INTERMESO

Pengalaman Menegangkan Fotografer Persalinan

Fotografer di bidang jasa dokumentasi persalinan profesional tidak hanya butuh skill foto yang mumpuni. Mereka juga dituntut untuk memiliki mental yang kuat.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 18 September 2022

Rasanya Faradita Meilinda seperti sedang berada dalam sebuah adegan di film gore. Di tempat di mana ia berdiri saat itu, darah berceceran di lantai. Suara teriakan histeris seorang ibu memenuhi seisi ruangan. Wajah sang ibu mengkerut. Nampak sekali, ia sedang berusaha menahan rasa sakit yang sangat.

Sampai sekarang pun, perempuan yang akrab disapa Dita ini masih terbayang-bayang momen itu. Bagaimana pula Dita bisa lupa? Seumur hidup, baru pertama kali ia menyaksikan proses persalinan. Dita tambah syok, karena, sebagai perempuan, ia belum menikah. Juga belum pernah merasakan sakitnya proses melahirkan.

“Waktu itu menegangkan sekali. Karena si ibu melahirkan dengan metode gentle birth. Jadi ibunya bebas mondar mandir, lahiran sambil berdiri atau jongkok juga bisa. Akibatnya air ketuban berceceran di mana-dimana. Celah buat aku berdiri itu cuma sedikit karena bidan yang mendampingi saja ada enam orang,” ucap Dita kepada detikX saat menceritakan pengalaman perdana medokumentasikan proses persalinan.

Dita masih ingat, kedua tangannya gemetar hebat. Ia menarik nafas panjang dengan harapan agar bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya. Sedetik kemudian, Dita mulai mengembalikan kesadarannya. Ia mulai mengarahkan kamera dan menjepret satu demi satu adegan. Dita pulang dengan tatapan hampa, seolah seluruh energinya sudah terserap habis.

Faradita Meilinda (berjaket kuning)
Foto: Dok Nafas Pertama

“Habis handle klien pertama itu aku sempat trauma. Nafsu makan kayak tiba-tiba hilang aja. Makan daging nggak enak, walaupun aku makan makanan favoritku tetap aja bawaannya mules terus,” kata perempuan berusia 28 tahun ini.

Sudah setahun belakangan ini Dita memberanikan diri terjun ke bidang birth photography. Dita bekerja sebagai fotografer di jasa dokumentasi persalinan profesional bernama Nafas Pertama. Sejak tahun 2012, Dita mulai menggeluti bidang fotografi. Berbagai macam jenis foto sudah ia ambil, mulai dari foto untuk event maupun produk. Namun, baru kali ini Dita mengambil aliran yang cukup menantang baginya.

Selain skili mumpuni di bidang fotografi, fotografer di dunia persalinan dituntut untuk memiliki mental kuat guna menghadapi hal tak terduga saat mendokumentasikan klien dalam proses persalinan. Sudah ratusan kali Dita menjadi salah satu saksi penting dalam proses lahiran. Salah satu kliennya adalah pasangan selebriti Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, serta anak dari putra kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu Edhie Baskoro Yudhoyono.

Ketika pandemi Covid-19 sedang parah-parahnya, Dita menjadi ‘orang terpilih’ yang diperbolehkan menemani si ibu melahirkan. Selain dokter dan perawat, hanya Dita satu-satunya orang awam yang diizinkan masuk ke ruang operasi. Saat itu, suami dari si ibu bahkan tidak diperkenankan masuk.

“Buat aku itu jadi pride tersendiri. Rasanya wah banget. Sulit dijelaskan dengan kata-kata,” ungkap perempuan yang sehari-hari indekos di daerah Jakarta Selatan ini.

Pertama kali masuk ke ruangan operasi, lagi-lagi Dita dibuat merinding. Sebelum menjadi tim fotografi persalinan, Dita paling anti sama yang namanya rumah sakit. Dita masih terbayang dengan kecelakaan yang pernah ia alami sampai membuat Dita harus bolak balik rumah sakit.

“Aku pernah kecelakaan lumayan berat. Aku cedera di pelvis dan wajah sampai harus rekontruksi wajah berkali-kali. Aku masih hafal suasana dalam operasi. Belum lagi lelah mental karena harus bolak balik rumah sakit. Di sana isinya orang sakit semua, nggak ada yang happy,” kata Dita.

Foto pasangan Artis Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah beberapa saat pascapersalinan anak pertama.
Foto: Faradita Meilinda/Nafas Pertama

Ajaibnya, operasi caesar yang buat sebagian orang terlihat menakutkan malah berhasil membuat Dita melupakan traumanya akan rumah sakit. “Ternyata nggak semua ruang operasi semenyeramkan itu. Dokternya aja saat tindakan sambil dengerin radio, dengerin musik. Malah kalau habis dokumentasiin lahiran sekarang bawaannya happy karena melihat aura kebahagiaan mereka,” katanya.

Dita sudah ratusan kali menyaksikan ibu melahirkan baik itu secara normal maupun lewat jalur operasi. Tapi hal itu tidak lantas membuatnya takut dengan yang namanya proses persalinan.

“Kalau kapok, aku nggak bakalan lanjut foto, dong. Aku malah tambah kepengin. Kapan, ya, aku bisa merasakan bahagia seperti mereka juga? Happy banget waktu lihat suaminya menguatkan istri. Kira-kira nanti suamiku bakal kayak gitu juga nggak, ya?” imbuh Dita berangan-angan.

Di sisi lain, bagi Rizkia Larassati Noor, proses persalinan yang ia jalani adalah salah satu momen yang sangat berharga dan tidak bisa terlupakan. Apalagi proses untuk mendapatkan sang buah hati tidak ia lalui dengan mudah.

Perempuan yang akrab disapa Laras ini awalnya senang sekali karena langsung dikaruniai anak dua bulan setelah menikah. Tapi sayangnya, umur si jabang bayi ini tidak berlangsung lama. Baru 13 minggu, Laras terpaksa menggugurkan janinnya karena kondisi tubuhnya. Laras baru mengetahui jika dirinya mengidap Talasemia sekaligus mengalami pengentalan darah.

Ilustrasi foto persalinan
Foto: Istimewa/Dok. The He{ART} of Motherhood via Boredpanda

“Saya sempat stres karena kehilangan baby yang ditunggu-tunggu. Saya berobat ke mana-mana, pindah-pindah dokter ke sana ke sini, kena mental batin juga. Tiap ketemu dokter harus ambil darah terus,” ucap seorang ibu yang kini sudah dikaruniai dua anak.

Laras bisa kembali mengandung dengan syarat ia harus rutin mendapat suntikan obat untuk memperbaiki kondisi pengentalan darahnya. Di kehamilannya yang kedua, dibantu oleh suaminya dan di bawah pengawasan dokter, setiap hari Laras mendapatkan suntikan obat di area perutnya. Semakin mendekati hari persalinan, dosis suntikan itu juga ikut diperbanyak.

Begitu tahu Laras kembali mengandung, ia langsung menyewa jasa fotografer persalinan untuk mengabadikan momen berharga itu. Laras juga merupakan salah satu klien Dita.

“Aku kepengin ada foto dan video supaya nanti anak-anak bisa melihat perjuangan ibunya. Waktu itu aku cukup deg-degan soalnya momen ini nggak akan keulang lagi. Tapi proses fotonya cepet banget dan adegan penting yang aku mau dapet semua,” kata Laras. Proses kelahiran anak keduanya pun juga ikut ia dokumentasikan.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE