Ilustrasi: Ilustrasi emas imitasi (Cut Maulida Rizky/detikcom)
Sabtu, 22 April 2023Cring…cring.. suara gemerincing terdengar setiap kali Yusniar melangkahkan kaki. Kemana pun ia pergi, suara itu selalu mengikutinya. Di balik gamis berwarna merah muda yang ia kenakan, Yusniar menyembunyikan segambreng perhiasan berlapis emas di kedua pergelangan tangan dan kakinya.
Aksesori emas yang ia kenakan tak tanggung-tanggung jumlahnya. “Di kaki masing-masing ada dua. Kalau di tangan lebih banyak, masing-masing lima. Bentuk perhiasannya tapi beda-beda,” senyum Yusniar.
Tak ada satu pun jenis perhiasan yang terlewatkan. Mulai dari cincin, kalung, anting, liontin, gelang kaki, dan gelang tangan, bros, bahkan perhiasan kepala telah terpasang di pashmina miliknya. Jika dilihat, Yusniar bak toko emas berjalan.
Bagi ‘orang kota’, penampilan bermandikan emas ala Yusniar mungkin terkesan katrok dan norak. Tapi, di kampung halaman Yusniar di Makassar, ibu rumah tangga ini terlihat elegan bukan main. “Tiap pulang kampung pas Idul Fitri, tampilannya mesti begini biar kelihatan keren,” tandas wanita berusia 46 tahun ini.
Perhiasan emas tak hanya membuat Yusniar kelihatan wah, melainkan juga membuat siapa saja yang melihatnya silau mata. Di momen Lebaran, perhiasan emas memiliki peran penting. Barang tak bergerak itu seolah menjadi bukti kesuksesan Yusniar sebagai perantau. Siapa saja yang mengenakannya niscaya akan terangkat gengsi dan harga dirinya.

Emas imitasi produksi Indramayu
Foto: Sudedi Rasmadi/detikJabar
Praktek semacam ini bukan hanya dilakukan Yusniar. Ibu-ibu lain pun begitu. Akan kurang afdol rasanya jika pulang kampung atau bersilaturahmi ke rumah tetangga tanpa memakai perhiasan. Minimal satu atau dua jenis perhiasan terpasang jari dan tangan mereka. “Bahkan terkadang malu rasanya kalau kita pakai perhiasan lebih sedikit dari pada yang lain,” tutur Yusniar.
Namun, masalahnya, setiap tahun harga emas 24 karat kian melejit. Apalagi di momen jelang Idul Fitri seperti sekarang ini. Jatah THR yang diberikan suaminya bakal ludes seketika jika Yusniar memaksakan diri untuk membeli serenceng perhiasaan emas. Beberapa tahun belakangan, perhiasan imitasi atau sepuhan menjadi pilihan alternatif bagi Yusniar yang ingin tetap bergaya di saat lebaran bersama sanak saudara.
“Awal-awal pas pakai emas imitasi ada rasa malu juga takut ketahuan pakai yang palsu gitu,” ucap ibu dua anak ini. Ternyata kekhawatiran Yusniar tidak terjadi, setidaknya sampai hari ini. Penampilan perhiasan emas imitasi yang menyerupai aslinya dapat mengelabui orang. Hal itu pula yang menjadi daya tarik masyarakat untuk memakai emas imitasi sebagai pengganti emas asli.
Harga emas imitasi yang jauh lebih ekonomis ketimbang emas asli menjadi pertimbangan April. Perempuan berusia 24 tahun ini lebih memilih emas imitasi. April hanya perlu merogoh kocek Rp 25 ribu untuk satu cincin imitasi yang ia beli di sebuah toko di pasar modern. Sementara harga emas 24 karat per gram kini saja sudah menyentuh angka Rp 900 ribu.

Ilustrasi emas imitasi
Foto: Sudedi Rasmadi/detikJabar
Perhiasaan imitasi tak hanya April gunakan di momen seperti Lebaran, tapi juga sebagai aksesori sehari-hari. “Kalau Lebaran pakai yang gede-gede modelnya. Buat tetangga ngelihat,” cetus April.
April memilih perhiasan imitasi jenis Xuping. Aksesori yang satu ini berasal dari Tiongkok dengan bahan dasar berupa tembaga. Lapisan rhodium atau logam berwarna keperakan membuat perhiasan jenis ini semakin berkilau dan lebih tahan karat. Xuping juga merupakan perhiasan imitasi yang cukup awet karena bisa bertahan hingga satu tahun jika dirawat dengan baik.
Perhiasaan imitasi membuat April jauh lebih tenang dan tak takut kemalingan. “Kalau imitasi hilang juga nggak rugi, ya. Kalau kita beli emas asli, kalau hilang rugi. Mendingan imitasi sekarang, mah,” ungkapnya.
Reporter: Cut Maulida Rizky
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho