Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/hayatikayhan
Minggu, 2 April 2023Sama seperti tahun-tahun sebelum pandemi COVID-19, memasuki bulan Ramadan, Nabilla Ayu Putri dihujani begitu banyak undangan bukber alias buka puasa bersama. Bukber adalah tradisi kalangan muslim yang katanya digunakan sebagai sarana silaturahmi dan mempererat kebersamaan bagi teman atau kerabat lama.
Tapi, dari sekian banyak bukber yang sudah pernah Nabilla ikuti, ia tak merasa bukber membawa dampak positif dalam tali pertemanannya. Bukber malah membuat Nabilla semakin yakin untuk tidak ikut serta pada acara serupa berikutnya. Apalagi Nabilla kerap merasa canggung jika harus buka bersama dengan orang banyak dan tidak begitu akrab.
Di puasa Ramadan yang ketujuh kemarin, undangan bukber dari salah satu kelompok pertemanannya datang lagi. Dengan sekuat hati ia menolak, tapi pada akhirnya Nabilla tak kuasa menerima ajakan itu.
“Sebetulnya aku nggak begitu suka buka puasa bersama selain sama keluarga. Kebanyakan akhirnya aku terima karena nggak enak atau terpaksa aja. Kalau nolak nanti dibilang sombong,” ungkap perempuan yang bekerja sebagai account executive di salah satu perusahaan digital ini.
Acara bukber itu dilakukan di sebuah restoran di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Saat Nabilla datang, aneka makanan dan minuman sudah tersaji di atas meja. Satu per satu teman Nabilla mulai mengisi bangku yang kosong. Teman-teman ini dulunya begitu dekat bagi Nabilla, tapi kini ia merasa asing dengan mereka. Bukan cuma penampilan mereka yang terlihat berbeda, melainkan juga topik obrolan mereka.
“Aku nggak nyambung kalau ngobrol sama mereka. Awalnya pasti basa-basi tanya soal kabar masing-masing. Nah, nanti buat yang merasa pencapaiannya udah lebih tinggi dari yang lain bakalan mulai ceramah sendiri tanpa diminta. Mulai kasih saran tanpa diminta. Misalnya kayak ‘Eh, mendingan lu bisnis ini, deh,'" keluh Nabilla.

IIlustrasi buka bersama di jaringan pertemanan
Foto: iStock
Sementara bagi mereka yang terlihat tak nyambung dengan topik obrolan hanya bisa sibuk memainkan smartphone masing-masing. Nabilla dan teman-temannya baru terlihat kompak saat diajak foto bersama untuk pamer di media sosial.
“Kebersamaan bukber yang kita gambarkan di selfie medsos itu kalau menurut aku palsu banget. Padahal, mah, aslinya kerasa banget atmosfir nggak nyamannya,” tutur Nabilla. Belum lagi jika perempuan berusia 26 tahun ini harus menghadapi kelompok teman yang hobinya suka kepo dan membicarakan keburukan orang lain. “Kalau udah begini aku mendingan kabur, pura-pura ke toilet biar nggak usah dengerin gosip mereka.”
Rasanya Nabilla jadi semakin menyesal telah menolak ajakan buka bersama orang tuanya di rumah demi mengikuti bukber yang nirfaedah itu. Orang tua Nabilla di rumah juga pasti kecewa karena sudah menyiapkan makanan dan minuman kesukaannya, tapi anaknya malah lebih memilh buka puasa di luar rumah.
“Sebenarnya aku hampir tiap hari buka puasa bareng keluarga. Tapi kalau ada ajakan seperti ini baru terpaksa aku nggak bukber di rumah. Kadang merasa nggak tega juga ninggalin orang tua saya buka sendiri di rumah. Kakak saya udah menikah jadi bukber sama keluarganya sendiri,” tutur anak kedua dari dua bersaudara ini.
Indrina berhasil tegas menolak undangan bukber yang datang kepadanya. Sudah dua tahun ia memilih absen dari acara semacam ini. Ia juga tak tahu apakah teman-teman dari alumni SMA-nya masih rutin mengadakan bukber atau tidak.
“Lebih memilih sama keluarga aja soalnya sudah nggak enak feel-nya bukber sama teman SMA dan lainnya,” ucap perempuan asal Palembang ini.

Ilustrasi buka bersama
Foto: iStock
Terakhir, Indrina datang ke sebuah acara bukber, ia malah diasingkan oleh teman-temannya. Alasannya cuma karena saat itu perempuan berusia 23 tahun ini tidak membawa gandengan ke acara bukber.
“Aku dipojokkan karena aku nggak bawa pasangan. Kebetulan aku jomblo. Belum lagi mereka yang sudah berencana menikah, jadi aku diledek terus,” kata Indrina. “Perasaanku waktu itu, ya, risih. Jadi ngerasa canggung sama mereka. Bawaannya pengen cepat-cepat pulang saja.”
Ketimbang bukber di luar rumah, Hanik, mahasiswi asal Tuban, Jawa Timur, ini juga lebih senang bukber bersama keluarga. Acara bukber kerap membuatnya melalaikan waktu salat. Apalagi jika bukber diadakan di rumah makan atau restoran yang tidak disediakan mushola. Ajang bukber yang ditujukkan untuk mempererat persaudaraan dan mendulang pahala malah membuatnya absen menjalankan kewajiban.
“Sebenarnya males bukber, soalnya di rumah mama, kan, sudah masak. Terus bukber juga ngeluarin duit. Bukber juga ending-nya nggak salat tarawih. Kadang skip maghrib. Yang wajib malah ditinggal gara-gara terlalu asik ngobrol,” tutur Hanik.
Reporter: Cut Maulida RIzky
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho