Dimas Miftakhul Fakri
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho