Foto: Suasana ibadah salat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta (Grandyos Zafna/detikcom)
Sabtu, 25 Maret 2023Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Kedua mata Savitri Sudjana terasa masih berat. Ingin sekali ia kembali tidur, tapi Savitri sudah kepalang janji dengan teman-teman kampusnya. Savitri sepakat bertemu di salah satu rumah makan padang di Jakarta Selatan yang melayani kebutuhan sahur.
Melihat aneka makanan tersaji di depan mejanya, rasa kantuk Savitri hilang seketika. Ia mengambil nasi, ayam pop, telur dadar, sayur singkong dan sambal hijau untuk makan sahur.“Sahur tapi malah diajak mereka makan di restoran padang. Pertama kalinya aku sahur pakai nasi padang,” ungkapnya menceritakan pengalaman puasa di tahun 2021.
Saat itu Savitri masih beragama Katolik. Ia tak punya kewajiban menjalankan ibadah puasa seperti teman-temannya yang muslim. Tapi Savitri iseng mengkuti mereka. Mahasiswi jurusan perhotelan ini ikut menahan rasa haus dan lapar serta berbuka puasa bersama mereka yang berpuasa. Bukan hanya itu, Savitri beberapa kali juga mengkuti tarawih.
Pergaulannya di kelilingi muslimah dan muslimin. Lingkungan keluarga Savitri juga tak terlepas dari pengaruh pemeluk agama Islam. Saat masih kecil, Savitri suka mengintili sepupunya yang sedang sekolah mengaji. “Kebetulan ayah dan ibuku beda agama. Ayah dan keluarganya muslim, tapi beliau sudah meninggal waktu aku masih kecil. Sedangkan ibu Katolik. Selama ini aku ngikutin ibu,” ucap anak tunggal ini.
Saat memutuskan menjadi mualaf tahun ini, Savitri tidak menerima pertentangan berarti dari keluarganya. Tahun ini pun menjadi puasa pertama Savitri sebagai pemeluk agama Islam yang sah. Puasa pertama tidak terlalu membingungkan buat dirinya, karena ia sudah mengetahui tata cara berpuasa sejak sebelum menjadi mualaf.

Suasana masjid Sheikh Zayed, Solo, di awal bulan Ramadan tahun ini. Ramadan merupakan bulan untuk melakukan ibadah puasa bagi umat muslim.
Foto: Muhammad Ayudha/ANTARA Foto
Meski menjadi satu-satunya muslim di rumah, Savitri tidak merasa sendiri. “Puasa ‘pertama’ aku alhamdulillah lancar. Aku bersyukur banget soalnya ibu aku sangat supportive orangnya. Subuh kemarin aku dibangunin buat salat. Terus dimasakin dan ditemenin juga makan pas sahur,” ucap Savitri yang merapalkan doa niat puasa di bulan Ramadhan untuk melancarkan puasanya.
Suatu kali Savitri pernah alpa dan tidak menjalankan salat saking sibuknya dengan revisi skripsi. Ibu Savitri yang mengetahui hal itu lantas mengomeli anaknya. “Kalau sudah pindah keyakinan harus komitmen sama ibadahnya. Jangan semangat diawal doang, jangan setengah-setengah. Kalau setengah-setengah mending kamu balik lagi ke gereja,” begitu kata sang ibu kepadanya.
Meski sudah mengumpulkan niat, tapi yang namanya rasa haus dan lapar memang sulit ditahan. “Kalau lapar masih bisa aku tahan. Paling susah kalau disuruh tahan haus. Begitu buka puasa makanya pengen minum yang segar-segar. Ibu aku bikini es blewah pakai jeruk nipis sama madu. Rasanya jadi dua kali lebih nikmat dari pada biasanya,” ucap Savitri.
***
Kristin Yuliana Santosa alias Tintin Rayner sudah tak sabar menyambut bulan Ramadhan tahun ini. Tahun ini menjadi tahun spesial bagi perempuan yang dikenal sebagai influencer di dunia masak dan kuliner ini. Setelah melewati berbagai pergulatan batin, Tintin Rayner akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi mualaf.
"Setelah lima tahun struggle nggak sangka banget dapat izin dari separuh keluarga juga. Nggak sabar banget menjalani puasa pertama nanti.. Finally... Thank you Allah," tulis Tintin Rayner di salah satu akun Instagramnya @Tintinrayner_athome.

Kristin Yuliana Santoso (tengah)
Foto: Dok Pribadi
Perempuan berusia 40 tahun ini mulai tertarik memperdalam agama Islam sejak berkunjung ke salah satu masjid di Turki. Saat pandemi COVID-19 kemarin, Tintin Rayner beberapa kali bolak-balik berwisata ke Turki.
“Pada saat di masjid itu saya merasakan seperti suasana yang sangat berbeda, perasaan yang belum pernah rasakan sebelumnya. Saat saya datang lagi ke masjid saya mau benar-benar rapi,” ucap Tintin Rayner menceritakan pengalamannya saat dihubungi detikX. Tintin Rayner menjadi mualaf dengan bimbingan Deny Sanusi Zhang PITI Indonesia dan Ustadz Fenfen Effendi.
Sewaktu di masjid, Tintin meminta seorang penjual sepatu untuk memakaikan dirinya pakaian hijab untuk pertama kalinya. “Jadi saya merasakan aliran hangat dari kepala sampai kaki, ini perasaan yang damai banget, yang nyaman banget. Kayak yang belum pernah saya rasain sebelumnya.”
Hari pertama puasa Tintin Rayner ternyata berjalan lancar tanpa kesulitan berarti. Puasa kali ini malah terasa lebih ringan ketimbang ritual diet yang kerap ia jalani. “Saya cuma menahan lapar dan cuma haus saja. Ketika mau berbuka itu malah haus. Biasanya saya kalau diet ini malah lapar, tapi ini pas puasa ternyata malah nggak sama sekali,” katanya.
“Soalnya persiapan mental sudah saya siapin tahun lalu. Jadi cuma banyakin doa, banyakin baca-baca buku Islami itu saja untuk memperkuat mental.”
Reporter: Cut Maulida Rizky
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho