Foto Ilustrasi: Dok Klasikart
Minggu, 09 April 2023Mata Hariss Ilham berbinar saat melihat uang Tunjangan Hari Raya alias THR masuk ke rekeningnya. Meski tak seberapa besar nilainya, nominal rupiah di tabungannya otomatis bertambah. Sejak lulus kuliah enam bulan lalu, ini kali pertama Ilham merasakan manisnya duit THR.
“Karena kerjanya belum genap satu tahun, nggak dapat THR full. Tapi lumayan banget buat keperluan lebaran nanti, ya,” ucap Ilham yang bekerja dalam tim social media specialist ini.
Entah karena uang THR yang tak seberapa jumlahnya atau karena pengeluaran Ilham yang terlalu besar, ia yakin duit THR kali ini bakalan numpang lewat saja. Selain untuk membeli pakaian baru dan tiket pulang kampung ke Cirebon, Jawa Barat, kali ini Ilham harus mengalokasikan dana untuk keperluan amplop lebaran.
“Kalau dulu masih kecil saya yang dapet angpau lebaran. Sekarang, setelah saya kerja, dan udah punya penghasilan sendiri, saya harus ngasih ke keponakan-keponakan,” ucapnya. Total keponakan dari pihak ayah dan ibunya berjumlah 15 orang.
Ilham jadi ingat betapa semangatnya ia menantikan angpau lebaran itu. Setelah menunaikan salat Idul Fitri dan makan-makan di rumah neneknya, Ilham dan keponakan lainnya diminta berbaris. Lalu amplop berwarna-warni berisi uang lembaran itu dibagikan ke masing-masing anak, termasuk dirinya dan dua orang adiknya.
“Tapi kasihan juga soalnya ada anak-anak yang jatah angpau lebarannya diambil sama emaknya. Kalau saya waktu itu pas udah masuk SMP Alhamdulillah uang angpaunya boleh disimpen sendiri. Kadang saya nitip ke ibu juga,” cerita Ilham.
Untuk mensiasati anak-anak yang jatah angpau lebarannya diambil orang tua, Ilham berinisiatif memberikan amplop sekaligus bingkisan berisi aneka snack dan coklat. “Kebetulan saya sudah nyiapin angpau lebaran bentuknya tas serut. Bisa dimasukin amplop sama makanan kecil kayak biskuit coklat atau permen,” ucapnya.

Disain amplop yang lucu-lucu untuk angpau Lebaran
Foto: Dok Klasikart
Untuk jaga-jaga, Ilham sudah menyiapkan dua puluh lima angpau lebaran berbentuk tas serut. “Sengaja saya lebihin, soalnya seingat saya anak-anak tetangga di kampung suka minta jatah juga,” katanya. Meski nominalnya tak seberapa, Ilham senang bisa berbagi kebahagiaan kecil. Apalagi ketika menyaksikan senyum lebar dan riuh tawa canda keponakan dan anak tetangganya di hari lebaran.
Istilah angpau sebetulnya merujuk pada tradisi perayaan Hari Raya Imlek keturunan Tionghoa. Ketentuannya pemberian angpau di Hari Raya Imlek agak berbeda pada saat Idul Fitri. Saat Imlek, angpau disiapkan oleh mereka yang sudah menikah untuk diberikan kepada orang tua atau keponakan yang masih lajang.
Sementara di Idul Fitri, angpau lebaran diberikan oleh orang tua atau orang dewasa yang sudah bekerja, kepada keponakan atau anak kecil yang belum berpenghasilan.
Selain itu, perbedaan angpau tradisi dari China adalah warna amplopnya. Kata angpau sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu ang yang memiliki arti merah dan pao bermakna amplop. Kedua suku kata ini diartikan sebagai amplop merah. Maka angpau yang diberikan pada perayaan imlek harus terdapat nuansa merah. Warna merah melambangkan keberuntungan dan keberkahan bagi siapa saja penerimanya.
Sementara pada angpau lebaran awalnya didominasi oleh warna hijau yang melambangkan nuansa Islami. Namun, seiring perkembangannya, angpau lebaran juga hadir dalam berbagai rupa.
Diah Komiatun adalah salah satu orang yang memanfaatkan datangnya bulan Ramadan dengan berjualan angpau lebaran. Keahliannya membuat desain karikatur lucu ia manfaatkan untuk membuat angpau lebaran.
“Dulu kan saya itu pernah diamanahin buat nyari karakter buat buku anak. Nah, saya terus bikin coret-coretan itu akhirnya saya pakai buat desain amplop lebaran yang sekarang. Iseng-iseng tak upload di marketplace, eh, ternyata diterima, ya karena, menurut aku, desainnya lucu dan murah,” imbuh Diah, perempuan berusia 23 tahun asal Pemalang, Jawa Tengah, ini.
Disain amplop Lebaran dengan karakter tertentu (Foto: Dok Mainmata Studio)
Gambar kartun dan karikatur pada amplop Lebaran (Foto: Dok Mainmata Studio)
Dengan mendirikan brand Klasikart, Diah menjual beraneka ragam amplop lebaran. Seperti amplop lebaran 3D berbentuk karikatur anak yang paling diminati ia jual dengan harga Rp 2.350 per pcs. Di salah satu e-commerce, amplop lebaran ini sudah terjual sebanyak 3,8 ribu pcs. Keuntungan yang Diah dapatkan sejak berjualan amplop lebaran mulai bulan Maret hingga kini nilainya cukup besar.
“Dari bulan Maret sampai April ini, ya, sekitar Rp 30 jutaan keuntungan bersihnya,” ucap Diah membocorkan rahasianya.
Di bulan Ramadhan ini, Hahan, pemilik Mainmata Studio juga sedang gencar meningkatkan target produksi untuk produk amplop lebaran. Selama hampir sebulan ini, ia dan karyawannya bisa memproduksi sekitar 11 ribu paket angpau lebaran. Hahan menjual amplop lebarannya dengan sistem per-paket. Satu paket seharga Rp 30 ribu berisi delapan amplop lebaran. Selain amplop lebaran, usahanya juga membuat undangan pernikahan dan buku tamu pernikahan.
“Basic-nya semua bisnis kita berhubungan sama hari bahagia, ya. Pernikahan sampai lebaran itu hal yang bahagia, yang membuat kita senang itu. Kita jadi bagian dari hari bahagianya mereka,” kata Hahan yang sudah berjualan amplop lebaran selama enam tahun.
Awalnya Hahan bekerja sama dengan seniman hand lettering untuk membuat amplop lebaran dengan coretan kaligrafi. Waktu itu hand lettering sedang amat diminati. “Project gaya-gayaan, ternyata diterima. Ramai waktu itu. Di luar ekspetasi, sampai sold out gitu, terus keterusan, deh,” ungkapnya.
Namun, karena penerima amplop lebaran adalah anak kecil, amplop lebaran bertemakan karikatur adalah yang paling diminati. “Mungkin yang lucu itu karena amplop ini sebagian besar dipakai untuk anak-anak. Jadi desain yang paling laku, yang habis duluan, itu yang kayak gambar-gambar robot, dino, terus kayak lucu-lucu lah,” tutur Hahan.
Reporter: Cut Maulida Rizky
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho