INTERMESO

Cerita di Balik Tren Foto Persalinan

Melahirkan menjadi salah satu momen langka dalam hidup seseorang. Sama seperti ulang tahun atau pernikahan, proses persalinan juga dirayakan dan didokumentasikan.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 17 September 2022

Sebuah fenomena langka terjadi di sebuah ruangan persalinan salah satu rumah sakit di Jakarta. Seorang bayi dikeluarkan dari dalam perut ibunya melalui jalur operasi dalam kondisi terselubungi kantung ketuban utuh. Dokter seperti sedang mengeluarkan telur berukuran besar dari tubuh sang ibu.  

Dengan lembut, dokter segera memotong kantung itu. Seketika air ketuban merembes keluar dan kantong perlahan menyusut. Sang bayi nampak seperti seekor anak itik yang sedang berusaha menetaskan diri dari dalam cangkang telur.

Fenomena yang kerap disebut bayi bungkus ini masih dianggap normal serta tidak membahayakan ibu dan bayinya. Kondisi kelahiran ini juga disebut kelahiran en caul dan hanya terjadi kurang dari 1 dari 80.000 kelahiran di Indonesia.

Sang Ibu menggunakan jasa dokumentasi persalinan profesional, sehingga momen langka ini terabadikan dengan dalam bentuk foto dan video. “Salah satu kejadian langka yang berhasil kita tangkap momennya,” ucap Rizka Anggreani, pemilik dari jasa fotografi persalinan bernama Nafas Pertama, kepada detikX.   

Melahirkan menjadi salah satu momen langka dalam hidup seseorang. Sama seperti ulang tahun atau pernikahan, proses persalinan juga dirayakan dan didokumentasikan oleh sebagian masyarakat.

Foto artis Natalie Holscher pascapersalinan anaknya.
Foto: Dok Nafas Pertama

Rizka menangkap tingginya minat para ibu-ibu untuk mengabadikan momen persalinan mereka. Ia pun akhirnya mendirikan Nafas Pertama di akhir tahun 2019. Ibu empat anak itu pelan-pelan mengumpulkan fotografer yang mengkhususkan diri untuk memotret kelahiran bayi.

“Kita bisa menciptakan pasar dan menjadikan foto persalinan menjadi sebuah kebutuhan. Yang tadinya tersier lama-lama ke depannya akan naik menjadi kebutuhan primer. Yang saya lihat polanya seperti itu. Selama ibunya kondisi keuangannya okey, mereka pasti merasa ini wajib,” ungkapnya. Nafas Pertama memiliki Jangkauan di Jabodetabek, Surabaya, Solo dan Batam.

Tren foto persalinan ini sebenarnya bukan barang baru. Di Amerika Serikat, tepatnya di Texas, birth photography dimulai sejak berdirinya International Association of Professional Birth Photographers (IAPBP). Organisasi yang digagas oleh Lyndsay Stradtner pada tahun 2010 ini, telah memiliki 1.200 anggota di 42 negara.

Di Indonesia, Rizka merasa permintaan akan dokumentasi proses persalinan semakin meningkat. Dan alasan mereka akhirnya memutuskan menggunakan jasa semacam ini pun beragam. Ada yang sekedar ingin narsis atau ingin ikut-ikutan artis dan idola favortinya.  

“Kadang permintaan mereka unik-unik. Ada yang request: pokoknya mau dibuatin foto dan video kayak Atta dan Aurel pas melahirkan. Tapi, kan, lahiran itu kita nggak bisa prediksi dan nggak bisa kita setting juga mau seperti apa,” kata lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Pasangan seleb Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah pernah menjadi klien Nafas Pertama. 

Rizka Anggraeni, pendiri jasa fotografi persalinan Nafas Pertama
Foto: Dok Pribadi

Namun, ada pula yang menginginkan dokumentasi persalinan karena alasan mengharukan. “Aku, kan, suka ngobrol ke customer. Kenapa mbak mau difoto? Mereka bilang penantian dapatnya 10 tahun, jadi ini wajib difoto. Atau ada yang sudah tiga kali keguguran, jadi pengin banget yang kali ini difoto. Jadi ada story seperti itu di belakangnya,” ungkapnya.

Di kalangan medis, fotografi persalinan ini masih belum sepenuhnya diterima. Di Jakarta sendiri, tidak semua memperbolehkan orang selain tenaga medis masuk ke dalam ruang persalinan. Biasanya hanya suami yang diizinkan masuk untuk mendampingi istri. Untuk itu, selain protokol kesehatan yang ketat, fotografer diwajibkan menandatangani surat perjanjian berisi hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama persalinan berlangsung.

“Setiap rumah sakit beda-beda peraturannya. Tapi intinya keberadaan kita tidak boleh mengintervensi pekerjaan mereka. Fotografer tidak boleh pegang alat medis. Tidak boleh pakai flash. Wajib pakai baju operasi, bahkan APD sampai engap banget rasanya,” kata Rizka yang dulu juga sempat ikut terjun memotret namun vakum karena baru saja melahirkan.

Seluruh fotografer di bawah naungan Rizka adalah perempuan. Namun, tidak semuanya sudah memiliki pengalaman melahirkan. Ada beberapa pula yang belum menikah. Untuk itu Rizka biasanya wajib memberikan pendampingan kepada fotografer yang hendak terjun ke rumah sakit atau klinik bersalin.

“Setelah trial ada yang mau lanjut, tapi ada juga yang nggak. Ada yang berhenti karena pekerjaannya memang nggak mudah dan menguras mental. Salah satu fotografer waktu itu mungkin trauma,” cerita Rizka. Fotografer itu mungkin sedang ‘apes’. Ia kedapatan mendokumentasikan proses persalinan di sebuah klinik yang ruangannya cukup sempit.

Artis Ananda Omesh dan istri pasca melahirkan yang didokumentasikan oleh Birth I'm With U
Foto: Instragram Birth I'm With U

“Karena ruangan sempit, jarak pandang dia terlalu dekat. Jadi dia bisa melihat proses lahiran. Waktu itu persalinan normal. Kelihatan dengan sangat jelas,” katanya. Dalam operasi caesar misalnya, fotografer hanya diperbolehkan mengambil posisi persis di samping kepala si ibu dan tidak diperbolehkan mendekat ke arah dokter yang sedang bekerja. Tindakan medis yang vulgar dan detil juga tidak didokumentasikan.

Selain Nafas pertama, banyak bisnis dokumentasi yang menawarkan jasa serupa. Salah satu di antaranya adalah BIMU alias Birth I’m With U. BIMU yang berkantor di Bintaro Sektor 9 ini tidak hanya menyediakan fasilitas fotografi persalinan, melainkan juga child birth education center seperti kelas persalinan, doulah dan yoga kehamilan.

Irma Rahmawati Syahrifat, pendiri BIMU malah memulai bisnisnya dengan membuka jasa doulah. Ini merupakan istilah untuk orang yang membantu dan mendampingi serta memberikan dukungan bagi ibu selama menjalani proses kehamilan yang cukup panjang

“Aku awalnya justru mulai jadi doulah. Di tahun 2015 baru ngembangin jadi foto persalinan juga. Profesi awal aku kan arsitek, lumayan suka foto, gambar. Energi seninya aku suka mengalirkan di foto. Di persalinan aku melihat satu peristiwa yang magis dan indah dan pengin aku capture,’ ucap lulusan Universitas Trisakti ini. 

Fotografer di ruang persalinan bagi Irma kerap bekerja layaknya hantu. Mereka harus bekerja tanpa disadari keberadaannya baik oleh si ibu dan tenaga medis yang ada di ruangan itu. Alasannya karena Irma tidak ingin merusak momen demi momen yang sedang berjalan dengan alami.

Foto bayi baru lahir
Foto: Fermont Fotografi

“Menurut aku dengan tren foto persalinan ini kita bisa meningkatkan awareness bahwa persalinan itu bisa beragam dan keberagaman itu yang harus kita embrace. Persalinan itu nggak selalu yang ditunjukin cantik-cantik. Tapi, ya, apa adanya. Ada yang awut-awutan, teriak-teriakan. Semua prosesnya terlihat raw dan amazing. Beauty dalam artian human being beauty,” ujar Irma.

Waktu menjadi hal yang paling tidak pasti dalam jasa bisnis fotografi persalinan ini. Untuk itu tim BIMU harus selalu siap dan stand by 24 jam. Irma dan timnya harus siaga jika menerima panggilan di saat sedang tertidur nyenyak. Terutama jika klien yang dilayani hendak melahirkan secara normal.

“Kita biasa datang ke persalinan itu di fase aktif supaya nggak lama-lama banget nunggunya. Kita dibekalin pengetahuan persalinan dan bisa membaca grafik CTG (Cardiotocography). Ibaratnya itu seperti maps dalam persalinan. Jadi kita bisa menghitung kira-kira kapan waktunya si ibu melahirkan. Perhitungan itu ada seninya dan diperlukan jam terbang,” ucapnya. 


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE