INTERMESO

Pantang Pulang Sebelum Gelap

“Sampai di kantor bawaannya udah nggak niat kerja. Udah capek banget rasanya.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 09 Oktober 2022

Sewaktu tinggal dan bekerja di Bali di tahun 2012, Ahmad Raenaldi merasa hidupnya begitu indah. Ahmad tak lagi harus menghadapi hiruk-pikuk kemacetan di Jakarta yang membuatnya hampir 'gila'. Jarak dari tempat tinggalnya di Denpasar menuju kantor hanya 10 menit saja.

“Dulu bahkan saya kalau jam istirahat bisa pulang ke rumah buat tidur siang,” kata pria yang kini bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan swasta ini. Di saat senggang, Ahmad yang sudah menikah dan memiliki seorang anak ini bahkan tak segan menjemput putrinya pulang sekolah.

Tapi kondisi ini tak berlangsung selamanya. Setelah tiga tahun Ahmad dimutasi ke Bali, ia diminta kembali bekerja di kantor pusat di daerah Senayan, Jakarta Pusat. Pria berusia 41 tahun ini harus mengulang rute Ciledug-Senayan yang sebelumnya sudah sempat ia lalui.

“Saya bawa kendaraan pribadi lewat Tol Serpong karena waktu itu halte busway koridor 13 jurusan Ciledug-Blok M belum kelar. Total perjalanan ditambah macet 2,5 jam,” ungkapnya. Di tengah upaya menembus kemacetan, Ahmad menghabiskan waktu dengan menyanyikan lagu metal favoritnya.

Di jam pulang, Ahmad sengaja menunggu malam tiba. Supaya tidak terlibat macet, Ahmad pulang kantor di atas pukul 20.00 WIB. Ia sengaja memutar kendaraan ke arah Jalan Antasari menembus ke TB Simatupang lalu Tol Serpong agar terhindar macet. “Di toll bisa gas poll dan butuh waktu 1,5 jam aja buat sampai rumah,” katanya.

Antrean Penumpang bus TransJakakrta
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Kisah lainnya. Awalnya, Saifuddin Handoyo mengira tinggal di Tangerang Selatan dan bekerja di pusat kota seperti Sudirman tak akan banyak menguras energinya. Jika dilihat dari peta, jaraknya juga tak jauh-jauh amat. Tapi ternyata setelah dijalani selama dua tahun, Saifuddin mulai encok juga.

Karena Saifuddin harus tiba di kantor pukul 08.00 WIB, maka biasanya ia berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB. Moda transportasi yang ia gunakan adalah commuter line atau KRL. Namun karena jarak antara kompleks perumahannya dan KRL cukup jauh, Saifuddin harus menaiki ojek.

Sesampainya di Stasiun Pondok Ranji, 'peperangan sesungguhnya' dimulai. Di dalam kereta, suasana pengap, penuh sesak, badan bertemu badan. Sesama pengguna KRL pasti paham rasanya. Percuma rasanya setiap pagi Saifuddin mandi.

“Pernah beberapa kali AC di kereta mati. Jangan dibayangin rasanya, rasanya pengin ikutan mati,” canda Saifuddin yang bekerja sebagai konsultan pajak ini. Belum lagi kalau KRL mogok atau pohon tumbang di musim hujan. Antar sesama penumpang jadi semakin mudah tersulut emosi. “Kaki nggak sengaja keinjek orang lain atau tangan kejepit pintu, udah jadi 'makanan' sehari-hari,” katanya.

Begitu tiba di Stasiun Palmerah, Saifuddin masih harus menaiki bus feeder TransJakarta yang jadwal kedatangannya ikut menambah emosi. Dari pada gaji dipotong karena terlambat, belum lagi ditegur atasan, lebih baik Saifuddin memesan ojek online langsung menuju kantornya.

Tiba di kantor, penampilan Saifuddin sudah tak karuan. Kemeja yang sudah susah payah ia setrika sampai licin sampai tak berbentuk. Belum lagi bau menyengat karena keringat dan berdempet-dempetan dengan orang lain di KRL.

Penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai
Foto: Kenny Gida

“Sampai di kantor bawaannya udah nggak niat kerja, udah capek banget rasanya. Mana saya sering dikira nggak mandi gara-gara masih pagi penampilan malah kayak begini,” katanya.

Belajar dari pengalaman, Saifuddin berangkat kerja menggunakan kaos dan sepatu kets untuk memudahkan mobilitasnya. Sesampainya di kantor, ia langsung mengganti kaos penuh keringat dengan kemeja yang sudah ia simpan di dalam tas.

“Walaupun badan udah nggak fresh tapi setidaknya penampilan di kantor masih enak dilihat orang,” imbuhnya.

Pulang kantor, Saifuddin harus melewati perjalanan yang sama lagi. Makanya begitu sampai di rumah Saifuddin sudah capek sekali. Rasanya tidak ada lagi kehidupan pribadi selain urusan kantor. Sebetulnya bisa saja ia mencari kos di dekat kantor, tapi setelah dihitung-hitung, biaya kos di daerah Sudirman rupanya lebih mahal dari pada ongkos pulang pergi kantor.

“Ada yang murah, tapi kondisi kosnya nggak okey. Lagian di rumah koneksi wifi saya lebih kenceng dari pada di kos. Cuma memang resikonya saya jadi kurang fokus di kantor,” ungkapnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE